Wednesday, 21 June 2017

Sehat Sama Dengan Kaya

Sebuah refleksi diri oleh Wahyuddin MY

Sehat adalah harta yang tak ternilai harganya, lebih besar dari milyaran uang yang seseorang bisa miliki. Buktinya, jika sakit, dia tak akan bisa menikmati aneka makanan sedap yang telah disiapkan di atas meja oleh keluarganya. Jika sakit, dia tak bisa memakai mobil mewah yang terpakir di garasi rumah megahnya. Jika sakit, dia tak bisa bersenda gurau dengan keluarga dan teman-temannya.
Jangankan sakit keras, jari keseleo saja gak nyamannya luar biasa, apalagi jika sedang mengejar deadline tugas ribuan kata. Sakit gigi pun bisa bikin darah tinggi. Sakit leher karena salah tidur bisa bikin mengeluh seharian. Video di youtube pun susah ditonton kalau lagi sakit mata. Membaca pun menjadi tak lancar karena sakit tenggorokan. Dan sebagainya.
Sakit-sakit kecil seperti ini memang gampang terlupakan ketika sehat, tetapi baru terasa serius kalau sudah dialami. Misalnya, tersiksanya saat lagi beringus dan harus presentasi di dalam  kelas. Ditahan sulit dibuang berisik.
Untuk mengembalikan kesehatan dan kebugaran, seseorang tak pikir panjang mengeluarkan uangnya. Anggaplah seseorang tidak terlalu kaya, tapi dia kebetulan punya uang puluhan juta rupiah. Ketika sedang sakit dan membutuhkan pengobatan dengan biaya sebanyak tabungannya, saya perkirakan dia akan menghabiskan tabungan tersebut demi mendapatkan kesembuhan.
Itu baru puluhan juta. Kenyataannya, banyak orang sakit yang berkorban harta lebih dari itu demi mendapatkan kesehatan. Dan kita tahu bahwa uang yang dikeluarkan itu tidak menjamin adanya kesembuhan. Seandainya ada jaminan, pasti enak, karena kita bisa ukur dan hitung-hitungan. Namun tidak jarang terjadi, sudah membayar banyak tapi sembuh tak kunjung datang. Jadi jangan heran jika banyak orang kaya tiba-tiba jatuh miskin setelah sakit.
Jadi, jika anda sehat, maka anda sangatlah kaya, yang nilainya tak bisa anda hitung.
Jagalah kekayaan itu!
Dan jika anda seorang muslim, ucapkanlah alhamdulillah sebanyak yang anda bisa. Lalu gunakan kesehatan itu untuk hal-hal yang produktif.
Tapi jika anda sedang sakit, semoga anda diberikan kesembuhan (amin).
 

Sunday, 18 September 2016

The First Experience as An MC

Entah apa yang dipikirkan Raissa sehingga dia meminta saya menjadi MC dengannya di acara Language and Cultural Engagement Night, Adelaide University, yang akan dihadiri oleh sekitar seratusan mahasiswa. Padahal perawakan saya sangat berbeda dengan Afgan, meski saya akui suara saya ada kemiripan dengannya kalau dia menyanyi sambal kejepit pintu. Pembenaran Raissa adalah bahwa saya dan dia akan menjadi MC yang hebat karena sama-sama murid “kesayangan” Julia di kelas Qualitative Research, sehingga asumsinya, kami akan sukses.

Tapi masalahnya, bagaimana saya harus nge-MC di event berbahasa Inggris, sedangkan MC dalam acara berbahasa Indonesia saja belum pernah. Jika ini di dunia Naruto, MC adalah misi para ninja jounin, sebab bukan hanya harus berpenampilan menarik, tetapi juga harus berkelakuan “mengigit”. Ini layaknya saya disuruh berenang dengan dicelupkan langsung ke laut, tanpa didahului pengalaman berenang di kolam ikan, apalagi di kolam susu. Dan parahnya, jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia saya saja masih sering dikoreksi oleh teman-teman; contohnya jika saya bersyair “ember merah yang selalu memabukkan diri kuanggap, beelum sebeerapa…”.

 
Karena terus diyakinkan, akhirnya saya iya-kan juga. Meski kenyataannya ketika
tidur saya harus bermimpi jadi MC, ketika makan, nasi di piring saya bentuk menjadi tulisan MC, dan bahkan harus nonton youtube hanya untuk belajar cara anggun memegang mic. Untungnya, nama saya tidak dirubah menjadi Wahyuddin MC. “Tapi ini bukan tentang persolan menarik mengambil perhatian, ini adalah tentang berani mengambil resiko”. Saat mengucapkan kalimat ini, saya lagi nyudut di kamar mandi dengan guyuran air dari shower.

“Harus berani-lah” dalam hati saya. Lagi pula, siapa juga yang sangat peduli dengan fasih berbahasa. Pak Yusuf Kalla juga tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia, misalnya saat ber-semboyang “lebi cepa’ lebi bae’”. Apalagi Pak Jokowi, dia pun tidak terlalu hebat berbahasa Inggris, kecuali kalimat “I’m happy today” tentunya. Tapi terbukti, keduanya merupakan speaker yang sangat efektif.

Friday, 2 September 2016

Berikan Pesan Positif di Negara Orang

Ketika mengajar di sekolah dasar di pulau Gili beberapa tahun yang lalu, salah satu pulau yang sangat kecil nan terpencil di kabupaten Gresik, saya selalu berupaya untuk mengajak murid-murid saya ke luar pulau, khususnya ke Jawa. Tujuannya adalah untuk membuat mereka sadar bahwa Indonesia ini jauh lebih besar dari pulaunya, kemudian berinteraksi dengan siswa baru yang berlatar belakang berbeda dengan mereka; agama yang berbeda, suku yang berbeda, bahasa daerah yang berbeda, dan sebagainya. Belajar meradaptasi dan berdamai dengan perbedaan jauh lebih penting ketimbang belajar mata pelajaran formal di sekolah. Alasannya, mata pelajaran tersebut tidak selamanya terpakai ketika kelas selesai, apalagi pada masa depan ketika anak-anak telah dewasa. Misalnya, bukan hal aneh jika seseorang ketika kanak-kanak jago biologi, tapi ketika besar suksesnya menjadi musisi; atau anak yang nampaknya akan menjadi musisi, tetapi nyatanya menjadi politisi.

 

Lain halnya dengan perbedaan antar individu. Ketidaksamaan antara diri sendiri dengan orang lain akan selalu dialami oleh siapa pun selama dia masih bernafas dan tinggalnya tidak menyendiri di hutan belantara. Sayangnya, jika anak-anak yang tidak pernah diajarkan tentang aplikasi toleransi di sekolah dan di rumah, lalu suatu ketika hidup dan berinteraksi di lingkungan yang super heterogen, maka mereka akan merasa yang paling baik dan hebat dari yang lain; atau sebaliknya.

 

Pelajaran tentang menerima perbedaan sangat penting untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Memang benar bangsa ini telah hidup selama berabad-abad dengan semangat hormat-menghormati, bahkan sebelum kemerdekaan diproklamasikan, kita telah memiliki bahasa pemersatu untuk menyatukan banyak suku. Bangsa ini telah lama menerapkan management of differences atau mengelola perbedaan, jauh sebelum demokrasi dikumandangkan dalam sistem kenegaraan. Tapi juga perlu diingat, tak sulit kita jumpai orang yang mulutnya menerima perbedaan dan katanya menjunjung tinggi bhineka tunggal ika, tapi aksinya mematikan semangat toleransi.

 

Pesan Positif


Kembali ke persoalan mengajak anak-anak ke luar daerah, guru sebagai pembimbing dan memimpin rombongan harus memastikan bahwa siswa-siswa yang mereka ajak telah mengenal baik kampung halamannya sendiri sebelum mereka pergi. Dia harus yakin bahwa anak-anak memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang bisa dibanggakan dari daerahnya, yang akan mereka ceritakan dengan antusias kepada orang-orang yang mereka temui dalam perjalanannya. Jangan sampai mereka menjadi perantau yang tak kenal tanah asalnya, sehingga mereka hanya menganga mendengar kehebatan cerita orang, sedangkan mereka tak mampu bercerita tentang daerah asalnya sendiri.

 

Prinsip di atas bukan hanya terbatas kepada anak-anak SD yang melakukan study tour ke daerah lain, tetapi juga sangat relevan untuk mahasiswa-mahasiswa yang sedang menimba ilmu di luar negeri. Sebagaimana kita ketahui bahwa ribuan anak muda kita sedang dan akan belajar di universitas terkemuka di belahan dunia yang lain. Hal ini sebuah harapan, dimana kita punya kesempatan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Di lain sisi, mereka adalah duta bangsa yang akan mengabarkan kepada bangsa lain tentang bagaimana Indonesia sesungguhnya. Dengan demikian, mereka harus memiliki kualitas sebagai juru bicara yang baik, yaitu mampu menyampaikan informasi yang benar dengan cara yang tepat.

 

Karena mereka adalah pelajar, pesan ke-Indonesia-an akan mereka sampaikan lebih banyak dalam suasana akademis. Mereka akan dibawah pada situasi untuk menjelaskan masalah dan tantangan di Indonesia dalam bentuk diskusi, presentasi, maupun essai. Disaat itulah, mau tidak mau mereka harus berbicara tentang fakta masalah di Indonesia, misalnya tentang kualitas literasi dan enumerasi dibawah rata-rata, politisasi pendidikan, rendahnya kualitas guru, kurangnya partisipasi orang tua, korupsi yang merajalela, mirisnya sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.

 

Berbicara tentang buruknya Indonesia bukanlah sebuah hal yang terlarang, sebab tidak mungkin mereka berbicara mengenai negara lain yang mereka tidak kenal. Selain itu, mereka bisa mendapatkan feedback tentang solusi yang bisa diambil untuk mengatasi persoalan yang mereka kemukakan. Namun hal yang perlu diingat adalah selalu berhati-hati dengan generalization, yakni seolah-olah sebuah persoalan sebagai representasi Indonesia secara keseluruhan. Kenyataanya, Indonesia telah mencapai banyak perubahan yang sangat besar dan pesat, misalnya telah memiliki universitas yang berkualitas, tokoh yang berintegritas dan murid yang berprestasi, meski di beberapa daerah kondisinya berkata sebaliknya.

 

Pesan positif perlu disisipkan jika tidak ingin membuat mereka yang sebelumnya hanya tahu sedikit tentang Indonesia, menjadi tahu lebih banyak tapi hanya yang buruk-buruknya saja. Itulah mengapa sangat kurang adil ketika ada yang berbicara di forum internasional dengan bahasa asing yang fasih, tapi hanya tentang kondisi buruknya Indonesia. Mungkin itu benar, mungkin itu hasil riset. Fakta tersebut bukan untuk ditutupi, bahkan sebaliknya, sangat bagus untuk diungkapkan untuk membuka ruang berdiskusi. Namun jika lupa mengingatkan audiensi bahwa informasi itu hanyalah kasuistik, dan bukan representasi atas Indonesia secara keseluruhan, kebenaran kecil itu bisa mengaburkan kebenaran yang lain, bahwa Indonesia nyatanya telah mengalami banyak perubahan positif sejauh ini.

Tuesday, 12 July 2016

Kepekaan saat Bersosialisasi Online

Pada hari yang sama, di dua group yang berbeda, terdapat salah satu member group tersebut yang mengirimkan postingan yang mungkin bersifat dakwah keagamaan. Saya sebut mungkin karena kebenarannya masih bisa diragukan. Keduanya memang telah melakukan pola ini terus menerus dan konsisten pada konten serupa. Saya pribadi sama sekali tidak meragukan niat mereka untuk mengingatkan dalam hal kebaikan untuk sesama di group.

Respon member yang lain bisa ditebak. Ada yang berkomentar bagus, ada yang keberatan secara halus, dan ada yang tersinggung dan menjadikannya sebagai kasus. Namun ada pula yg mendiamkan tapi di group lain mempermasalahkan. Dan tidak sedikit yang tidak ambil pusing dengan hal ini sebab mereka mungkin tidak membacanya sama sekali.

Berkenaan dengan konten, saya kadang suka dengan postingan mereka, informasinya sangat membantu untuk refleksi diri. Beberapa diantaranya saya starred agar mudah dibaca kembali. Namun kemudian menjadi masalah ketika hal tersebut bisa menyinggung pemeluk agama lain. Hal itu wajar karena setiap orang juga akan tidak merasa nyaman jika ada member beragama lain, berpartai politik lain atau bersuku lain, lalu memposting sesuatu yang mengatakan bahwa agama, suku, atau partainyalah yang paling baik. Tentu saja setiap orang boleh atau bahkan mestinya mengakui miliknya itulah yang terbaik, bukan milik orang lain.

Maka standarnya tidak terlalu sulit, yaitu jangan melakukan sesuatu kepada orang lain yang kita sendiri tidak suka diperlakukan demikian. 100 persen agama saya yang paling diridhai Tuhan; yang lain pun mungkin mengatakan demikian. Tapi rasanya tidak layak mengatakan itu dalam sebuah komunitas heterogen dimana komunitas tersebut awalnya dibentuk untuk tujuan yang lain, bukan untuk membahas isu keagamaan. Di beberapa group yang punya konsensus membolehkan, maka beda lagi situasinya.

Tentang niat baik untuk saling mengingatkan dan berdiskusi adalah sebuah hal terpuji. Tapi sayangnya tidak selamanya yg kita anggap baik adalah baik dan yang kita anggap benar adalah benar. Kadang BC, link, video atau ads yang kita anggap seru, penting dan bermanfaat, tidaklah demikian menurut orang lain. Dan dalam konteks komunitas online, orang-orang lain tersebut kadang merasa niat mereka untuk bergabung ke group tidak diapresiasi karena seringnya menemukan postingan yang sangat jauh dari identitas komunitas. Akibatnya mereka hanya buka group untuk menghapus notifikasi atau akhirnya left group jika sudah gak tahan.

Group yang efektif tentunya harus memiliki komunikasi yg efektif pula, termasuk dalam merespon hal-hal yg dianggap tidak sesuai disimpan di group. Aturan formal tidak harus dibuat kecuali jika itu betul-betul dibutuhkan. Tapi sayangnya, aturan dan peringatan tidak selalu hadir untuk dipatuhi. Jika demikian kondisinya, apalah guna berdakwah jika ada saudara kita yang tersakiti hatinya. Pada hari penghakiman nanti, kita akan bertanggungjawab apakah kita adalah alasan orang lain semakin dekat dengan kebenaran atau malah menjauh dari Tuhan.

Tentang kejadian ini pula, saya semakin yakin betapa pentingnya kecerdasan emosional untuk kita miliki. Kecerdasan itulah yang membuat kita mampu membaca ketidaknyamanan orang lain atas apa yang kita lakukan, termasuk saat berinteraksi dalam komunitas online. Kecerdasan itu pula yang membuat kita bisa menelaah respon dan masukan dari orang lain. Karena apalah artinya giat memperingatkan, tapi ketika giliran diingatkan, malah tidak mengindahkan.

Salam,
WMY

"Tulisan ini dibuat sebagai refleksi berdasarkan pengalaman yang dikaitkan dengan mata kuliah yang baru saja selesai, online learning (pembahasannya termasuk online community/community of practice). Syukur awal semester lalu memutuskan mengambil mata kuliah yang seru ini. Pandangan lain dibolehkan di kolom komentar, siapa tau dari sana saya dapat inspirasi untuk tulisan teaching and learning festival UoA bulan ini :D"

Saturday, 9 April 2016

Berita di Sosmed (#reflective writing)



Ahaaaaa, break semester terhitung Senin besok telah tiba. Tentu asyiklah dapat libur selama dua minggu. Namun jangan sangka ini break for holiday, karena kenyataannya ini adalah break for study. Jadi dua minggu itu bukan untuk jalan-jalan ke Kangaroo Island atau ke Uluru di jantung gurun merahnya Northern Territory yang dipercaya telah berumur 700 juta tahun. Bagaimana tidak, tugas menulis dari tiga mata kuliah due date-nya dalam waktu tiga minggu ke depan. Sebenarnya, tantangannya bukan karena harus menulis ribuan kata untuk satu tulisan, tetapi bagaimana tulisan itu menggunakan referensi yang berkualitas. Harus dari buku dan jurnal-lah, yang terbarukanlah, dan dengan kriteria “layak kutip” lainnya. Kalau hanya nulis bebas, yah satu draft buku mungkin bisa jadi dalam satu bulan ini.

Tetapi namanya Mahasiswa, menulis adalah sesuatu yang biasa. Salah satu kegiatan produksi untuk akademisi adalah menulis. Namun yang saya pikir menarik dan kemudian menuliskannya disini adalah bagaimana harus mengutip sesuatu yang layak tulis. Si-dosennya selalu memperingatkan, katanya mahasiswa itu harus punya critical thinking, misalnya lihat dengan seksama literature suatu berita, apa telah di-review dengan baik atau tidak.  

Nah, menariknya adalah untuk urusan sekuler seperti ini saja, tentang hidrologi, biologi, gedung, perminyakan, behaviourism, dll, kita harus pakai critical thinking. Nah bagaimana dengan persoalan agama. Ini sengaja larinya ke agama, maklum-lah akhir-akhir ini sering ikut kajian mingguan KIA. Awalnya karena motif ingin makan, tapi akhirnya sadar juga bahwa belajar agama itu penting :).  Dan katanya menyampaikan nasehat keagamaan itu adalah misi kenabian.

Nah kebetulan pertemuan tadi pak ustad-nya bacakan surat Al Hujurat (49:6). Artinya di tafsir saya “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”. Dari ayat ini, ternyata apa yang disyaratkan dalam kegiatan penalaran dalam dunia akademisi juga diperintahkan untuk umat muslim, yaitu “critical thinking”. Jadi kalau ada berita harus dilihat baik-baik dulu baru diterima, apalagi disebarluaskan. Hal itu bisa dilakukan dengan double check, tanya langsung ke orang yang diberitakan, dengan mengkritik sumber berita, dll. Kata pak ustad, itulah alasan mengapa sanad dalam ilmu per-hadist-an sangat penting. 

Beberapa hari yang lalu, dalam kuliah tentang Online Learning saya bilang bahwa salah satu aspek negative-nya social media adalah banyaknya berseliweran hoax and hate speech. Nah tak sedikit itu bicara tentang agama. Terus, parahnya adalah beberapa users hobinya share saja berita sejenis itu tanpa yakin berita itu benar, yang mungkin karena senang saja denga isi beritanya. Padahal kadang berita itu dari “blogspot” yang bicara tentang agama, yang tak jarang meng-salah-kan salah satu orang atau golongan tertentu. Nah kalau sumber dari situs-situs blogspot itu saya gunakan untuk referensi untuk thesis saya nanti, yang notabene-nya tentang sekuler (maksud saya duniawi), mungkin si Mr/Mrs supervisor saya akan melempar tulisan saya itu. 

Lalu bagaimana dengan bidang lain, politik misalnya. Lebih parah kayaknya! 

Sebagai refleksi mingguan saya, jangan-jangan saya telah menyebarkan sebuah berita yang saya pikir benar padahal tidak benar, dan itu telah membuat orang lain dirugikan. Akhirnya hal itu membuat saya menyesal gara-gara tidak memeriksa dengan teliti seperti yang disuruh-kan dalam ayat tadi. 

Terima kasih untuk kajian dari H. Sukendar, MA (Phd Candidate Flinders Uni).

Sunday, 27 March 2016

10 Powerful Android Applications for Mobile Learning

10 android applications that are very useful for mobile learning are showed below. I have been using those applications for my learning purposes. The information of application details is taken from https://play.google.com/store.

1. Blogger

Blogger is a free app to create and manage blogs, an online personal diary/journal, namely writing a post, saving and publishing it, editing currently posts and embedding images to the posts. I use Blogger for learning such as writing self-reflection of the course, paraphrasing the materials, or just sharing my ideas about education. For example, I wrote a reflective essay entitled “My Learning Improvement during The Course” on my blog, http://wahyuddinmy.blogspot.com.au/. I think Blogger provides Bloom Taxonomy of Understanding, Analyzing and Evaluating since I can discuss, explain, summarize, interpret, compare, contrast, criticize, argue and verify the topic of the course.

2. Merriam-Webster 

Merriam-Webster is a free app to look for English word definition, synonyms and antonyms. It has features of voice search, example sentences, audio pronunciations and “word of the day” and can be operated despite no internet connection. I use the app for vocabulary building and seeing collocation. For example, if I want to know how an English word is appropriately used, I will read the word use in example sentences on the app. Meanwhile, the app supports Bloom Taxonomy: Remembering (because I can repeat and memorize words) and Understanding (because I can compare and interpret the use of the words). 

 3. English Synonyms Dictionary

This app is a free and offline English synonym dictionary, containing 8,500 synonyms with sound. The user just types a word on search feature, then the app will display its synonyms. I use the app to paraphrase my sentence. In doing an essay, for example, I should paraphrase the statement that I cite to avoid a lot of similarities detected by Turnitin by using synonyms.   In term of Bloom Taxonomy, the app helps learners in Remembering (because they repeat, list and memorize words) understanding (they compare and interpret the words), and applying (they use the words in writing and speaking).

4. Survey Monkey


This free app is intended for creating a survey, then sending it out via email, text, or social networks. Moreover, the app allows users to compare and analyze survey results in real time, then display the data in charts and tables. For me, this is a wonderful application to learn and conduct research. For example, I apply it to investigate my student satisfaction regarding my teaching. I think the app is helpful for Remembering/Understanding (learners list and classify indicators), Applying (they demonstrate research methods), Analyzing (they distinguish participants), Evaluating (they measure results) and Creating (they formulate, design and organize survey).

5. WhatsApp 

WhatsApp is a no-fee app and uses internet connection to send and receive text messages, free-calls, photos, videos, documents, voice messages, location and contacts. Moreover, it can bookmark the important messages, save chat history and broadcast messages. In terms of learning purposes, I use its Group Chat to interact with my classmates. For example, I discussed and debated about assignment 1 of Research Design with my classmates last semester in WhatsApp group chat. In my opinion, WhatsApp provides all Taxonomy Bloom levels: Remembering (reproduce), Understanding (explain), Applying (discuss), Analyzing (criticize, question), Evaluating (debate, argue, verify) and Creating (rewrite).

6. CM Browser

CM Browser is a free android app for browsing. To operate it, its users just open the app then type key words of information that they want to find out. The app is embedded with personalized bookmarks so that they can mark the important page and easily to revisit it in the future. I personally use CM Browser for my education activities such as browsing the information or seeing course information on MyUni. I think that CM Browser is a good way for Remembering in Bloom Taxonomy because learners can operate it to select and identify the information they need.

7. IELTS Flashcards

IELTS can be effectively learnt by using this free app. The app helps learners study faster by showing 2,000 premade flashcards from Achieve IELTS, Reading, Writing, Advance Vocabulary and General Vocabulary, making the learning process more exciting and fun. It was very beneficial for me in learning IELTS in 2015. In that time, one of my teacher feedback was I used to write common vocabulary in writing. By using the app, I could remember some advance vocabulary and applied them in my writing. The app helps learners remember (reproduce, write, select), understand (classify), apply (apply), Evaluate (select) and Create (rewrite). 

8. ColorNote

ColorNote is a free notepad app containing two note taking formats. Firstly, a Lined-Paper Styled Text Option allows users to type, save and edit words as many characters as they want. Secondly, a Checklist Option is listing items. After the list is saved, the users can check or uncheck each line. I personally use the app for taking note and listing learning activities to do. For example, while teacher is explaining the materials, I summary the information via text option. Bloom Taxonomy levels in this app are Remembering (learners list, memorize, and write) and Understanding (learners paraphrase and summarize information).

 9. TED

TED is a free and ideal app to watch talks from a lot of the world’s most fascinating and inspiring people. We can choose the video based on topic such as education, adventure, advertising, animals and many more, with subtitles in over 90 languages. For me, I use the app to build my vocabulary, develop my pronunciation and acquire new ideas in education sector. For example, I got a new insight about education after watching Ken Robinson “Do Schools kill creativity?” Bloom Taxonomy levels supported by this app are Remembering (recite and repeat), understanding (interpret), applying (illustrate) and analyzing (criticize).

10. YouTube  

YouTube is a free app for watching, commenting and sharing videos. Just open the app, then type the key word(s) of videos wanted to access. I use the app for learning especially when I need a tutorial. For example, last semester in Quantitative Research course, I used to misunderstand teacher’s explanation about SPSS such as how to conduct regression analysis. To solve that, I watched SPSS tutorial on YouTube, and I repeated it again and again until I got it. YouTube can assists learners in remembering, understanding and applying because they can repeat, discuss and demonstrate something they watch.

>