Sunday, 20 August 2017

Perbandingan untuk Perubahan


Postingan ini adalah yang pertama di wahyuddinmy.com sejak selesai studi di Adelaide, dimana saya akan mengutarakan sebuah perbandingan kecil antara Adelaide dan kampung saya, yang mungkin saja juga terjadi di kampung lain di Indonesia. Nggak durian to durian dong? Yah lihat dulu lah.

Thursday, 27 July 2017

Teruslah Berdoa (Sebuah Refleksi Diri)

Saya percaya bahwa ada waktu-waktu mustajab untuk meminta kepada Allah. Tapi secara personal, ada dua waktu yang membuat saya sangat khusu’ dalam berdoa, yaitu pada detik-detik menjelang berbuka puasa dan pada detik-detik setelah men-submit tugas kuliah.

Pada saat ingin berbuka puasa, saya sangat kelaparan dan kehausan. Ini wajar karena puasa adalah menahan lapar dan haus – kalau tidak lapar dan tidak haus, apanya yang mau ditahan.

Tuesday, 25 July 2017

Korelasi Sepak Bola dan Ambulance

Pernah saya katakan bahwa sehat sama dengan kaya, sebab ketika sakit, posisi kesehatan dalam list prioritas berada di atas harta kepunyaan, bahkan mungkin dari semua daftar keinginan. Itulah yang saya rasakan ketika sakit di Australia Selatan. Cukup parah dalam ukuran saya, sehingga saat itu saya harus di bawah ke rumah sakit menggunakan dua ambulance. Anehkan? Padahal kalau satu saja cukup, kenapa harus menduakan.

Putra Botteng Meraih M.Ed di the University of Adelaide, Australia*

Banyak orang berpikir bahwa kesuksesan pendidikan anak hanya ditentukan oleh peran guru di sekolah. Ketika seorang siswa memiliki performa akademik di bawah harapan maka yang paling mudah disalahkan adalah gurunya. Padahal, keberhasilan pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh aktor-aktor pendidikan yang lain khususnya orang tua murid. Sayangnya, peranan orang tua dalam pendidikan sering diabaikan termasuk oleh para pemangku kebijakan. Padahal, kontribusi aktif orang tua dalam pendidikan formal akan terwujud apabila pemangku kebijakan merencanakan dan memprogramkannya dengan serius.

Sunday, 16 July 2017

Alasan Saya Butuh Mobil di Adelaide

Mobil ini akhirnya sedang dijual. Bukan karena mesinnya tak kuat, umurnya yang tua, atau kondisinya yang tak karuan. Tapi ini semata-mata karena selesainya waktu kuliah sehingga saya siap kembali ke Indonesia. Harapannya, saya bisa ikut menambal persatuan.

Mobil ini bandel dan lincah. Alhamdulillah tak pernah mogok selama dipelihara, meski pernah tak bisa di-start karena lampunya berjam-jam menyala akibat sopirnya yang tergesa-gesa. Tergesa-gesa memang sering membuat kita lupa. Tapi setelah di-charge semuanya normal seperti sedia kala.


Thursday, 13 July 2017

Pergi Tarwih Dikasi Nasi

Seorang Arab, pengelola buka puasa-bersama di Flinders University sudah menawari nasi kepada banyak orang sejak selesai buka puasa, tapi tidak ada yang mau ambil. Akhirnya dia simpan saja di atas meja.

Pada saat selesai rakaat empat shalat tarwih, saya pindah tempat. Kebetulan ada shaf kosong disamping kiri orang Arab tadi. Tiba-tiba dia nepuk lutut saya, dan menawari nasi.

Komentator Awam untuk Pembicara Exper

Quraish Shihab* belajar Al-Quran selama 68 tahun, bergelar professor dan doktor dengan tulisannya yang dibaca banyak orang. Tentunya bukan gelar dan karya abal-abal. Beliau menghapal Alquran dan hadist; bisa bicara, menulis dan memahami bahasa Arab.

Hampir sama dengan banyak ustadz yang belajar di pesantren bertahun-tahun, ditambah S1 empat tahun, S2 dua tahun dan S3 empat tahun di bidang ilmu islam. Itu pun kalau tanpa extension.