Sunday, 10 June 2012

Belajar di Kesunyian Situlembang

Minggu, 10 Juni 2012 Pelatihan Intensif Pengajar Muda IV IM dinyatakan selesai, dan kami pun dinyatakan bukan lagi sebagai calon, tetapi sudah menjadi pengajar muda, asyeek. Penutupan dilaksakan di area latihan Kopassus di Situlembang, Cimahi, Jawa Barat. Sebuah daerah sunyi dan tenang. Udaranya sejuk dan pemandangannya indah. Disana kami melaksakan Pelatihan Fisik dan Mental yang dilatih oleh Kopassus. Catatan ini pun saya tulis dalam keadaan kurang fit akibat dari ketatnya agenda pelatihan.
Kami berangkat dari Wisma Indosat Purwakarta dan tiba di Situlembang pada hari Rabu, 5 juni 2012 sekitar pukul 11.00. Memasuki pintu gerbang Situlembang, perasaan saya sangat senang; lingkungan masih sangat terjaga. Saya membaca papan-papan yang berisi kalimat-kalimat menggugah rasa nasionalisme.

Udara di situlembang yang dingin tidak menghalangi para Pelatih bertopikan Komando dan berbaret merah menyambut kami di pintu gerbang kedua; dipintu gerbang tersebut tertulis “anda ragu-ragu, kembali sekarang juga”. Tulisan yang sama kami baca dengan keras dan serentak saat pelatihan pertama di Pusdikpassus, Batujajar. Kalimat itu untuk mempertegas bahwa tak boleh ragu untuk mengikuti pelatihan, mungkin karena pelatihannya sangat berat. Tentu saja kami tidak akan kembali, selain karena kami memang tidak ragu-ragu, yang mengantar kembali juga belum tentu ada. Jadi lanjuuut...

Hari itu tak banyak agenda, karena pembukaan latihan baru akan dilaksanakan pada hari Kamis. Kami hanya melakukan pembersihan, pengenalan lokasi, dan mandi bagi yang mampu. Malamnya kami kebanyakan bercerita di tenda pleton putra, siswa perempuan pun demikian. Sesekali saya keluar tenda dan memandangi siluet rangkaian gunung-gunung yang mengelilingi kami, diantaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu yang selama ini hanya saya tahu dari buku pelajaran. 

Setelah shalat Isya kami menunggu waktu apel malam, namun karena hujan akhirnya apel malam tidak dilaksakan. Kami hanya mendapatkan beberapa pengumuman dari pelatih di barak/tenda, diantaranya tentang jadwal piket, jadwal jaga serambi, dan waktu kumpul di esok hari.  Pelatih memperingatkan dengan keras bahwa jaga serambi harus serius, dilaksakan oleh dua orang dengan pakaian PDL lengkap, tidak boleh duduk, dan tetap konsentrasi menggunakan mata dan telinga. Khawatirnya ada teman yang berjalan sambil tertidur atau tertidur sambil berjalan, lalu nyemplung ke danau dan akhirnya kami berkurang. Juga khawatir jumlah kami lebih dari 33 orang (laki-laki) sehingga bingung harus mengurangi siapa. Kalo dilanggar maka semua siswa harus berendam di danau. Alamak, berwuduh saja rasanya susah karena kedinginan apalagi harus direndam di danau subuh-subuh. J Selain itu, jika akan pergi misalnya ke kamar mandi atau mushalla, maka wajib hukumnya berdua. Mereka menyebutnya dengan body system, yang belakangan saya tahu bahwa itu adalah istilah dari Abah Iwan.

***
Kamis pagi dilaksanakan pembukaan latihan fisik dan mental di lapangan tembak Komando. Tak ada rumput, yang ada hanyalah lumpur yang bertambah gembur oleh sepatu-sepatu PDL kami. Upacara dilaksanakan ala militer; saya rasakan sensasinya dengan imajinasi sebagai prajurit Komando :D. Setelah upacara selesai, terdengar perintah melepaskan kopel dan topi; dalam hitungan ketiga, semua siswa tiarap di lumpur, dan kami pun merayap. Waaaaoooowww... Saya merayap dengan semangat; saya menikmati lumpur-lumpur yang serasa es menembus pakaianku. Kami lanjutkan tarian lumpur itu dengan guling-guling dan jalan jongkok. 
Setelah itu kami melakukan pembersihan di danau. Dinginnya Air yang mengalir dari perut gunung Tangkuban Perahu tak kami hiraukan, hingga mengisi sepatu-sepatu kami. Kami bernyanyi dengan keras, hingga membuat air dingin itu tak mampu mendinginkan kami J Inilah prosesi penyatuan kami dengan alam, ala Situlembang tentunya. Kami menyatu dengan alam dan mudah-mudahan alam menerima kami. Maaf jika ada yang namanya alam!

Setelah itu kami berjalan kaki. Semua kami lakukan dengan cepat, tepat, dan tetap rapi. Hitungan adalah sesuatu yang biasa, bahkan saat makan. Kami berlomba dengan waktu dan tidak boleh menyia-nyiakannya. Begitulah waktu itu sangat berharga. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

”Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan.” (QS Al-Baqarah: 148).

Kata ‘berlomba-lombalah’ disini berarti kita harus menggunakan waktu seoptimal mungkin.

***
Agenda hari Jumat adalah survival di hutan. Latihan ini dilakukan agar kami dapat bertahan hidup dengan segala keterbatasan, dapat berupa bertahan dari keterbatasan makanan, cuaca, ataupun dari binatang buas. Sebelum kami dilepas ke hutan, maka terlebih dahulu kami dibekali dengan teknik-teknik survival.
Kami diberitahukan tentang tanaman yang bisa dimakan dan yang tidak boleh dimakan alias beracun. Di hadapan kami telah disiapkan contoh-contoh tanaman tersebut. Pelatih menjelaskan tanaman-tanaman itu satu demi satu, hingga memakan langsung tanaman yang dapat dimakan. Sebuah metode pembelajaran yang konstruk. Beda dengan metode pembelajaran yang masih mudah kita temukan di sekolah-sekolah kita, tidak konstruk. Bahkan skill ingin dicapai dengan metode ceramah.

Metode pelatih ini membuat kami tidak ragu-ragu menyerbu dan mencicipi tanaman yang dapat dimakan. Tanaman-tanaman itu terasa aneh dan memang tidak mengenyangkan, tetapi paling tidak dapat mengganjal perut dan memperpanjang usia harapan hidup di hutan. Sekali lagi untuk bertahan hidup, so jangan pedulikan rasanya. Sementara itu, dibelahan gunung lain yang tidak jauh dari kami, siswa komando sedang berlatih dengan menggunakan peledak dan peluru tajam. Hutan saat itu bergemuruh oleh suara ledakan dan tembakan, serta pekikan suara semangat prajurit Komando.

Setelah itu, maka tibalah saatnya pengenalan ular. Bukan berarti kita berkenalan dengan ular, akan tetapi kita diperkenalkan dan mempraktekkan cara menangkap ular yang baik dan benar. Di depan kami telah terdapat sekitar lima ekor ular, diantaranya ada ular cobra yang memiliki bisa yang sangat mematikan.

Menangkap ular membutuhkan tongkat bercabang untuk menjepit kepala ular. Prinsip menangkap ular adalah mengamankan kepalanya terlebih dahulu, karena sumber gigitan dan bisa ular ada di kepalanya; bukan di ekor. Makanya jika menangkapnya juga harus dari belakang ular. Setelah terjepit, barulah kepala ular ditangkap dengan tangan. Kepala ular yang dipegang jangan diarahkan ke diri sendiri ataupun orang lain, sebab ular tersebut dapat menyemburkan bisa.

Setelah itu, dilakukan penyembelihan ular. Tentu saja untuk dimakan, dapat direbus, digulai, digoreng, atau dipanggang; tergantung selera. Ular yang tertangkap disimpan hidup-hidup dalam karung jika tidak langsung dimakan, tetapi jika ingin langsung dimakan maka dapat disembelih. Penyembelihannya sama dengan hewan-hewan yang lain, yaitu dengan menyembelih dekat kepala. Akan tetapi, mulutnya harus diikat terlebih dahulu, agar bisanya tidak menyembur keluar. Setelah ularnya mati, kepalanya dipotong dan kulitnya ditarik dari kepala ke ekor, dan anda akan menemukan daging ular mati tetapi masih bergerak. Kepala ular tersebut tidak boleh dibuang sembarangan, sebaiknya dibakar sebab kepala yang terpotong tersebut masih mengandung bisa dan dapat melukai manusia.

Saya tidak memakan ular yang telah dipanggang. Ada dua alasan mengapa saya tidak mau memakannya yaitu pertama alasan keyakinan saya sebagai muslim yang tidak memperbolehkan memakan ular. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

"Sesunguhnya Allah telah mengharamkan setiap binatang buas yang bertaring dan burung yang menangkap dengan cakar." (HR. Muslim).

Dalam hal ini, ular khususnya ular yang berbisa adalah binatang buas dan membahayakan.
Alasan yang kedua adalah saya merasa jijik dengan ular. Jangankan memakannya, melihatnya saja saya merasa “geli” dan jijik. Hal ini pun sesuai dengan firman Allah swt:
“Dan ia menghalalkan yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk (menjijikkan)." (QS Al A'araf: 157).

Secara umum pun di Indonesia, ular dianggap sebagai hewan yang menjijikkan. Sesuai sabda Rasulullah SAW:

"Lima binatang fasiq yang boleh dibunuh baik sedang berada di tanah halal atau tanah haram, yaitu: ular, burung gagak berwarna belang, anjing gila dan elang." (Riwayat Muslim).

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hikmah dijulukinya sebagai binatang fasiq adalah dikarenakan binatang-binatang tersebut menyelisihi keumumam binatang melata lainnya, dalam hal kehalalan atau larangan membunuhnya, atau kebiasannya yang mengganggu manusia. Wallahualam!

***
Sabtu itu sangat dingin. Setelah sebelumnya menginap di hutan dengan hanya menggunakan kemah dari ponco sambil diguyur hujan deras hingga subuh, beserta makanan yang harus kami cari sendiri di hutan. Saya bersyukur telah melalui tahap tersebut.

Kami melanjutkan survival berjalan di hutan mulai pagi itu. Terlebih dahulu setiap kelompok harus mencari bekal komsumsinya yang telah disimpan oleh pelatih di hutan. Kami hanya diberikan kompas prisma dan data koordinat. Saya yang tergabung dalam kelompok 10 mendapatkan data koordinat dengan sudut 1000 dan jarak 70 m, akhirnya menemukan target setelah mengaplikasikan pengetahuan tentang navigasi darat. Jangan bayangkan kami menemukan nasi kotak, yang ada hanyalah beras sekitar satu gelas, sepotong ubi kayu, dan sebuah ubi jalar untuk bekal perjalanan sampai esok hari. Hati ini sangat bergembira.

Kami berjalan menelusuri hutan Kopassus yang sangat lebat, melintasi jalanan buatan berlumpur, jalan setapak yang sempit, menyeberang sungai yang dingin, hingga mengelak tanaman berduri. Semua kami lakukan dengan tetap waspada, saling menjaga, dan mengamati sekitar jalan, mungkin saja ada makanan yang bisa kami makan misalnya jantung pisang monyet.

Setelah berjalan sekitar dua jam, kami beristirahat. Kami memasak makanan kami dengan menggunakan kompor berbahan bakar parafin. Air untuk masak kami ambil dari sungai kecil yang mengalir tak jauh dari tempat kami beristirahat. Setelah matang, kami memakannya secara berjamaah dengan upacara ala Komando. Sangat mengagumkan, ubi yang kami makan itu terasa sangaaaaaaaaaaaaaaaatt enaaaaaak. Saya merenung, kemarin ubi yang sama kami acuhkan saat masih di Purwakarta.

Sekitar 30 menit kami istirahat dan melanjutkan perjalanan, hingga tibalah kami di pinggir danau. Danau yang sangat indah dengan ikannya yang berwarna merah sering muncul ke pinggir dan permukaan danau. Disinilah kami kembali memasak beras untuk makan siang. Setelah shalat dluhur, kamipun melanjutkan perjalanan di air dengan menggunakan perahu karet. Kami mendayung diatas danau yang katanya sepanjang 3 km. Kami pun sampai diseberang danau dan mendirikan kemah dari ponco.

Perjalanan hari itu sangat bermakna. Mayoritas diantara kami hidup di kota dengan makanan yang cukup enak, beraneka ragam warna dan rasa. Dan saat itu kami hanya memakan singkong yang sedikit, satu warna, serat kayunya sudah terasa, dan hanya berbumbu garam, dimasaknya juga susah. Disini saya belajar bahwa makanan apapun harus dihargai; dan akan tetap terasa nikmat jika kita mensyukurinya. Dan anehnya, karena rasa syukur itu, selain terasa nikmat, saya merasakan adanya kebahagiaan dan ketenangan. Olehnya itu, marilah kita selalu bersyukur kepada Allah SWT sebagaimana yang diperintahkannya dalam Al-Quran:

"dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS Luqman: 12).

Bersyukur berarti kita menyadari dan merasakan keindahan karunia Allah SWT yang kita dapatkan. Kita dapat menunjukkannya dengan menjalankan perintah Allah SWT. Bahkan mengakui bahwa itu pemberian Allah adalah bentuk rasa syukur. Jadi dengan bersyukur, kita telah berlaku adil terhadap diri sendiri dan dampaknya akan kembali kepada orang yang bersyukur, apakah ditambahkannya rezeki berupa materi yang lain, atau berupa ketenangan. Walaupun kita tidak bersyukur pun, Allah SWT tidak akan berkurang kekayaannya. Dalam ayat yang lain dinyatakan Allah SWT berfirman:

“‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedi.” (QS Ibrahim: 7).

***
Malam minggu hingga minggu pagi dini hari adalah malam bersejarah. Disinilah kami dikukuhkan sebagai Pengajar Muda angkatan IV, menjadi bagian dari keluarga besar Indonesia Mengajar. Upacara pengukuhan dilakukan dalam sebuah upacara dimana Bapak Anies Baswedan selaku pendiri Gerakan Indonesia Mengajar bertindak sebagai inspektur upacara.

Kami mengalami detik demi detik acara pelatihan dengan kesabaran. Acara yang sangat sakral; pakaian kami basah dan berlumpur, sepatu terisi air, dan tetap dalam berdiri. Hingga pada puncaknya, Pak Anies menyerahkan sertifikat kelulusan kepada kami satu persatu. Tiga pesan yang beliau sampaikan kepada saya saat mendapatkan giliran mengambil sertifikat di depan yaitu: tetap semangat, jaga stamina, dan jaga nama baik Indonesia Mengajar. 
Pesan tersebut sangat penting. Semangatlah yang membuat kita mampu bergerak dalam mencapai sebuah harapan. Semangatlah yang membuat kita bersungguh-sungguh dalam bekerja. Jika tidak ada semangat, besarnya potensi kita tidak akan berguna.
Saya harus selalu bersemangat khususnya saat penugasan satu tahun nanti. Saya hadir untuk mengajarkan pentingnya harapan kepada anak-anak di pelosok sana. Maka bagaimana mungkin saya dapat melakukannya jika saya sendiri telah berputus asa. Saya yakin bahwa Allah selalu bersama kepada orang-orang yang bersemangat dan optimis, sebagaimana firmannya dalam al Quran:

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A'raf: 56).

Stamina juga sangat penting dalam bekerja. Menyeberang lautan menuju dan dari pulau Gili membutuhkan stamina, mengajar butuh stamina, berinteraksi butuh stamina, dan shalat pun butuh stamina yang kuat. Oleh karena itu, menjaga stamina adalah sebuah kewajiban. Sebaliknya, kita jangan sampai melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak tubuh dan pikiran yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.

Pesan yang ketiga adalah jaga nama baik Indonesia Mengajar. Ini sangat penting, sebab dengan status sebagai Pengajar Muda, gerak langkah saya khususnya selama bertugas akan berkaitan dengan Indonesia Mengajar. Disinilah peran penting Pengajar Muda dalam menjaga nama baik, bahkan lebih dari yang ada di Jakarta. Saya berdoa kepada Allah SWT, agar diberikan kekuatan menjaga nama baik itu, dan melewati tantangan yang ada didepan saya.


  

 
Post a Comment