Monday, 4 June 2012

Review Pelatihan Intensif Pengajar Muda IV

Hari ini adalah awal minggu ke tujuh Pelatihan Intensif Pengajar Muda Angkatan IV Indonesia Mengajar. Sesingkat ini, telah banyak cerita bersama dengan calon Pengajar Muda lainnya. Sayang baru dapat menulis di blog karena selama ini memang kami diisolisir di Wisma Indosat, Purwakarta. Maksud saya diisolisir sebab calon Pengajar Muda hanya boleh keluar dari area pelatihan pada hari Minggu, itupun jika tidak ada agenda pada hari Minggu, sedangkan untuk akses internet baru diperoleh pada minggu kelima.

Walaupun catatan ini saya tulis pada pekan ketujuh, saya akan memulai cerita saya pada hari pertama pelatihan, tepatnya pada tanggal 23 April 2012 di Wisma Handayani, Jakarta. Hari itu saya datang terlambat, sehingga tidak sempat melakukan registrasi bersama dengan CPM lainnya di kantor IM, Jl. Galuh Jakarta. Saya tidaklah sendiri, sebab saya bersama dengan Darul dan Agung yang keduanya adalah sesama CPM yang berasal dari Makassar. Sayapun mendapat telepon dari IM yang bertanya tentang lokasi kami bertiga.

Kami pun tiba di kantor IM setelah sebelumnya berputar-putar mencari alamat bersama dengan supir taksi. Tak ada lagi CPM di tempat itu, semuanya telah berangkat ke Handayani. Kami melihat beberapa orang laki-laki menaikkan koper dan career CPM ke atas truck yang akan segera dibawa ke Purwakarta. Kami pun disambut oleh orang IM, dan meminta kami melengkapi persyaratan administrasi.


Hal yang sangat berkesan saat itu adalah saat kami bertiga mengisi form registrasi di salah satu ruang rapat di kantor itu. Disaat kami sedang asyiknya menulis, tiba-tiba saya mendapat tepukan dibahu saya dan mendengar sapaan untuk kami. Spontan kami menoleh, daaaaaannnn.... ternyata beliau adalah Pak Anies Baswedan,  sosok yang menurut saya adalah salah seorang role model di negeri ini. Saya tidak menduga secepat semudah itu bertemu dengan beliau; bagi saya beliau adalah orang hebat. Saya pun menyambut salam sapa beliau dengan senyum sumringah walau tak dapat berkata banyak. Saya mengatakan pada teman-teman saya bahwa itu adalah tepukan bersejarah yang saya dapat pada hari itu. 

***
Di wisma Handayani dilaksanakan opening ceremony oleh Pak Hikmat Hardono selaku Direktur Eksekutif IM beserta Pengenalan Gerakan IM oleh Pak Anies Baswedan. Saat itu saya sangat khusuk menyimak hal yang disampaikan oleh mereka berdua dalam sambutannya. Bahkan saya merasa tak ingin berkedip menyaksikannya. 

Perkataan pak Anies yang terus mengiang diingatanku adalah ketika ia mengatakan bahwa tidak banyak anak muda yang mau terjun ke daerah terpencil untuk sekedar menjadi guru. Menjadi Pengajar Muda bukanlah sebuah pengorbanan, tetapi menjadi Pengajar Muda adalah sebuah kehormatan. Hal ini adalah upaya melunasi janji kemerdekaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Keberadaan Pengajar Muda diharapkan mampu mengisi kekosongan guru berkualitas di daerah terpencil.

Selain itu, menjadi Pengajar Muda berarti mengikuti sekolah kepemimpinan selama satu tahun. Selama itu, mereka akan terus belajar untuk bekerja dengan keikhlasan/ketulusan, rendah hati, pantang menyerah, sabar, dan sebagainya. Setiap hari adalah proses pengambilan keputusan. Karena tugas tersebut sangat berat, maka orang-orang yang akan menjadi Pengajar Muda adalah orang-orang "pilihan". 

***
Saya merasa agak minder pada hari itu, sebab saya berpikir bahwa orang-orang yang terpilih sebagai CPM IV pastilah orang-orang hebat, dan saya merasa saya dibawah mereka. Saya membaca profil mereka satu per satu pada buku pedoman yang telah dibagikan, dan semakin menguatkan asumsi saya. Pada profil mereka tertulis segudang prestasi hingga tingkat internasional.

Pak Anies semakin melengkapi asumsi saya ketika mempresentasikan data CPM IV. Dari 8501 pendaftar, tersaringlah 72 orang yang mengikuti pelatihan. Sebagian besar dari mereka telah memiliki pekerjaan yang baik, tetapi mereka melakukan resign untuk menjadi PM. Ada yang sudah lulusan S2, dan ada enam orang yang menyelesaikan studinya di luar negeri. Mereka sungguh luar biasa untuk ukuran saya.

Akhirnya saya merenungkan diri dan berpikiran berpositif. Saya mengatakan bahwa saya kesini bukan untuk berkompetisi dengan mereka, tetapi saya kesini untuk mengabdi dan belajar. Bahkan ini adalah peluang untuk belajar kepada orang-orang hebat tersebut. Ternyata saya benar bahwa mereka telah menambah pundi-pundi pengetahuan dan keterampilan saya selama pelatihan ini. Bukan hanya itu, mereka telah hidup di hati saya akibat serangkaian proses yang kami lalui selama pelatihan; tak berlebihan jika saya menyebut mereka sebagai saudara.

Bersama Anies Baswedan


Post a Comment