Friday, 15 June 2012

Detik-detik yang Menentukan

Kamis, tanggal 14 Juni adalah hari yang sangat berat bagi kami. Kami melakukan upacara perpisahan Pengajar Muda (deployment). Sebelumnya upacara akan dilaksanakan pada Jumat siang, tetapi karena Pengajar Muda di Maluku Tenggara Barat mendadak harus berangkat jumat pagi, maka pelepasan dilakukan kamis malam.

Indonesia Raya yang kami nyanyikan menggema di dalam aula Wisma Handayani, membuat saya merinding. Bagimu Negeri disertai dengan salam-salaman antara PM dengan pengurus IM membuat mata ini berkaca-kaca. Saya tak dapat berkata banyak; saya diam memandangi wajah-wajah setiap orang yang ada dalam ruangan itu. Saya menemukan wajah yang penuh ketulusan, harapan, dan optimisme. Saya yakin bahwa saya telah berada di tempat dan bersama dengan orang-orang yang tepat.




Saya menemukan pergolakan perasaan dalam diri Pengajar Muda saat itu termasuk saya. Antara bahagia karena akan segera pulang ke keluarga baru mereka, mengabdi untuk negeri; tetapi juga sedih karena harus berpisah dengan saudara-saudaranya tercinta. Saudara sesama Pengajar Muda yang telah hidup bersama kurang lebih delapan minggu. Mereka berpelukan, saling mengucapkan pesan. Ingat, tahun depan kita berjumpa kembali dengan cerita masing-masing! see you on the top! Saya akan merindukanmu! dan sebagainya. Tak sedikit yang meneteskan air mata. Sekali lagi, hari ini adalah hari yang sangat berat.

Namun hal yang sedikit menghibur ketika saya menyadari bahwa hakikatnya ini bukanlah perpisahan, tetapi ini adalah kesempatan untuk melatih rasa rindu. Kupikir kualitas persaudaraan ini dapat tumbuh dengan jarak yang jauh. Bahkan kami pun masih dapat melihat jutaan bintang yang sama, matahari yang sama, dan rembulan yang sama. Toh jika saya rindu, itu pun berarti kami merasakan rasa yang sama. Berhenti menangisi perpisahan ini adalah konsekuaensi dari berhenti mengecam kegelapan.

Perpisahan ini adalah detik-detik yang menentukan satu tahun pengabdian yang akan datang. Perpisahan ini adalah momen dimana kami harus memastikan kembali bahwa niat telah lurus, ketulusan telah menyatu dengan napas, komitmen telah disimpul erat, dan semangat telah membara. Itulah bekal utama yang akan kami bawa. Jika kami masih ragu pada detik-detik ini, maka saya yakin kesusahan yang akan kami hadapi pada saat penugasan. Inilah detik-detik akhir pada segmen awal perjuangan mulia. Setelah itu, maka keharusan kami menjaga karakter pribadi, menjaga stamina fisik, stamina moral, dan stamina intelektual.

MTB lalu Gresik

Sebenarnya saya berharap PM Bawean yang diberangkatkan terlebih dahulu. Akan tetapi, karena mengejar jadwal track kapal, maka PM MTB harus berangkat kamis malam itu. Sedikit mengagetkan karena saya harapnya mereka yang mengantarku, bukan saya yang mengantarnya. :) 

Cukup mengharukan cerita tentang Dimas, salah satu Pengajar Muda di MTB yang tidak sempat pamit langsung dengan orang tuanya. Padahal bisa jadi dia akan pulang tahun depan, mengingat cuti yang belum tentu dapat dimanfaatkan. Orang tuanya baru tiba di Jakarta tiba Jumat pagi dan Dhimas telah berangkat. Saya dapat merasakan kesedihan orang tuanya.

Saat pagi hari (Jumat), dimana saya terbangun dari tidur dan melaksanakan shalat subuh; saya merasakan bahwa ada yang berbeda dari biasanya. Saya pun sadar, bahwa yang beda adalah di wisma saat itu, kami tidak 71 orang lagi. Billy, Dhimas, Vira, Prita, Hanan, Uun, dan Sandra telah duluan berangkat ke MTB. Hemmmmm... Pelatihan ini tak biasa tanpa mereka.

Beberapa jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 13.00, tibalah saatnya saya dan tim PM Gresik lainnya berangkat. Disinilah saya melihat bahwa betapa mereka peduli terhadap saya, peduli terhadap Bawean. Saya tahu bahwa mereka akan merindukan saya sebagaimana saya merindukan mereka. sekali lagi, dalam hati saya berucap: see you next year! see you on the top!

Mereka mengantar kami. Sampai jumpa tahun depan!

Syukur atas Kehormatan ini

Saya sangat bersyukur dapat bergabung di Indonesia Mengajar sebagai Pengajar Muda. Selain karena saya mendapatkan kehormatan melunasi janji kemerdekaan "mencerdaskan kehidupan bangsa", saya juga mendapatkan banyak pelajaran di organisasi gerakan ini. Pelatihan intensif selama tujuh pekan adalah waktu yang sangat berharga, saya dididik menjadi guru yang baik,  menjadi fasilitator, dan dipompa motivasinya untuk maju.

Menurut saya, tugas ini sangat mulia. Tugas ini memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar banyak. Berdasarkan misi IM yaitu ingin mengisi kekurangan guru berkualitas, dan menjadi wahana belajar kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik. Maka dengan menjadi guru, saya harus belajar: belajar pelajaran yang akan saya ajarkan dan belajar menjadi teladan, belajar rendah hati, dan sebagainya. Bagi saya, menjadi Pengajar Muda adalah menjadi pelajar pada sebuah sekolah kepemimpinan yang real tentang apa yang semestinnya dipimpin dan bagaimana melakukannya di Indonesia ini. Saya dituntut untuk melaksanakan tugas itu dengan penuh kedisiplinan, konsisten mengajarkan pentingnya harapan dan pantang menyerah dalam hidup, mengajak anak-anak di bagi anak-anak di pelosok bermimpi dan menunjukkan bagaimana cara meraihnya.

Tidak semua anak muda diberi kesempatan menjadi Pengajar Muda. Pada angkatan empat, terdapat 8.501 anak muda yang siap mengabdi sebagai Pengajar Muda, akan tetapi hanya 71 orang yang terpilih dan saya salah satu diantaranya. Hal ini berarti bahwa setiap satu orang akan mewakili seratus lebih anak muda yang ingin mengabdi di pelosok. Olehnya itu, kami tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan dan kehormatan tersebut. Jangan sampai mengecewakan anak-anak muda yang kami wakili. Olehnya itu saya berjanji, satu tahun ini adalah milik saya untuk belajar, dan akan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Hingga pada akhirnya, saya mampu melakukan perubahan di masyarakat khususnya di daerah asal saya, walau perubahan itu sangat kecil.

Pada beberapa forum leadership termasuk meet the leaders, beberapa kali kami ditanya, mengapa kami mau memilih jalan sebagai Pengajar Muda, meninggalkan segala kenyamanan di kota, pekerjaan dengan karir yang menjanjikan, dan gaji yang cukup besar, atau meninggalkan peluang untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan kami tahu, di desa yang ada adalah kesunyian, jauh dari hiruk pikuk keramaian, jauh dari listrik, signal telepon, akses informasi dan kominkasi yang terbatas, jalan yang berlumpur, atau rumah-rumah tempat tinggal yang sangat sederhana. Bukankah ini sebuah kegilaan?

Jawaban kami adalah kami ingin ikut andil dalam melunasi janji kemerdekaan, ikut menyalakan lilin-lilin kecil di beberapa titik tersudutkan di negeri ini. IM tak menjanjikan gaji atau menjadi pegawai negeri setelah bertugas. Saya pun yakin itu tidak akan berhasil jika itu yang ditawarkan, sebab mayoritas PM yang lolos ternyata meninggalkan pekerjaannya dengan gaji yang lumayan besar. Akan tetapi, dengan menjadi PM, ada kesyukuran dan kebanggaan karena telah melakukan sesuatu yang nyata untuk negeri ini. Hingga pada akhirnya, semua pihak akan tergerak hatinya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa ini, dengan kapasitas dan bidangnya masing-masing. Amin!
 
Post a Comment