Monday, 4 June 2012

Forum Leadership bersama TK-SD BATUTIS dan Ahmad Fuadi

saya berdoa, mudah-mudahan perempuan hebat di dunia ini tidak hanya satu, sebab jika iya maka itu telah menjadi milik Pak Yudistira. Saya pun ingin mendapatkan perempuan hebat, dan mudah-mudahan 32 CPM4 laki-laki lainnya juga kebagian. Sebaliknya, mudah-mudahan lelaki hebat tidak hanya satu karena jika iya, itu telah menjadi milik Ibu Siska. Saya pun ingin menjadi lelaki yang hebat, dan mudah-mudahan 32 CPM4 laki-laki lainnya istiqamah dalam menjadi lelaki hebat. Hiperbola ini sebagai pujian buat mereka berdua dalam konteks suami-istri yang saling mendukung dalam mencapai suatu tujuan—itu mulia, dan keyeeeenn man. bahkan saya sempat menjadi agar-agar dibuatnya. Syukurlah sebab ada 38 perempuan hebat lainnya di Wisma Indosat saat ini. Itulah yg saya dapatkan di ruang Matriks malam ini pada sesi forum leadership. Ruang inspirasi dan investasi untuk peradaban manusia.

saya menyimak petuah mereka bahwa mereka mengajarkan pentingnya dan dampaknya suatu kepedulian, kesabaran, ketulusan, mengajar dengan hati, dan menyandarkan diri kepada Allah SWT. Mungkin inilah wujud AQ dan SQ di bumi yang sumpek ini. Juga terpenting adalah jika kita mendidik siswa, maka kita pun harus mendidik orang tua siswa. Pendidikan kepada siswa memang harus dilakukan secara holistik-integratif, itulah yang dilakukan IM dalam mencapai dambaan perubahan intentitas perilaku. Hingga pada akhirnya orang tuanya pun akan secara aktif mendidik sang siswa.

***

Sekilas rasanya dalam ruangan itu, bahkan tak sempat bertanya atau menyampaikan pujian sebab saya dan teman-teman lainnya mesti berpindah ke ruang Blackberry; disana ada man jadda wa jadda. Maksud saya Ahmad Fuadi, orang yang menusantarakan kalimat man jadda wa jadda dalam beberapa bulan ini lewat bukunya Negeri 5 Menara. Saya sedang mempertimbangkan untuk meneriakkan kalimat itu sambil memotong kayu dengan parang berkarat dan tumpul saat perdana masuk kelas di SD Sidogunungbatu 4, Pulau Gili, Bawean. Tapi saya berpikir, mungkin sebaiknya saya mempersiapkan baju besi dan helm; antisipasi jika anak-anak refleks dan kesetanan melempar saya dengan alat-alat pertanian.
Mungkin saya orang ke 280.419.880 yang sepakat bahwa beliau adalah sang inspirator. Kali ini, beliau menuangkan BBM non subsidi kedalam tangki mesin menulisku, agar saya aktif menulis khususnya saat di lokasi penugasan nanti selama satu tahun. Itu tidaklah sulit sebab saya berprinsip bahwa tidak menulis berarti mampus. Jika sehari menulis satu pantun gocek, maka jadilah 365 pantun gocek yang dapat dibaca pada saat OPP—itu untuk Billy dan Adji. Namun menulis tidak hanya sekedar menulis, tetapi menulislah dengan hati. Baginya, diantara kata demi kata dalam tulisannya, bukan hanya sekedar space tetapi ada suara hati disana. Yah... betapa hebatnya menulis, bahkan beliau berkata bahwa sebuah kata bisa lebih hebat dari peluru, karena kata dapat menjadi pemberi informasi dan inspirasi. Saya sepakat dengannya, bahkan tak bijak jika peluru digunakan untuk menggocek—sebaiknya pakai kata yang beradab.

***
Konklusi
-   Nilai yang terbukti mujarab dalam mencapai kesuksesan adalah peduli, ikhlas, tulus, sabar, bersungguh-sungguh, tahan banting/persistance, dan pray. Dan ini telah dibuktikan oleh beberapa orang. Maka kita tak pantas skeptis lagi.
-     Mari menulis selama penugasan sebagai PM nanti.
-    Suami-istri yang saling mendukung itu penting, hebat, dan indah. Maka carilah pasangan hidup yang terbaik untukmu. Bagi yang belum punya bayangan, jangan putus asa, sebab ada tiga prinsip jodoh yang melegakan yaitu:
Pertama, semuanya dilahirkan berpasang-pasangan. So, yakinlah setiap dari kita dilahirkan berpasangan.
Kedua, laki-laki baik akan mendapatkan perempuan baik; begitu pula sebaliknya. So, tugas kita menjadi pribadi yang baik.
Ketiga, jodoh itu ditangan Tuhan. Tapi kalo tidak diambil, ya tetap ditangan Tuhan. Hehehe... So, jemput jodohmu! Mungkin diawali dari melewati dua pintu kaca, atau juga senang melihatnya senang.
Post a Comment