Wednesday, 13 June 2012

Meet The Leaders

Pak Karni Ilyas pernah mengatakan bahwa apabila anda ingin menjadi orang besar, maka sering-seringlah berjabat tangan dengan orang besar. Saya mempercayai itu dan menerapkannya. Saya selalu bersemangat berjabat tangan dengan orang-orang hebat di negeri ini. Saya genggam tangannya dengan erat, dan saya rasakan genggaman tangannya yang lebih erat.

Berjabat tangan dengan orang hebat bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, sebab beberapa orang dengan mudah melakukannya. Akan tetapi, dengan berjabat tangan maka kita dapat meresapi bagaimana orang tersebut meniti karirnya, pantang menyerah, memegang teguh values yang diyakini. Itu adalah bagian dari belajar tentang proses menuju sukses. Dengan berinteraksi dengan orang hebat, maka akan ada aura postif yang terpancar ke diri kita, bahkan menular ke kita. Kita menjadi terbiasa atau membiasakan diri menjadi orang elit. Pak Anies pernah mengatakan bahwa elit itu harus, tetapi bukan berarti eksklusif.

Saya sangat bersyukur, sebab sebelum deployment kami diberikan kesempatan untuk bertemu beberapa orang hebat di negeri ini. Sebelum dilepas oleh Wakil Presiden RI Boediono, maka kami diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ibu Yani Panigoro dan Budi Sadikin; dan setelah dilepas oleh Pak Boediono, kami pun masih sempat berdiskusi dengan Pak Emil Salim (tokoh nasional) dan Musliar Kasim (Wamen Bidang Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI). Tujuannya tidak hanya sekedar meminta restu, melainkan agar mereka berbagi tentang pengalaman hidup mereka kepada kami.
 


Yani Panigoro

Yani Panigoro merupakan adik dari Arifin Panigoro. Oleh karena Pak Arifin sedang berada di luar negeri, maka kami disambut oleh Ibu Yani. Saya melihat, ibu Yani mampu memposisikan diri sebagai seorang ibu yang hendak melepas anaknya pergi merantau, mencari jati diri, untuk diri dan bangsanya.

Beliau memberikan doa kepada kami agar diberikan kekuatan selama melaksanakan penugasan. Kesehatan adalah kunci utama dalam melaksanakan tugas tersebut. Rencana akan sia-sia jika kita tidak sehat. Maka beliau memesan, jagalah kesehatan dan stamina.

Beliau sangat optimis bahwa 71 orang Pengajar Muda yang ada di depannya adalah generasi pemimpin bangsa di bidangnya masing-masing pada tahun-tahun yang akan datang. Akan ada perubahan besar pada tahun 2025 nanti, dan Pengajar Muda ini adalah aktor perubahan tersebut. Maka gunakan satu tahun ini sebagai satu tahun yang bermakna. Kami harus siap, bahkan siap menghadapi bahwa di daerah penugasan tidak ada hiburan yang seperti biasanya kami dapatkan. Hiburan mereka hanyalah jutaan bintang di langit, sunrise pada waktu fajar dan sunset pada waktu senja, siluet gunung-gunung pada malam hari, atau gelombang yang memecah karang. Disana tak ada bioskop, televisi, mall, ataupun restoran.

Saya sempat mengomentari pernyataan ibu Yani tersebut. Saya mengatakan bahwa kami telah dibiasakan tanpa hiburan-hiburan selama pelatihan, sehingga kami membuat diri kami sebagai hiburan. Bahkan beberapa teman menganggap saya sebagai "lelaki penghibur". Katanya saya berkali-kali menghibur mereka, bahkan dengan berlebihan mengatakan saya telah mengembalikan mereka ke jalur alpha zone.

Mungkin itu benar. Tapi saya katakan kepeda mereka, Noooooo! it's not about you, but it's about me. Saya melakukan semua itu bukan untuk teman-teman tetapi untuk diri saya sendiri, saya mencoba menghibur dan membahagiakan diri saya sendiri. Akan tetapi saya memilih jalur yang berbeda; saya meraih kebahagiaan saya dengan melihat teman-teman berbahagia. Begitulah prinsip yang insyaallah dapat saya terapkan di Gresik: meraih kebahagiaan dengan melihat masyarakat berbahagia. Amin.




Budi Gunadi Sadikin 
(Managing Director Micro & Retail Banking di Bank Mandiri)

Pak Budi adalah salah satu orang penting di Bank Mandiri khususnya dalam pengelolaan dana CSR Bank Mandiri. Saya banyak belajar dari beliau pada hari itu. CSR (Corporate Social Responsibilty) yang besar harus dialokasikan kepada konsep yang tepat. Program yang dibuat semestinya mampu mendukung keberlanjutan bisnis. Misalnya Perusahaan Unilever mengalokasikan dana yang besar untuk program penyediaan air bersih. Hal ini karena mayoritas produk Unilever membutuhkan air bersih. Beberapa merek terkenal milik Unilever seperti Rinso, Sunsilk, Dove, dan Clear, tak akan berguna banyak tanpa adanya air bersih.

Selain itu, program juga harus mampu menjadi solusi dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh bisnis. Kembali ke contoh Unilever, yang membuat program penanggulangan limbah. Hal ini karena produk-produk Unelever menghasilkan banyak limbah. Lihat saja tempat-tempat tumpukan sampah, disana pasti ada produk Unilever. Maka sebelum masyarakat mengecam dampak negatif yang ditimbulkan oleh bisnis, maka perusahaan harus memperlihatkan kepedulian dalam menanggulangi dampak negatif tersebut. Tentu saja penggunaan dana CSR ini telah memiliki aturan, tetapi ketika perusahaan mentaati aturan itu, maka sebenarnya perusahaan tersebut sedang membuat pencitraan dan prestasi untuk perusahaannya.

Nah, bagaimana dengan Bank Mandiri. Mandiri adalah sebuah bank yang produknya adalah uang, lebih khusus adalah menyimpan dan meminjam uang. Jika ditelisik, siapakah sebenarnnya yang paling sering menyimpan uang atau besar simpananan uangnya di Bank? dan siapa sebenanya yang paling sering meminjam atau besar pinjamannya dari bank? Jawabnya adalah pengusaha. Olehnya itu, Mandiri membuat program pembinaan wirausahawan muda di Indonesia. Briliant!

Pak Budi sebenarnya memiliki cita-cita menjadi dosen, fashionnya adalah mengajar atau menjadi guru. Makanya dia sangat bangga mengatakan bahwa ia adalah salah satu guru di Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar. Beliau berpesan kepada kami bahwa mengajarkan keterampilan kepada siswa dibutuhkan dua hal. yang pertama adalah yang mengajar memiliki pengalaman. Bayangkan jika mata kuliah kewirausahaan diajar oleh professor yang tidak pernah berwirausaha, atau pelajaran renang yang diajar oleh orang yang tidak tahu berenang. Yah minimal pernah tenggelam karena belajar berenang, pikirku. Kedua, mengajar harus dilakukan dengan praktek, bukan hanya teori semata. Bayangkan kita belajar bersepeda dengan teori selama satu minggu dalam ruangan, pembicaranya adalah Joaquin Rodriguez, tatapi tidak pernah praktik bersepeda. Hasilnya adalah siswa yang hanya bisa bicara tentang sepeda tapi tidak dapat bersepeda.

Contoh ini sangat menarik jika dibawa ke dalam sistem pendidikan kita saat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa guru-guru berkualitas masih sangat kurang sehingga metode yang dipilih dalam mengajar masih kurang tepat. Dalam hal ini secara khusus ditekankan kepada metode pembelajaran untuk ranah psikomotori. Tak ada pilihan lain, kita mesti melakukan praktik, bukan hanya berteori.

Post a Comment