Monday, 20 January 2014

BELAJAR DI KESUNYIAN SITULEMBANG PART 1


Kami berangkat dari Wisma Indosat Purwakarta dan tiba di Situlembang pada hari Rabu, 5 juni 2012 sekitar pukul 11.00. Memasuki pintu gerbang Situlembang, perasaan saya sangat senang; lingkungan masih sangat terjaga. Saya membaca papan-papan kalimat menggugah nasionalisme.

Udara di situlembang yang dingin tidak menghalangi para Pelatih bertopikan Komando dan berbaret merah menyambut kami di pintu gerbang kedua. Dipintu gerbang tersebut tertulis “anda ragu-ragu, kembali sekarang juga”. Tulisan yang sama kami baca dengan keras dan serentak saat pelatihan pertama di Pusdikpassus, Batujajar. Kalimat itu untuk mempertegas bahwa tak boleh ragu untuk mengikuti pelatihan, mungkin karena pelatihannya sangat berat. Tentu saja kami tidak akan kembali, selain karena kami memang tidak ragu-ragu, yang mengantar kembali juga tidak ada. Jadi lanjuuut...

Hari itu tak banyak agenda, karena pembukaan latihan baru akan dilaksanakan pada hari Kamis. Kami hanya melakukan pembersihan, pengenalan lokasi, dan mandi bagi yang mampu. Malamnya saya bercerita di tenda pleton putra, para siswa perempuan pun demikian. Sesekali saya keluar tenda dan memandangi siluet rangkaian gunung-gunung yang mengelilingi kami, diantaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu yang selama ini hanya saya tahu dari buku pelajaran.

Setelah shalat Isya kami menunggu waktu apel malam, namun karena hujan akhirnya apel malam tidak dilaksakan. Kami hanya mendapatkan beberapa pengumuman dari pelatih di tenda, diantaranya tentang jadwal piket, jadwal jaga serambi, dan waktu kumpul di esok hari. 

Pelatih memperingatkan dengan keras bahwa jaga serambi harus serius, dilaksakan oleh dua orang dengan pakaian PDL lengkap, tidak boleh duduk, dan tetap konsentrasi menggunakan mata dan telinga. Khawatirnya ada teman yang berjalan sambil tertidur atau tertidur sambil berjalan, lalu nyemplung ke danau dan akhirnya kami berkurang. Juga khawatir jumlah kami lebih dari 33 orang (laki-laki) sehingga bingung harus mengurangi siapa. Jika dilanggar maka semua siswa harus direndam di danau. Alamak, berwuduh saja rasanya susah karena kedinginan apalagi harus direndam di danau subuh-subuh. J Selain itu, jika akan pergi misalnya ke kamar mandi atau mushalla, maka wajib hukumnya berdua. Mereka menyebutnya dengan buddy system, yang belakangan saya tahu bahwa itu adalah istilah dari Abah Iwan.



***

Kamis pagi dilaksanakan pembukaan latihan fisik dan mental di lapangan tembak Komando. Tak ada rumput, yang ada hanyalah lumpur yang bertambah gembur oleh sepatu-sepatu PDL kami. Upacara dilaksanakan ala militer; saya rasakan sensasinya dengan imajinasi sebagai prajurit Komando :D. Setelah upacara selesai, terdengar perintah melepaskan kopel dan topi; dalam hitungan ketiga, semua siswa tiarap di lumpur, dan kami pun merayap. Waaaaoooowww... Saya merayap dengan semangat; saya menikmati lumpur-lumpur yang serasa es menembus pakaianku. Kami lanjutkan tarian lumpur itu dengan guling-guling dan jalan jongkok.

Setelah itu kami melakukan pembersihan di danau. Dinginnya Air yang mengalir dari perut gunung Tangkuban Perahu tak kami hiraukan, hingga mengisi celana dalam dan sepatu-sepatu kami. Kami bernyanyi dengan keras, hingga membuat air dingin itu tak mampu mendinginkan kami J Inilah prosesi penyatuan kami dengan alam, ala Situlembang tentunya. Kami menyatu dengan alam dan mudah-mudahan alam menerima kami—maaf jika ada yang namanya alam!
Setelah itu kami berjalan kaki. Semua kami lakukan dengan cepat, tepat, dan rapi. Hitungan adalah sesuatu yang biasa, bahkan saat makan. Kami berlomba dengan waktu dan tidak boleh menyia-nyiakannya. Begitulah waktu itu sangat berharga. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,

”maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan.” (QS Al-Baqarah: 148).

Kata ‘berlomba-lombalah’ disini berarti kita harus menggunakan waktu seoptimal mungkin.

***
Agenda hari Jumat adalah survival di hutan. Latihan ini dilakukan agar kami dapat bertahan hidup dengan segala keterbatasan, dapat berupa bertahan dari keterbatasan makanan, cuaca, ataupun dari binatang buas. Sebelum kami dilepas ke hutan, maka terlebih dahulu kami dibekali dengan teknik-teknik survival.

Kami diberitahukan tentang tanaman yang bisa dimakan dan yang tidak boleh dimakan alias beracun. Di hadapan kami telah disiapkan contoh-contoh tanaman tersebut. Pelatih menjelaskan tanaman-tanaman itu satu demi satu, hingga memakan langsung tanaman yang dapat dimakan. Sebuah metode pembelajaran yang konstruk. Beda dengan metode pembelajaran yang masih mudah kita temukan di sekolah-sekolah kita, tidak konstruk. Bahkan skill yang ingin dicapai diajarkan dengan metode ceramah.

Metode pelatih ini membuat kami tidak ragu-ragu menyerbu dan mencicipi tanaman yang dapat dimakan. Tanaman-tanaman itu terasa aneh dan memang tidak mengenyangkan, tetapi paling tidak dapat mengganjal perut dan memperpanjang usia harapan hidup di hutan. Sekali lagi untuk bertahan hidup, so jangan pedulikan rasanya. Sementara itu, dibelahan gunung lain yang tidak jauh dari kami, siswa komando sedang berlatih dengan menggunakan peledak dan peluru tajam. Hutan saat itu bergemuruh oleh suara ledakan dan tembakan, serta pekikan suara semangat prajurit Komando.

Setelah itu, maka tibalah saatnya pengenalan ular. Kami diperkenalkan jenis-jenis ular dan mempraktekkan cara menangkapnya dengan baik dan benar. Di depan kami telah terdapat lima ekor ular, diantaranya ada ular cobra yang memiliki bisa yang sangat mematikan.

Menangkap ular membutuhkan tongkat bercabang untuk menjepit kepala ular. Prinsip menangkap ular adalah mengamankan kepalanya terlebih dahulu, karena sumber gigitan dan bisa ular ada di kepalanya; bukan di ekor. Makanya jika menangkapnya juga harus dari belakang ular. Setelah terjepit, barulah kepala ular ditangkap dengan tangan. Kepala ular yang dipegang jangan diarahkan ke diri sendiri ataupun orang lain, sebab ular tersebut dapat menyemburkan bisa.

Setelah itu, dilakukan penyembelihan ular. Tentu saja untuk dimakan, dapat direbus, digulai, digoreng, atau dipanggang; tergantung selera. Ular yang tertangkap disimpan hidup-hidup dalam karung jika tidak langsung dimakan, tetapi jika ingin langsung dimakan maka dapat disembelih. Penyembelihannya sama dengan hewan-hewan yang lain, yaitu dengan menyembelih dekat kepala. Akan tetapi, mulutnya harus diikat terlebih dahulu, agar bisanya tidak menyembur keluar. Setelah ularnya mati, kepalanya dipotong dan kulitnya ditarik dari kepala ke ekor, dan anda akan menemukan daging ular mati tetapi masih bergerak. Kepala ular tersebut tidak boleh dibuang sembarangan, sebaiknya dibakar sebab kepala yang terpotong tersebut masih mengandung bisa dan dapat melukai manusia.

Saya tidak memakan ular yang telah dipanggang. Ada dua alasan mengapa saya tidak mau memakannya yaitu pertama alasan keyakinan saya sebagai muslim yang tidak memperbolehkan memakan ular. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

"Sesunguhnya Allah telah mengharamkan setiap binatang buas yang bertaring dan burung yang menangkap dengan cakar." (HR. Muslim).

Dalam hal ini, ular khususnya ular yang berbisa adalah binatang buas dan membahayakan.
Alasan yang kedua adalah saya merasa jijik dengan ular. Jangankan memakannya, melihatnya saja saya merasa “geli” dan jijik. Hal ini pun sesuai dengan firman Allah swt:

“Dan ia menghalalkan yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk (menjijikkan)." (QS Al A'araf: 157).

Secara umum pun di Indonesia, ular dianggap sebagai hewan yang menjijikkan. Sesuai sabda Rasulullah SAW:

"Lima binatang fasiq yang boleh dibunuh baik sedang berada di tanah halal atau tanah haram, yaitu: ular, burung gagak berwarna belang, anjing gila dan elang." (Riwayat Muslim).

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hikmah dijulukinya sebagai binatang fasiq adalah dikarenakan binatang-binatang tersebut menyelisihi keumumam binatang melata lainnya, dalam hal kehalalan atau larangan membunuhnya, atau kebiasannya yang mengganggu manusia. Wallahualam!
Post a Comment