Monday, 20 January 2014

BELAJAR DI KESUNYIAN SITULEMBANG PART 2

Sabtu itu sangat dingin. Setelah sebelumnya menginap di hutan dengan hanya menggunakan kemah dari ponco sambil diguyur hujan deras hingga subuh, beserta makanan yang harus kami cari sendiri di hutan. Saya bersyukur telah melalui tahap tersebut.

Kami melanjutkan survival berjalan di hutan mulai pagi itu. Terlebih dahulu setiap kelompok harus mencari bekal komsumsinya yang telah disimpan oleh pelatih di hutan. Kami hanya diberikan kompas prisma dan data koordinat. Saya yang tergabung dalam kelompok 10 mendapatkan data koordinat dengan sudut 1000 dan jarak 70 m, akhirnya menemukan target setelah mengaplikasikan pengetahuan tentang navigasi darat. Jangan bayangkan kami menemukan nasi kotak, yang ada hanyalah beras sekitar satu gelas, sepotong ubi kayu, dan sebuah ubi jalar untuk bekal perjalanan sampai esok hari. Hati ini sangat bergembira.

Kami berjalan menelusuri hutan Kopassus yang sangat lebat, melintasi jalanan buatan berlumpur, jalan setapak yang sempit, menyeberang sungai yang dingin, hingga mengelak tanaman berduri. Semua kami lakukan dengan tetap waspada, saling menjaga, dan mengamati sekitar jalan, mungkin saja ada makanan yang bisa kami makan misalnya jantung pisang monyet.

Setelah berjalan sekitar dua jam, kami beristirahat. Kami memasak makanan kami dengan menggunakan kompor berbahan bakar parafin. Air untuk masak kami ambil dari sungai kecil yang mengalir tak jauh dari tempat kami beristirahat. Setelah matang, kami memakannya secara berjamaah dengan upacara ala Komando. Sangat mengagumkan, ubi yang kami makan itu terasa sangaaaaaaaaaaaaaaaatt enaaaaaak. Saya merenung, kemarin ubi yang sama kami acuhkan saat masih di Purwakarta.

Sekitar 30 menit kami istirahat dan melanjutkan perjalanan, hingga tibalah kami di pinggir danau. Danau yang sangat indah dengan ikannya yang berwarna merah sering muncul ke pinggir dan permukaan danau. Disinilah kami kembali memasak beras untuk makan siang. Setelah shalat dluhur, kamipun melanjutkan perjalanan di air dengan menggunakan perahu karet. Kami mendayung diatas danau yang katanya sepanjang 3 km. Kami pun sampai diseberang danau dan mendirikan kemah dari ponco.

Perjalanan hari itu sangat bermakna. Mayoritas diantara kami hidup di kota dengan makanan yang cukup enak, beraneka ragam warna dan rasa. Dan saat itu kami hanya memakan singkong yang sedikit, satu warna, serat kayunya sudah terasa, dan hanya berbumbu garam, dimasaknya juga susah. Disini saya belajar bahwa makanan apapun harus dihargai; dan akan tetap terasa nikmat jika kita mensyukurinya. Dan anehnya, karena rasa syukur itu, selain terasa nikmat, saya merasakan adanya kebahagiaan dan ketenangan. Olehnya itu, marilah kita selalu bersyukur kepada Allah SWT sebagaimana yang diperintahkannya dalam Al-Quran:

"dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS Luqman: 12).

Bersyukur berarti kita menyadari dan merasakan keindahan karunia Allah SWT yang kita dapatkan. Kita dapat menunjukkannya dengan menjalankan perintah Allah SWT. Bahkan mengakui bahwa itu pemberian Allah adalah bentuk rasa syukur. Jadi dengan bersyukur, kita telah berlaku adil terhadap diri sendiri dan dampaknya akan kembali kepada orang yang bersyukur, apakah ditambahkannya rezeki berupa materi yang lain, atau berupa ketenangan. Walaupun kita tidak bersyukur pun, Allah SWT tidak akan berkurang kekayaannya. Dalam ayat yang lain dinyatakan Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedi.” (QS Ibrahim: 7).

***

Malam minggu hingga minggu pagi dini hari adalah malam bersejarah. Disinilah kami dikukuhkan sebagai Pengajar Muda angkatan IV, menjadi bagian dari keluarga besar Indonesia Mengajar. Upacara pengukuhan dilakukan dalam sebuah upacara dimana Anies Baswedan selaku pendiri Gerakan Indonesia Mengajar bertindak sebagai inspektur upacara.

Kami mengalami detik demi detik acara pelatihan dengan kesabaran. Acara yang sangat sakral; pakaian kami basah dan berlumpur, sepatu terisi air, dan tetap dalam berdiri—puluhan kali saya minta izin pelatih untuk buang urin. Hingga pada puncaknya, Pak Anies menyerahkan sertifikat kelulusan kepada kami satu persatu. Tiga pesan yang beliau sampaikan kepada saya saat mendapatkan giliran mengambil sertifikat di depan yaitu: tetap semangat, jaga stamina, dan jaga nama baik Indonesia Mengajar.

Pesan tersebut sangat penting. Semangatlah yang membuat kita mampu bergerak dalam mencapai sebuah harapan. Semangatlah yang membuat kita bersungguh-sungguh dalam bekerja. Jika tidak ada semangat, besarnya potensi kita tidak akan berguna.

Saya harus selalu bersemangat khususnya saat penugasan satu tahun nanti. Saya hadir untuk mengajarkan pentingnya harapan kepada anak-anak di pelosok sana. Maka bagaimana mungkin saya dapat melakukannya jika saya sendiri telah berputus asa. Saya yakin bahwa Allah selalu bersama kepada orang-orang yang bersemangat dan optimis, sebagaimana firmannya dalam al Quran:

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A'raf: 56).

Stamina juga sangat penting dalam bekerja. Menyeberang lautan menuju dan dari pulau Gili membutuhkan stamina, mengajar butuh stamina, berinteraksi butuh stamina, dan shalat pun butuh stamina yang kuat. Oleh karena itu, menjaga stamina adalah sebuah kewajiban. Sebaliknya, kita jangan sampai melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak tubuh dan pikiran yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.

Pesan yang ketiga adalah jaga nama baik Indonesia Mengajar. Ini sangat penting, sebab dengan status sebagai Pengajar Muda, gerak langkah saya khususnya selama bertugas akan berkaitan dengan Indonesia Mengajar. Disinilah peran penting Pengajar Muda dalam menjaga nama baik, bahkan lebih dari yang ada di Jakarta. Saya berdoa kepada Allah SWT, agar diberikan kekuatan menjaga nama baik itu, dan melewati tantangan yang ada didepan saya.
Post a Comment