Tuesday, 7 January 2014

MENCETAK ANAK JUARA DI RUMAH


Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu 20 April 2013, diadakan smart parenting di SDN 4 Sidogedungbatu. Pada saat itu, hampir seratus orang tua murid memadati ruang kelas 4, 5, dan 5 yang baru dibangun. Bahkan banyak yang harus berdiri karena tidak mendapatkan kursi. Semangat mereka untuk hadir di siang yang panas itu tak lain dan tak bukan untuk mendapatkan wawasan tentang pendidikan anak di rumah. Ini adalah bukti bahwa orang tua siswa di Pulau Gili memiliki kepedulian terhadap pendidikan anaknya.
Selain orang tua murid yang didominasi oleh ibu-ibu, hadir pula komite sekolah, Bapak Jumairi. Sebuah apresiasi yang dicontohkan oleh komite sekolah terhadap niat tulus memajukan pendidikan di Pulau Gili. Namun lebih mengesankan adalah pemateri yang bernama Saifullah. Beliau adalah salah seorang guru di SDN 4 Sidogedungbatu. Padahal ia mengatakan sebelumnya bahwa ia tidak siap. Namun karena didesak dan diberikan kepercayaan, maka ia bersedia jua.
Kenyataannya, ia bisa menyampaikan materi dengan baik. ini bukti bahwa kita sering terburu-buru mengatakan tidak bisa, padahal sebenarnya bisa. Seperti tidak bisa kuliahkan anak, tidak bisa mengajar anak, tidak bisa membuka usaha, dan sebagainya. Padahal kalau dilaksanakan, mungkin kita akan bisa. jadi jangan katakan tidak bisa sebelum mencoba.
Pak Saifullah dalam materinya dikatakan bahwa keluarga adalah masyarakat terkecil dalam kehidupan kita. Suami dan istri mesti bekerja sama dalam membangun rumah tangganya. Dimulai dari niat baik untuk menikah, dan berupaya mempertahankan pernikahannya ke arah yang baik dan benar.
Dalam keluarga, pendidikan anak dimulai. Ayah dan ibu semestinya tidak lepas dari doa kepada Allah. Dalam melakukan pendidikan terhadap anak, orang tua harus selalu mencari rejeki yang halal karena rejeki yang halal akan mendapatkan berkah, sedangkan yang tidak halal akan membuat jiwa yang memakannya menjadi kotor, termasuk anaknya. Selain itu, orang tua harus menjadi teladan. Hindari kata-kata kasar dan pertengkaran ketika di depan anak-anak karena itu bisa mereka tiru.
Materi Pak Saifullah dilengkapi oleh materi Wahyuddin MY. Ia mempresentasikan materi tentang “mencetak anak juara di rumah”. Dalam materinya disampaikan bahwa Setiap anak dilahirkan untuk menjadi cerdas. Ia berhak menjadi juara dengan kekuatan dan keunikannya masing-masing. Jangan paksa dia untuk menjadi bintang kelas, jika kemampuannya justru menjadi bintang lapangan atau bintang panggung.
Impian setiap orang tua adalah mempunyai anak yang saleh, pintar, berbakti, jujur, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Tetapi yang dihadapi oleh sebagian orang tua malah mendapatkan anak yang berandalan, “bodoh”, kurang ajar, pendusta, dan sifat-sifat tercela lainnya. Hal ini mestinya diperhatikan oleh orang tua, jangan hanya menyalahkan si anak. Bisa jadi orang tuanya terlalu sibuk, orang tuanya terpecah dan sering bertengkar, teman-temannya yang mendatangkan pengaruh negatif, terlalu dimanja, atau mungkin salah makan. Salah makan bisa berarti kurang gizi atau kurang berkah. Jika sudah dievaluasi dan ternyata bukan itu, bisa jadi ketidaktepatan dan ketidaksabaran orang tua mendidik anaknya.
Perlu juga diingat, orang tua tidak boleh memaksakan anak untuk juara kelas, sebab tidak juara kelas bukan jaminan anak itu bodoh. Bisa jadi anak itu punya kecerdasan yang lain. sebagaimana diketahui bahwa kecerdasan itu banyak yakni kecerdasan musikal, bahasa, gerakan, visual/gambar, matematis, intrapersonal, inter-personal, naturalis, dan cerdas spritual seperti para ulama.
Oleh karena itu, sebagai orang tua kita mesti menerima anak sesuai dengan bakat dan potensinya masing-masing. Jangan sampai kita tidak menghargai bakat yang ia miliki. Jika anak hanya pintar main bola, jangan khawatir. Mungkin ia bisa menjadi Ketua PSSI yang mengerti tentang sepak bola.
Orang tua juga harus menyediakan lingkungan dan kesempatan untuk memaksimalkan kelebihan anaknya. Contohnya memberinya kesempatan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Termasuk juga menyediakan biaya dan fasilitas untuk memaksimalkan kelebihan anak itu. []

Post a Comment