Saturday, 8 February 2014

WISUDA: PELANTIKAN PENGANGGURAN TERDIDIK*

Hari Rabu-Kamis (14-15/12/2011) di Auditorium Amanagappa Universitas Negeri Makassar (UNM), terlihat begitu banyak manusia yang berkumpul. Sebagian besar dari mereka memperlihatkan senyum yang merekah yang menggambarkan bahwa mereka sedang berbahagia. Mereka adalah para wisudawan pertama UNM untuk periode 2011-2012 yang didampingi oleh keluarga-keluarga mereka.
Pada hari itu, UNM mewisuda 2.341 orang yang terdiri dari program doktor, magister, sarjana kependidikan, sarjana kependidikan penyetaraan, sarjana non-kependidikan, dan program diploma III. Wisuda ini membuat UNM memiliki 91.822 orang alumni.
Sungguh lulusan yang sangat banyak. Demikian halnya akan terjadi pada perguruan tinggi lain saat melaksanakan wisuda, bahkan bisa jadi jumlahnya lebih besar. Jika diakumulasi semua wisudawan pada setiap perguruan tinggi, maka kita akan mendapatkan lulusan yang luar biasa banyak setiap tahunnya.
Timbul sebuah pertanyaan penting, bagaimana nasib mereka setelah melepas status mahasiswa dan menyandang gelar sebagai diploma atau sarjana. Kemana mereka akan pergi? Tentunya mereka akan menuju masyarakat yang lebih luas dengan tingkatan fenomena dan permasalahan yang lebih kompleks. Dalam lingkungan seperti itu, mereka dituntut untuk hidup mandiri, salah satunya dengan mendapatkan pekerjaan.
Ironisnya, jumlah lapangan pekerjaan di negara kita masih lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah lulusan pendidikan formal. Akibatnya, terjadilah pengangguran dari kalangan terpelajar yang biasa dikenal dengan pengangguran terdidik. Pada tahun 2009, BPS mencatat sebesar 626.600 orang lulusan perguruan tinggi yang menganggur dari 9.259.000 orang penganggur di Indonesia.
Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan tidak menjamin seseorang untuk bekerja. Orang yang telah menempuh pendidikan sejak pendidikan dasar sampai perguruan tinggi dan mendapatkan gelar pun harus menganggur. Hal ini tidak lepas dari beberapa faktor dimana faktor tersebut berasal dari lulusan itu sendiri, lingkungan, dan sistem pendidikan yang ada.
Faktor lingkungan dalam hal ini berkaitan dengan kondisi negara yang belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup buat para pencari kerja. Faktor dari sarjana yaitu mereka tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan penyedia lapangan kerja atau kompetensi sebagai penyedia lapangan kerja. Sedangkan faktor sistem pendidikan yaitu belum mampunya lembaga pendidikan dalam hal ini perguruan tinggi mencetak lulusan yang terampil, bukan saja sebagai tenaga kerja tetapi juga sebagai penyedia lapangan pekerjaan.
Selama ini, umumnya para sarjana lebih senang mengadu nasib dengan menjadi pencari kerja (job seeker) atau berusaha menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal setiap tahunnya, PNS yang diterima tidak sebanding dengan para sarjana yang tamat dari perguruan tinggi. Sebagai contoh, pada tahun 2009, kuota PNS yang akan diterima hanya sekitar 300.000 orang. Tahun ini akan lebih sulit lagi bagi yang bergantung pada penerimaan PNS karena diberlakukannya moratorium penerimaan PNS hingga akhir tahun 2012.
Berkaitan dengan kegiatan wisuda, setiap sekolah tinggi boleh berbangga akan jumlah lulusan yang besar, mungkin dapat dijadikan sebagai acuan penilaian akan keberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan. Apalagi jika jumlah penerimaan mahasiswa baru dengan lulusan yang diwisuda berada dalam keadaan balance. Namun disisi lain itu bukanlah satu-satunya indikator untuk menentukan kualitas suatu perguruan tinggi, tetapi mesti dilihat lebih jauh bagaimana kualitas lulusan yang dihasilkannya. Realitasnya selama ini ialah beberapa perguruan tinggi melepas lulusan melalui seremonia wisuda yang mewah tetapi lulusannya masih banyak yang menganggur. Acara wisuda tersebut bagaikan ritual para lulusan memasuki dunia pengangguran.
Evaluasi
Berdasarkan kondisi tersebut maka diperlukan upaya yang ril untuk mengatasi pengangguran terdidik. Tentunya harus dilihat kembali ketiga faktor yang telah disebutkan di atas. Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi.
Dalam beberapa tahun terakhir, perguruan tinggi fokus dalam upaya penanggulangan pengangguran khususnya pengangguran terdidik melalui program kewirausahaan (entrepreurship) di kalangan mahasiswa. Program ini sangat gencar digalakkan oleh mantan Dirjen Dikti yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Djalal. Wajar jika beliau memperoleh gelar Ciputra Award sebagai tokoh yang mengembangkan spirit kewirausahaan dalam sektor pendidikan.
Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya dibekali dengan teori-teori, akan tetapi lebih kepada pelaksanaan usaha. Hal ini berarti bahwa kini perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan pendidikan, pengabdian masyarakat, dan research, melainkan juga pengembangan wirausaha mahasiswa. Upaya dan sokongan dana pun dikeluarkan demi kesuksesan program tersebut.
Alasan pemilihan wirausaha untuk mahasiswa cukup rasional sebab kewirausahaan merupakan solusi dari terjadinya pengangguran. Berdasarkan Lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusahan Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995, kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan/atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pendidikan wirausaha berarti membuat sebuah sistem pendidikan yang mampu mencetak sarjana yang terampil sebagai tenaga kerja dan penyedia lapangan kerja. Sistem ini dilakukan dengan menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat kewirausahaan (entrepreunial university).
Muncul asa yang besar dari program ini untuk menekan jumlah pengangguran di Indonesia. Secara kasat mata telah dilihat bahwa program ini benar-benar berguna. Kata entrepreurship seakan jadi trend di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang kemudian terjun dalam bidang ini yang mampu mendirikan usaha dan  mempekerjakan orang lain.
Walaupun demikian, sangat dini jika kita mengatakan program wirausaha mahasiswa telah berhasil. Kita juga mesti memperhatikan sejauh mana dampak program kewirasahaan tersebut terhadap sikap dan tindakan dari alumni. Dampak yang dimaksud yaitu alumni tidak hanya berhenti pada upaya mencari pekerjaan, tetap berinisiatif membuka usaha untuk membuka lapangan pekerjaan, sebab itulah yang diharapkan.

Selain itu, beberapa skill juga mesti dievaluasi di kalangan alumni diantaranya adalah communication skill, academic knowledge, skill of thinking, management skill. Skill tersebut merupakan bagian dari program kewirausahaan sebagai bekal bagi para lulusan dalam masyarakat. Tentu saja perlu dilakukan riset untuk mendapatkan kesimpulan yang valid dan reliabel. Kesimpulan tersebut akan digunakan dalam melakukan upaya penyempurnaan program wirausaha mahasiswa khususnya bagi perguruan tinggi yang masih belum terlalu menerapkan program tersebutSelamat berjuang untuk perguruan tinggi dan para wisudawan!

*tulisan ini telah dipublikasikan oleh Koran Harian Tribun Timur tanggal 17 Desember 2011
Post a Comment