Friday, 23 January 2015

P.K.

Masih teringat rasa jengkel kepada ibuku karena setiap hari memaksaku menyikat gigi sebelum  saya berangkat ke sekolah dan sebelum tidur. Sebenarnya itu adalah jumlah minimal sebab dia sering menyuruh sikat gigi pada selain dari kedua waktu tersebut. Statement andalannya “gigimu akan berlubang dan kamu akan sakit gigi jika malas membersihkan gigi”. Walaupun dongkol dan terpaksa, saya tetap mengerjakan perintahnya. Saya tidak bisa membantahnya karena dia benar, hampir tidak ada kebahagiaan rasanya ketika sakit gigi.

Beberapa tahun kemudian, saya semakin sadar betapa beruntungnya saya memiliki seorang ibu yang dengan sabar memarahi dan mengingatkanku untuk menyikat gigi dengan benar. Alangkah celakanya, seandainya ibuku menyerah untuk mengingatkan rutinitas penting itu. Dia berarti tak peduli lagi kepadaku seandainya ia berhenti untuk marah. Dan akibatnya, saya pasti tidak akan memiliki kesempatan menimati makanan yang keras-keras pada hari ini. Padahal, beberapa makanan hanya akan terasa enak ketika ia mengeras, misalnya es batu

***

Beberapa hari yang lalu, saya dan 114 orang hebat dari penjuru nusantara berkumpul di Wisma Hijau, Depok, sebagai peserta PK atau Persiapan Keberangkatan angkatan ke-24 LPDP. Sebuah kegiatan singkat yang hanya berlangsung selama enam hari, dari tanggal 11 sampai 16 Januari 2015. Disana, terdapat seorang pria yang sering marah-marah, dengan cara yang intelek tentunya. Menurutku, dia sangat hebat karena yang dia marahi adalah peserta PK yang sebagian lebih tua darinya. Padahal dia tahu bahwa peserta ini adalah calon pemimpin masa depan, mereka adalah calon PhD, calon bupati, calon CEO, calon menteri, bahkan juga calon presiden. Namanya adalah Mohammad Kamiluddin, PIC PK LPDP―kami memanggilnya Pak Kamil.

Saya yakin, kebanyakan diantara kami sangat jengkel ketika dia hadir untuk menyemprot kata-kata yang mengungkit serangkaian kesalahan yang telah kami lakukan. Perasaan saya, kehadirannya seakan selalui disertai oleh guntur dan ruang auditoriom tempat kami berkegiatan seolah menjadi mendung. Hal ini terjadi pada dua hari awal pelaksanaan PK. Jika ada peserta yang tidak jengkel, itu pasti hanya beberapa orang saja. Bisa jadi mereka memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, mampu menerima kesalahan dengan cepat, atau dia sedang tertidur.

Jangan disangka bahwa Pak Kamil marah karena kami tidak sikat gigi―sebaliknya, gara-gara dia beberapa kali saya tidak sempat menyikat gigi. Seperti yang telah saya sebutkan, kemarahannya karena kesalahan kami juga. Itulah mengapa, walaupun kami mampu berkilah seperti anggota dewan, kami tidak melakukannya. Karena kami sadar bahwa yang dia katakan memang benar.

Sebagai contoh, saya adalah orang terakhir yang memasuki auditorium pada hari pertama sebelum ia mengunci pintu. Akibatnya, beberapa peserta tidak bisa memasuki ruangan dan harus menunggu di luar―berharap keajaiban pintu dapat terbuka. Alasannya, telah diumumkan sebelumnya bahwa sesi akan dimulai pada pukul 13.00 (kalau tidak salah ingat). Namun pada waktu yang ditentukan itu, hanya ada dua orang yang datang ontime. Parah bingits memang. Setelah menunggu 15 menit, barulah terkumpul sekitar 50 persen peserta. Dan itu pun mereka datang dengan santai―saya perkirakan Pak Kamil juga jengkel kepada kami.

Sekitar 30 menit kemudian, peserta yang terkunci diluar dipersilahkan bergabung. Nampaknya Pak Kamil masih bermurah hati. Ketika kami hadir dengan jumlah lengkap, dia lalu menjelaskan kembali akan pentingnya waktu. Dia mencontohkan pemateri yang diundang adalah orang profesional yang memiliki kegiatan terjadwal. Jika peserta datang terlambat, bisa jadi LPDP dianggap tidak profesional.

Kami tidak banyak berargumen karena kami sadar bahwa dia benar tentang pentingnya waktu. Bukan masalah pada seberapa singkat waktu istirahat yang diberikan, tetapi bagaimana kami me-manage waktu itu. Itulah diperlukan strategi menggunakan waktu secara efektif.

Kejadian yang lain adalah kegiatan penanaman mangrove sebagai program Social Creative Contribution. Pada sesi evaluasi, setelah kembali dari kegiatan ini, kembali kami mendapatkan “siraman rohani” dari Pak Kamil. Dia mengatakan bahwa kami tidak kompak. Alasannya, masih banyak yang tidak aktif mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dia membuktikan dengan menanyakan persentase keaktifan kami. Alhasil, dapat dihitung jari jumlah orang yang merasa aktif diatas 75%.

Lagi-lagi kami tidak menyanggah karena dia bisa membuktikan kesalahan kami. Dia menunjukkan bahwa kami memang tidak kompak.

Menariknya, kami merespon pernyataan-pernyataan pedasnya dengan berusaha tidak mengulang kesalahan yang telah kami lakukan. Juga, hebatnya kami tidak terjebak oleh rasa jengkel sehingga kami bisa berusaha memperbaiki diri baik secara personal maupun secara kolektif. Jika ingin menghitung durasi kejengkelan, sungguh, rasa itu hanya sesaat. Terbukti, selanjutnya kami berkegiatan tepat waktu meski secuil peserta masih satu dua kali terlambat beberapa detik. Pada kegiatan selanjutnya kami pun nampak lebih menyatu. Terlihat saat outbound, kami bisa berakrab ria satu dengan yang lain. Juga pada saat penutupan, meski sederhana, kami bisa menampilkan yang terbaik untuk para pengunjung.

***

Sama dengan cerita tentang sikat gigi sebelumnya, saya sangat bahagia karena memiliki ibu yang suka marah-marah mengingatkan saya untuk sikat gigi. Sekarang, lagi-lagi saya bersyukur karena diangkatan PK 24 ada Pak Kamil yang suka marah-marah, mengingatkan kami bahwa kami memang angkatan yang tidak kompak. Beruntungnya, kami bukan orang yang suka menolak kebenaran sehingga kami bisa berbenah dalam waktu sekitar tiga hari saja.

Bagaimana jadinya jika Pak Kamil tidak berperilaku menjengkelkan? Mungkin kami tidak akan hapal mars LPDP, tidak punya yel-yel, dan tidak memiliki penutupan PK yang berkesan. Mungkin komunikasi kami tidak akan sehangat sekarang dan group whatsapp kami tidak akan mencapai seribu chat perhari. Mungkin kami akan mengerjakan tugas sendiri-sendiri tanpa memikirkan teman lain alias mementingkan diri sendiri. Secara pribadi, saya juga mungkin tidak akan berani merusak reputasiku yang telah kubangun bertahun-tahun dengan menari maga-maga. Semua itu saya lakukan untuk menyatu dengan angkatan ini. Hasilnya? Betapa cairnya hubungan kami tidak hanya tiga hari terakhir PK, tetapi hingga saat ini, dan saya yakin akan terus berlanjut―mungkin ada yang hingga ke pelaminan.

Terlepas dari keajaiban yang telah terjadi dengan angkatan kami, dari jengkel menjadi lengket, bagi saya Pak Kamil telah melakukan hal yang sangat luar biasa. Dia memiliki arah yang jelas tentang apa yang dia harapkan atas kami yakni menanamkan nilai-nilai integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Tidak mungkin kami bersinergi membangun Indonesia kelak jika di angkatan PK 24 saja kami tidak dapat bersinergi. Namun spesialnya bukan pada nilai-nilai tersebut, tetapi bagaimana cara dia menanamkannya kepada kami.

Kami akan melupakan semua nilai-nilai itu jika dia hanya berdiri dan berceramah. Namun kami tidak pernah melupakan bagaimana dia membuat kami merasa. Dia membuat kami merasakan pentingnya integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Memang benar kami belum mencapai kesempurnaan, namun paling tidak kami sadar dan terus mencoba untuk semakin kompak. Layaknya beton yang butuh waktu untuk mengeras secara sempurna.

Maka dari itu, melalui tulisan sederhana ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Kamil, tentu saja beserta dengan seluruh anggota tim-nya. Perannya sangat vital pada pelaksanaan PK. Tanpanya, akibat vatal akan terjadi pada angkatan kami, yaitu ketidak-kompakan, bahasa kerennya tanpa bounding. Saya curiga, jangan-jangan PK itu adalah singkatan dari "Pak Kamil".

NB: Catatan ini diposting setelah kopdar PK24 Yogyakarta yang dihadiri oleh Akbar, Pradipto, Harjum, Rafid,  Ardi, Hijrian, Sari, Rizka, Roya, Gaby, Ika, Novi, Sakina, dan saya, MY.
Post a Comment