Saturday, 17 January 2015

Salam Rindu Buat Peserta PK-24 LPDP



Beberapa hari yang lalu, masih dalam rangkaian Persiapan Keberangkatan (PK) angkatan 24, saya melihat postingan di internet dimana seseorang mengungkapkan kekecewaannya karena tidak lolos BPI LPDP. Saat itu saya termenung, betapa beruntungnya saya bisa menjadi penerima BPI dan akhirnya mengikuti PK bersama 114 peserta luar biasa lainnya. Bisa jadi, mereka yang tidak lolos lebih baik daripada kami, tetapi barangkali mereka kurang beruntung pada saat ini. Selain bersyukur kepada Tuhan, dalam hati saya berkomitmen bahwa tidak akan saya sia-siakan LPDP ini, termasuk acara PK-nya.
Bagi saya, PK adalah momen yang sangat spesial. Ketika saya berharap tugas-tugas pra-PK saya juara, ternyata tak satu pun dari mereka yang bisa menjadi yang terbaik. Eh, tak disangka, malah saya mendapatkan hadiah sebagai peserta terunik, bukan bagian dari tugas. Entahlah mengapa bisa, soalnya menurut saya, semua peserta unik. Perhatikanlah bagaimana merdunya suara presenter Sakinah dan orasi khutbah Kak Harjum, betapa terguncangnya hutan Lanud TNI AU ketika Rizka terbang memegang tali, atau betapa lincahnya Akbar menari tanpa baju, walaupun karena menontonnya saya teringat pada media rangka manusia di sekolahku dulu. Belum lagi cerita pengalaman dan keahlian mereka masing-masing, semua unik. Mungkin, alasan logis mengapa saya menjadi ter-unik adalah karena saya udah nikah.

Salah satu yang menarik dari PK ini adalah tugas-tugasnya. Bagi saya, panitia tak perlu menjelaskan apa manfaat tugas-tugas tersebut, sebab tanpa dijelaskan, saya sudah merasakan banyak manfaatnya. Sebagai contoh, tugas-tugas pra-PK meningkatkan keterampilan scanning-skimming. Hal ini karena tugas pra-PK membiasakan saya untuk membaca ribuan pesan di milis dan group dalam waktu yang cepat. 

Selain itu, saya melihat bahwa PK membuka kesempatan kepada para peserta untuk membangun keluarga sakinah fitrian, maksud saya sakinah mawaddah warahma, melalui berbagai interaksi kegiatan dan penugasan. Buktinya, LPDP cuma menerima laki-laki dan perempuan―diluar kedua jenis manusia itu LPDP tolak. Syukurlah, sebab tahun 2016 bujang akan ditembak mati (guyon). Untung saya sudah nikah sehingga tidak perlu bermanufer lagi.

Saat ini, PK telah selesai. Namun sepertinya, PK kemarin belum optimal dalam hal penelusuran jodoh. Buktinya, output yang dihasilkan hanya beberapa pasang katanya, dan itu masih belum ter-publish. Untung masih ada Duma alias dunia maya untuk berkomunikasi. Jika boleh menyarankan, untuk yang laki-laki, dekati dia yang engkau puja itu dan katakan, “saya ingin menikahimu dan akan tetap mencintaimu meskipun engkau telah menopause nanti”. Jangan biarkan dia lama menunggu, karena perempuan itu butuh kepastian.
 
Sekedar berbagi tips, ingat tiga prinsip jodoh. Pertama, semua di dunia ini dilahirkan berpasang-pasangan. Ini berarti, setiap dari kita punya pasangan. Tetapi jika tidak dicari, kita tidak akan pernah tahu siapa pasangan kita. Kedua, orang baik akan mendapatkan orang baik pula. Olehnya itu, jika ingin mendapatkan pasangan yang baik, maka kita harus membuat diri kita baik terlebih dahulu. Yang ketiga, jodoh itu ada di tangan Tuhan. Tapi ingat, jika tidak diambil, maka akan tetap di tangan Tuhan.

Akhirnya, saya harus bersedih. Sedih karena ketika benih-benih cinta mulai tumbuh, kita malah harus berpisah. Bedanya, yang sudah berkeluarga sedikit lebih ringan karena mereka punya suami atau istri di rumah. Yang jomblo sedikit lebih kasian karena susah move-on. Walaupun demikian, saya juga kurang jelas, karena saya baliknya ke Yogya, jauh dari teman-tema peserta PK sekaligus juga jauh dari istri.

Namun begitulah kehidupan, waktu mempertemukan kita dan waktu pula yang memisahkan kita. Beruntungnya, kita bisa memanfaatkan waktu singkat itu dengan baik. Memang, salah satu kompetensi pemimpin adalah mereka yang bisa berpisah sementara dengan orang-orang dan tempat yang mereka cintai.

Semoga kebaikan senantiasa tercurahkan untuk teman-teman peserta PK-24 LPDP. Jaga stamina fisik, karena jika kita sakit, kita sulit bergerak dan bersinergi membangun Indonesia. Jaga stamina intelektual karena kita tidak cukup membangun Indonesia dengan rasa, melainkan juga dengan pengetahuan dan keterampilan. Dan jaga stamina moral karena pemimpin itu diikuti, dan yang pantas diikuti adalah mereka yang bermoral.

Pelukan Erat dari Yogya,

Wahyuddin (MYeah)

Peserta PK-24 LPDP

Mahasura Khatulistiwa
Post a Comment