Tuesday, 26 May 2015

TIPS LOLOS SELEKSI PENGAJAR MUDA, INDONESIA MENGAJAR

Kemarin, tanggal 25 bulan 5 tahun 2015, saya mengikuti roadshow Indonesia mengajar angkatan XI di Universitas Negeri Makassar sebagai pembicara. Acara yang terselenggara atas kerja sama IM dengan Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Negeri Makassar ini dihadiri bukan hanya mahasiswa UNM selaku tuan rumah, tetapi juga oleh mahasiswa dari kampus lain di Makassar seperti UNHAS dan UIN Alauddin. Sungguh luar biasa rasanya bisa berada dalam forum yang dihadiri oleh anak-anak muda yang semangatnya begitu bergelora untuk mengabdi kepada bangsa dan negaranya.

Sebenarnya, sejak purna tugas sebagai Pengajar Muda angkatan IV pada tahun 2013, saya telah beberapa kali menjadi pembicara pada beberapa seminar, yakni di hadapan ratusan mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UNM, guru-guru se-Sulselbar pada seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh Career Development Center UNM, dan yang terakhir pada pelatihan calon guru SM3T. Namun, semua acara tersebut saya hadiri atas nama pribadi yang memiliki pengalaman sebagai Pengajar Muda. Baru kali kemarin saya ikut acara IM secara resmi sebagai narasumber.

Selalu terasa emosional melihat mereka yang bergelora semangatnya untuk mengabdi sebagai voluntir di daerah tertinggal. Bahkan hati saya bergetar ketika menonton kembali video pelepasan Pengajar Muda di youtube yang ditampilkan oleh panitia roadshow. Pengalaman sekitar tiga tahun lalu masih begitu baru dalam ingatanku. Suara lantang semangat Calon Pengajar Muda saat latihan di Batujajar masih terdengar dengan jelas di telingaku. Gulungan ombak menyapu pasir putih dan tawa ceria anak-anakku di Pulau Gili begitu indah dalam memoriku. Itulah sebabnya, saya menjawab pertanyaan dari host dan peserta roadshow dengan suara dan mimik yang ekspresif. Bahkan mungkin paling keras diantara para narasumber yang lain.

Saya sempat bercerita tentang pengalaman saya di pulau selama setahun lebih, tetapi ceritanya hanya secara garis besar saja. Waktu tiga jam tidak cukup rasanya untuk mengungkapkan suka dukanya. Bahkan buku pengalaman yang saya tulis, Si Guru Bantu, melampaui 700 halaman, yang pada akhirnya saya potong sebagian agar biaya produksinya lebih murah. Akhirnya tinggallah hanya 235 halaman.

Sebuah hal menarik yang ditanyakan oleh peserta pada saat roadshow ini adalah mengenai cara lolos Indonesia Mengajar. Rasanya jawaban saya perlu saya informasikan kepada para pembaca khususnya bagi mereka yang ingin menjadi Pengajar Muda. Informasi ini sangat penting karena menurut saya sangat banyak orang yang berkualitas dan minatnya sangat besar untuk menjadi PM tetapi tidak lolos karena tidak melalui seleksi dengan baik.

Essay dan Wawancara

Satu-satunya cara untuk menjadi PM adalah melolosi seleksinya. Nah, melolosi seleksinya itu yang relatif sulit. Dalam hal ini, yang paling penting adalah mengetahui syarat dan cara pendaftarannya. Hal ini mudah karena bisa dilihat di websitenya. Mereka yang benar-benar ini menjadi PM tentunya akan sering mencari info tentang IM dengan cara mengunjungi websitenya.

Jangan habiskan waktu anda hanya untuk menanyakan kepada orang lain bagaimana cara mendaftar IM. Saya rasa hal ini juga berlaku untuk institusi lain misalnya mendaftar beasiswa. Informasi sudah tertera di website tinggal kita bagaimana memanfaatkan kuota internet dengan baik. Jika kebanyakan bertanya kepada orang lain hal-hal yang sudah tertera jelas di website, bisa jadi kita terkesan tidak ingin mencari tahu. Kecuali jika informasi itu kurang jelas.

Saya tidak tahu pasti syarat detail perekrutan IM saat ini. Mungkin telah terjadi beberapa perbedaan pada masa saya mendaftar. Yang mutlak adalah calon Pengajar Muda sudah sarjana, belum menikah dan siap tidak menikah selama masa penugasan. Tenang saja, ini cuma setahun, kok. Yang bikin stress itu kalo tidak menikah selamanya.

Adapula syarat lain yang ditetapkan misalnya IPK minimal 3.0 dan umur tidak boleh lebih 25 tahun — mungkin masih ada syarat yang lain. Inilah yang menjadi syarat waktu saya mengikuti seleksi. Sepertinya, persyaratan ini masih berlaku hingga saat ini.

Banyak orang yang ciut nyalinya karena syarat IPK dan umur tidak terpenuhi. Parahnya, hal ini tidak bisa dirubah misalnya menjadi lebih muda. Beda dengan pengalaman organisasi, anda masih bisa berorganisasi pasca kuliah dan akhirnya CV anda bisa menjadi lebih panjang.

Padahal, jika kemauan anda besar untuk menjadi PM, daftar saja karena pengalaman saya, saya punya teman yang IPK nya biasa-biasa saja dan umurnya “offside” dari 25 tahun, tetapi lolos bersama dengan saya. Hal ini karena mereka bisa meyakinkan pihak penyeleksi. Orang-orang seperti ini, yang melampau batas-batas, adalah orang-orang hebat. Mereka tidak ciut oleh aturan. Mereka bernegosiasi dengan luar biasa.

Nah, jika telah memenuhi syarat, maka ikutilah seleksi tahap awal yaitu seleksi berkas yang diisi via online. Anda tidak perlu khawatir karena isian online-nya tidak susah. Tinggal mengisi data sesuai dengan data pribadi anda dan saya yakin data diri anda pasti dihapal mati, misalnya nama dan tanggal lahir. Yang perlu diperhatikan dengan baik adalah pengisian essai. Kalau tidak salah ingat, ada 12 essai pada saat saya diseleksi. Sebenarnya essai juga relatif gampang karena pertanyaannya sudah ada. Tinggal anda menjawabnya dalam bentuk uraian dengan jumlah maksimal kata yang telah ditetapkan.

Nah, persoalannya adalah, bagaimana cara kita menulis essai yang powerful. Saya katakan kepada peserta bahwa essai yang mereka akan tulis harus menginformasikan kepada penilai bahwa mereka memiliki keterampilan problem solving, resilience, dan gaining commitment. Jadi, cerita yang mereka tuliskan adalah cerita yang memuat pesan bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi-kompetensi di atas.


Nah, timbul sebuah pertanyaan. Mengapa tiga komponen informasi tadi penting ditampilkan? Hal ini karena IM menginginkan Pengajar Muda yang memiliki tiga kompetensi itu. Mereka akan dihadapkan pada masalah setiap harinya di lokasi penempatan yang tingkat kesukarannya bisa jadi jauh lebih sulit dari kehidupan kampus atau kerja. Masalahnya bermacam-macam, bisa berupa kurangnya fasilitas, ditolak masyarakat, aparat yang tidak mendukung, dan masih banyak lagi. Mereka dituntut mampu memecahkan masalah itu.

Saya yakin masih banyak lagi kompetensi yang harus dimiliki para Pengajar Muda. Semakin anda tahu kompetensi apa itu, maka semakin mudah anda untuk menampilkan kualitas anda yang sesuai karakter Pengajar Muda. Cara yang saya anjurkan untuk mengetahui karakter-karakter tersebut yaitu dengan mengunjungi web IM serta membaca cerita para Pengajar Muda.

Namun demikian, Pengajar Muda bukan supermen yang akan menyelesaikan masalah sendiri. Mereka harus mampu mengajak orang lain di lokasi penempatan untuk sama-sama mengatasi masalah itu. Pada akhirnya adalah sikap tahan banting. Karena jika PM-nya cengeng, bisa jadi mereka selesai sebelum waktunya.

Pendaftar mesti menulis sebuah essai yang menguraikan sebuah permasalahan yang dia hadapi dalam kehidupan masyarakatnya atau di organisasinya. Lalu, dia mengutarakan perannya dalam komunitas tersebut. Selanjutnya apa yang dia lakukan dalam menyelesaikan masalah dan yang mesti dicantumkan juga adalah apa dampak positif yang atas tindakannya itu. Bagaimanakah dia terlibat dalam penyelesaian masalah tersebut.

Banyak peserta yang hanya menuliskan pengalaman hebatnya misalnya jabatan tinggi seperti ketua atau presiden pada sebuah organisasi, atau mungkin prestasi gemilang hingga level international. Tetapi mereka lupa menulis apa yang dia lakukan dan apa dampak positif dari pengalamannya itu. Sebagai ilustrasi, mungkin ada yang merasa essainya akan bagus dengan menulis dirinya sebagai ketua umum sebuah lembaga kemahasiswaan selama setahun dan mendapatkan banyak prestasi untuk lembaganya. Padahal belum tentu demikian.

Akan lebih berbobot essainya jika ia menulis masalah yang tejadi di organisasinya, misalnya terjadi konflik internal yang membuat organisasi terancam bubar. Dengan perannya sebagai ketua umum, dia melakukan mediasi dan hasilnya pihak yang berkonflik menjadi damai dan organisasinya kembali stabil. Ini hanya contoh sederhana.

Jadi bukan faktor penentu anda ketua atau hanya anggota. Jangan berpikir pengalaman tidak pernah menjadi top leader di organisasi menghilangkan kemungkinan untuk lolos. Yang penting adalah bagaimana anda meyakinkan penilai dengan cerita yang mengandung empat komponen di atas. Komponen essai ini dikenal dengan istilah situation, task, action, and result yang disingkat STAR. Semakin besar masalahnya, semakin vital perannya, semakin tidak biasa usahanya, dan semakin besar impaknya, maka semakin besar pula peluang untuk mendapatkan nilai bagus, yang berarti kemungkinan lolos juga lebih besar.

Tips yang sama juga berlaku untuk sesi wawancara. Bedanya adalah, melalui essai kita bercerita secara tertulis sedangkan pada wawancara secara verbal. Namun intinya sama, jelaskan bagaimana anda menjadi problem solver, tahan banting, dan mampu melibatkan orang lain untuk bergerak. Semua ini dijelaskan dengan prinsip STAR.

Saya pikir, tips ini juga aplikatif untuk semua seleksi, misalnya seleksi menjadi karyawan pada perusahaan-perusahaan ternama. Hal ini saya rasakan ketika mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Saya bercerita dengan prinsip STAR di atas. Alhamdulillah saya lolos beasiswa ini walaupun seleksinya sangat ketat.

Ada model pertanyaan yang lain yang tidak mengeksplor peran anda di masyarakat. Sebagai contoh apa kekurangan dan kelebihan anda. Untuk pertanyaan seperti ini, jangan ragu untuk menjawabnya. Jika menjelaskan kekurangan, barengi dengan apa tindakanmu untuk mengatasi kelemahan itu. Tidak menjawab dengan jelas bisa jadi mengindikasikan anda tidak mengenal diri sendiri.

Jawablah essai dan pertanyaan lainnya dengan jujur dan tulus. Tidak usah memberikan cerita yang super dramatis dan heroik tapi tidak jujur karena penilai/pewawancara bisa mengetahui hal itu. Atau paling tidak, ketika anda lulus, akan kelihatan anda tidak setangguh dengan cerita yang anda tuliskan.

Terakhir, essai ini ditulis tidak dalam keadaan terburu-buru. Maka dari itu, hindari memulai menulis pada saat deadline. Luangkan waktu untuk mereview essai, jika perlu, minta beberapa teman yang anda percaya untuk membacanya. Revisi jika ada yang perlu direvisi. Jika kawan-kawan anda itu tidak berkerut dahinya karena bingung, jika mata teman anda berbinar karena terinspirasi, dan jika teman ada jujur mengatakan essai anda bagus, maka saya yakin juri pun akan mengatakan pendapat yang sama.

Sebagai contoh yang mungkin bisa menginspirasi Anda, essay yang saya gunakan untuk pendaftaran Penagajar Muda angkatan ke-empat bisa dilihat disini.

Praktek Mengajar

Namanya Pengajar Muda sudah pasti pekerjaan utamanya adalah mengajar, walau pada akhirnya tugas diluar itu akan bermunculan baik satu per satu maupun bersamaan. Oleh karena itu, praktek mengajar menjadi penilaian saat seleksi. IM ingin melihat potensi kecakapan anda mengajar.

Praktek mengajar dan wawancara dan mungkin ada tes lain diujikan pada tahap kedua yang disebut direct assessment. Berarti, untuk bisa sampai pada tahap ini peserta harus melewati seleksi tahap satu yang diteskan secara online tadi.

Nah, biasanya peserta akan diminta menyiapkan sebuah topik/materi tingkat SD untuk diajarkan pada saat seleksi. Uniknya, yang diajar adalah teman-teman sesama peserta dan para alumni PM yang berpura-pura sebagai siswa SD dalam sebuah ruang kelas. Biasanya mereka hadir karena kebetulan dekat dengan lokasi tes. Tantangannya adalah walaupun para peserta bukan lagi anak-anak — ada yang gondrong dan berjenggot lebat — mereka bertingkah seolah-olah anak SD. Ada yang menangis, berlari, mengganggu temannya, mau pipis, mau main, mau pulang, dan lain sebagainya.

Pada tahap ini, penting untuk menguasai materi yang diajarkan. Hal ini tidak sulit karena anda bisa memilih materi yang paling disukai dan latihan jauh hari sebelum tes. Anda juga bisa menyiapkan alat bantu pembelajaran. Bagusnya yang sederhana saja yang terbuat dari bahan bekas yang mudah didapatkan karena pada saat anda mengajar nantinya sebagai PM, mungkin fasilitas sekolah tidak lengkap. Saat tes dulu, saya menggunakan karton yang saya model menjadi denah.

Walaupun penguasaan materi penting, pengelolaan kelas jauh lebih penting. Anda mesti menunjukkan bahwa anda mampu mengelola kelas yang super ribut. Jadi, jangan sampai ada siswa anda yang keluar sembarangan tampa minta izin. Atau jangan sampai kelas anda bubar akibat keonaran para siswa.

Berdoa

Upaya yang tidak boleh dilupakan dalam setiap usaha adalah berdoa. Jika anda mendaftar IM tentunya anda yakin bahwa IM ini yang terbaik untuk anda daftar. Maka daftarlah dengan setulus hati dengan niat karena ingin mendapatkan keridhaan Tuhan. Jika memang benar-benar ini terbaik buat anda, maka niscaya Tuhan akan meloloskan. Sebaliknya, jika tidak lolos, mungkin menjadi PM bukanlah yang terbaik bagi anda untuk saat ini.

Luruskan kembali niat. Dengan niat yang baik saja akan mendapatkan pahala. Jika niat tersebut dikabulkan, anda akan merasakan dampak yang sangat luar biasa menjadi PM. Saya merasa bahwa ilmu dan wawasan saya meningkat pesat dibandingkan sebelum menjadi PM, teman-teman super hebat bertambah semakin banyak dan tersebar di Indonesia, optimisme pun semakin menguat, dan yang lebih penting lagi adalah saya mempunyai pengalaman memahami akar rumput bangsa Indonesia. Alhamdulillah saya bisa bercerita panjang lebar hingga menulis buku berdasarkan pengalaman ini.

Kekhawatiran anda dan yang lain saat ini untuk mendaftar IM sama dengan kekahawatiran saya dulu. Khawatir tentang karir, keselamatan, keluarga, dan sebagainya. Namun alhamdulillah saya bisa melaluinya dengan selamat. Selain kekhawatiran, saya juga yakin bahwa hal yang akan sama adalah mengenai kesyukuran. Kesyukuran saya hari ini karena pernah menjadi PM juga akan anda katakan ketika lolos jadi PM nantinya.


Selamat mendaftar menjadi Pengajar Muda!

Selamat menginspiras!

Selamat menebar amal jariyah!

Dan, semoga sukses!


Catatan: Tips ini hanya berdasarkan perasaan, pengalaman dan pemikiran penulis. Tim IM dan penyeleksi lebih tahu alasan diloloskannya seseorang sebagai Pengajar Muda.


Post a Comment