Tuesday, 21 July 2015

Beberapa Jam Setelah Tiba di Adelaide_Butuh Internet

19 Juli 2015


Alhamdulillah sampai juga di Adelaide… belum pernah saya melihat kota seindah dan serapi ini sebelumnya. Tak ada sepotong sampah pun yang saya lihat di jalanan. Tak ada satu mobil pun yang parkir sembarangan. Tak ada pengemis di lampu merah yang menghadang. Tak ada klakson mobil yang membuat telinga meradang. Inilah sedikit kesan pertama yang saya lihat sejak tiba di bandara tadi siang. 

Seketika itu pula saya mengingat kota-kota di negaraku. Bukan untuk membanding-bandingan bahwa kota ini lebih baik bukan sama sekali, karena kebaikan itu relatif, apalagi bicara tentang kenyamanan. Saya cuma berpikir kemajuan-kemajuan kota sejenis Adelaide bisa dipelajari dan diadopsi. Saya mengagumi arsitek sebagai perancangnya dan pemerintah yang merawatnya. Pastilah masyarakatnya juga perpendidikan sehingga sadar ikut menjaga kotanya dengan luar biasa.

Sayangnya, pesona Adelaide tak mampu menahan kerinduanku akan negaraku, kampung dan rumahku. Disini, dalam beberapa jam sejak kedatanganku, semua nampak asing rasanya. Ketika sebelumnya orang tinggi besar berambut pirang begitu jarang, sekarang mereka dimana-mana bertebaran. Seandainya ada pasar tradisional, maka penjual kangkung dan tukang parut kelapanya pun adalah mereka pasti penjual somay-nya juga. Hanya orang-orang China dan sedikit orang Afrika yang ikut berlalu lalang di jalanan. Tak ada Bahasa Indonesia apalagi Bahasa Bugis, yang ada Bahasa Inggris yang super cepat. Kayaknya IELTS listening 7 pun masih akan berkerut dahinya mencerna apa yang mereka bilang.

Rasanya hidup seperti sebatang kara. Asli sebatang kara. Jika saya tidak berpikir ini sementara, mungkin saya telah berputus asa. Jika saya tidak mengingat cita-cita, pastilah saya sudah kalah. Jika saya tidak yakin bisa mengatasi masalah ini dalam beberapa jam atau beberapa hari ke depan, pastilah saya sudah merana.

Beberapa kali saya berbicara dengan mahasiswa internasional dari Negara lain di asrama agar ada interakasi dengan manusia lain. Kadang-kadang, kalo bukan saya yang bingung, dia yang melongo. “Wajarlah, kan masih baru” saya menghibur diri sendiri. Kunjungan ke Rundle Mall tadi sore, sebuah kompleks perbelanjaan terkemuka di kota ini, lumayan memberikan hiburan. Tapi itu hanya sementara. Rasanya sama saja ketika kembali ke kamar dan sendiri. Galaunya kambuh lagi.

Setelah saya analisis lebih dalam mengapa rasa mellow ini menjadi parah, saya menemukan penyebabnya. Saya menyalahkan koneksi internet. Saya belum punya koneksi internet. Bukan untuk update status di media sosial, tetapi untuk berkomunikasi dengan keluargaku, walau hanya sebatas pesan teks.

Saya ke toko handphone tadi sore, tapi katanya harus ada kartu mahasiswa dan account bank. Masalahnya saya belum melakukan enrollment di kampus karena baru tiba tadi siang sehingga belum bisa memiliki kartu itu. Saya resah karena tahu keluargaku sedang resah tak menerima kabar dari saya.

Inilah rasanya betapa penting komunikasi dengan keluarga, khususnya orang tua dan istri/suami, bagi yang beristri atau bersuami tentunya. Jika saja bukan karena kangen kepada mereka, saya tidak akan bangkit dari tempat tidur melawan dinginnya Adelaide yang mengalahkan heater ruangan. Padahal saya telah memakai dua lapis baju, dua lapis jaket, dua lapis celana panjang, sleeping bag, dan selimut. Belum lagi sepatu gunung yang saya pakai di dalam ruangan.

Saya bangkit melawan dingin untuk menulis. Paling tidak menulis bisa meluapkan kerinduan walaupun tak bisa langsung di-publish. Menulis adalah obatnya penyakit perasaan.
Sebenarnya saya punya solusi untuk mencari orang lalu meminta bantuan dikirimkan satu pesan singkat ke Indonesia. Namun bukan perkara mudah bagi saya yang baru saja tiba di tempat sedingin ini. Jangankan mencari orang, ke kamar mandi saja untuk wudhu rasanya sangat berat. Baru buka pintu kamar, dinginnya langsung menyerang.

Alangkah beruntungnya mereka yang saat ini tinggal dengan keluarganya atau mudah menghubungi keluarganya. Jika mereka merasakan apa yang saya rasakan, maka pastilah mereka akan memanfaatkan kebersamaan mereka. Dia tidak akan menunda-nunda untuk menghubungi keluarganya, walau sekedar kalimat “apa kabar”.

Ahhh, jaringan internet…

Mohon maaf kepada orang tua dan istriku sayang karena terlambat mengabarkan bahwa saya telah tiba dengan selamat di Adelaide. Dan saya baik-baik saja.
Alhamdulillah…

Post a Comment