Friday, 7 August 2015

Di Adelaide, Menelpon ke Pulau Gili



7 Agustus 2015
Hari minggu besok adalah hari penggenapan pekan ketiga saya berada di Adelaide, sekaligus akan menjadi hari dimana saya memasuki unit baru. Unit tersebut akan menjadi tempat tinggal saya yang ketiga dalam tiga pekan ini dimana sebelumnya saya tinggal selama satu minggu di Royal Adelaide Hospital dan dua minggu di Bagot Avenue. Sedikit demi sedikit, walaupun lambat, saya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di ibu kota Australia Selatan ini.

Malam ini tidak begitu dingin seperti malam-malam yang lalu. Setelah selesai menghafal empat ayat baru dalam surah Al Fajr, saya meniatkan menelpon keluarga. Target saya memang bisa menghafal Al Qur’an minimal juz 30. Saya mulai melakukannya, dengan dibantu sang istri, sejak menonton Hafidz Quran pada bulan Ramadhan lalu. Sebuah tontonan yang sangat menginspirasi. Karena otak saya tidak sehebat waktu saya anak-anak dulu, maka cukuplah beberapa ayat per hari.

Saya kemudian mencari nama-nama yang hendak saya telpon di HP-ku sambil berbalut selimut yang tebal. Nomor yang pertama adalah adikku, dengan maksud ingin berbicara dengan orang tuaku. Tidak sulit menelpon ke rumah sebab desaku berada di daerah pegunungan. Mungkin karena itulah selular mudah mendapatkan jaringan dari pemancar terdekat. Namun saya tidak terlalu lama menelponnya. Ternyata, ayah ibuku belum kembali dari kebun. Saya baru sadar bahwa disana masih terang, sedang disini sudah jam tujuh lewat. Akhirnya saya tutup telpon-nya dan akan menelpon beberapa jam lagi.

Saya lalu berpikir siapa lagi yang mesti saya hubungi. Saya teringat kepada orang-orang Pulau Gili dimana saya dulu bertugas sebagai Pengajar Muda selama setahun. Mereka telah saya anggap dan rasa sebagai kerabat. Sudah cukup lama rasanya kami tidak saling menyapa. Beberapa minggu lalu sebelum saya kesini, kadang saya memimpikan murid-murid saya. Mungkin hasrat saya untuk berkunjung ke Gili dan merindukan anak-anak terseret ke dalam dunia mimpi.

Dari sekian banyak nomor telpon orang Pulau Gili, hanya Danial yang aktif. Tidak terlalu lama saya mendengar nada tunggu, seorang anak telah menyahut di ujung sambungan sana. Saya tahu itu adalah Danial. Betapa bahagianya saya bisa bercakap-cakap lagi dengan salah satu murid di kelas yang saya ampu dulu. Rasanya baru saja saya pergi dari Pulau Gili, ternyata sudah tiga tahun lamanya. Kini dia sudah berada di kelas tiga.

Tidak lama Danial bicara, ayahnya mengambil telpon dan bertanya siapa saya dengan suara datar. Setelah saya jawab Wahyuddin MY, spontan intonasinya terdengar surprise. Mungkin tidak menyangka saya akan menelpon. Terdengar dia memberitahukan kepada orang lain yang bertanya kepadanya bahwa yang menelpon adalah Pak Wahyu.

Tiba-tiba suara di ujung sana berganti dengan suara perempuan. Yah, saya kenal suara itu, suara ibu Danial. Dia luar biasa senangnya. Saya tahu dengan antusiasnya dia bicara dan apa yang dia sampaikan. Dia berterima kasih karena katanya telah banyak membantu Danial. Bahkan dia bilang bahwa Danial juara dua pada sebuah kompetisi, juga menjadi juara kelas. Padahal rasanya tidak banyak yang saya lakukan untuknya, yang banyak adalah bermain.

Namun yang membuat saya beranjak setelah percakapan kami berakhir dan menuliskan cerita ini adalah ketika dia mengingatkan saya pada acara perpisahan. Dia bertanya apakah saya masih ingat waktu dia mengantar saya ke pelabuhan Sangkapura. Saya jawab pasti saya ingat.

Memang benar, saya masih ingat betul detail bagaimana anak-anak dan para orang tua mengantar saya ke pelabuhan. Ingat bagaimana Murti menyalami saya sebanyak tujuh kali. Ingat bagaimana ibu-ibu memberikan uang yang tidak bisa saya tolak, mulai dari lima hingga lima puluhan ribu kepada saya. Katanya untuk bekal pulang. Ingat jelas suara anak-anak menangis. Ingat bagaimana saya menahan tangis saat bersalam-salaman, namun tumpah ketika mereka tidak melihat saya lagi. Khusus untuk Danial, saya ingat bagaimana dia sedang sakit ketika saya akan berangkat.

Ibunya mengungkit itu lagi. Katanya pasca kembalinya saya dari Gili, Danial sakit selama dua bulan. Lazimnya di kampung, pengobatan tradisional atau dukun masih menjadi tempat alternatif. Setelah diobati oleh sang tabib, kata ibu Danial, tabibnya bilang bahwa anak itu lagi kangen seseorang. Dia pun menyimpulkan bahwa dia kangen Pak Wahyu.

Sedih rasanya mendengar cerita tadi. Dulu, belum sampai saya di Mamuju, dan masih berada di Surabaya, anak yang lain ada yang sakit dan mengigau menyebut nama saya. Bahkan ada orang tua yang menelpon menangis agar saya kembali ke Pulau Gili. Bagaimana lagi, itu adalah konsekuensi pasca penugasan. Walaupun ikut sedih, saya hanya bisa menyampaikan bahwa waktu akan membuat semuanya menjadi baik.

Saya bersyukur telah ditempatkan di Pulau Gili dan mendapatkan keluarga baru disana. Hanya silaturahmi yang bisa saya jaga saat ini walau sekedar melalui telpon. Disini, di kelas-kelas baru saya, pengalaman saya sebagai guru volunteer, mengajar anak-anak di pulau terpencil, cukup membantu saya dalam berdiskusi. Suatu hari nanti, saya akan kembali berkunjung ke pulau yang luar biasa ini.
Post a Comment