Thursday, 29 October 2015

Feedback and Appreciation from my Lecturers



Saya akan menulis tentang dua video presentasi terakhir yang saya posting di Facebook. Video yang menyenangkan, bukan hanya karena saya bisa melewatinya tanpa keringat dingin dan suara bergetar, tetapi dosennya memberikan apresiasi dan feedback positif setelahnya.

 

Pertama mata kuliah Assessment and Evaluation. Tadi siang, dari belasan group presenter, group saya disebut sebagai group presenter terbaik pada session kali ini. Anda tidak percaya? Apalagi saya… hehehe.. Sebagai apresiasi, dosennya memberikan hadiah gantungan kunci. Saya perkirakan harganya murah di tokoh assessoris, tapi akan menjadi mahal ketika dikonversi ke rupiah.

 

Pada mata kuliah yang lain, Pedagogical Engagement and Learning, saya telah presentasi sekitar 20 menit. Tidak ada hadiah-hadiahan disini, tetapi yang saya dapat berupa feedback. Kemarin dosennya mengirimkan email yang yang mengatakan bahwa saya bisa menyelesaikan presentasi dengan baik.

 

Kedua hal ini biasa-biasa saja memang. Orang telah berbagi aprepiasi dari tingkat nasional atau internasional, malah tingkat kelas yang saya bicarakan. Namun jika tujuan untuk membandingkan tingkatannya, maka jelas hal tadi tidak ada gunanya. Namun yang membuatnya menjadi bernilai tinggi karena dua hal.

 

Pertama, saya bisa tahu bahwa saya mengalami perkembangan, dan tahu apa yang saya harus perbaiki. Kadang, hanya dari orang lain kita tahu apa yang mesti kita perbaiki atas kesalahan kita. Hal ini penting, karena jika tidak ada perkembangan, saya bisa depresi memikirkan waktu yang saya buang selama berbulan-bulan. Saya masih ingat betapa cemasnya saya pada awal semester ketika mengetahui bahwa presentasi tiap kelas sekitar tiga kali. Teman saya dari Vietnam yang sudah kuliah sejak tahun lalu bilang “we cannot hate presentation, because we will do that very often.”


Dimasa lalu ketika di UNM, saya pernah lebih cemas dari ini karena memikirkan tugas. Nyatanya saya bisa melaluinya. Itulah mengapa saya yakin hal yang sama akan terjadi lagi.
Kedua, apresiasi mampu membuat yang diapresiasi percaya akan kemampuannya. Hal kecil memang, hanya email dan gantungan kunci, tetapi membuat saya ingin presentasi lagi dan lagi. Membuat saya berani bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa senior yang presentasinya begitu keren dan mempesona.

 

Saya tuliskan pengalaman singkat ini karena sayangnya, kedua tindakan sederhana tersebut masih tidak dilakukan oleh banyak pendidik, termasuk orang tua. Kadang mereka lupa memberikan apresiasi ketika anaknya melakukan pencapaian sederhana dalam hidupnya. Bahkan pada perihal sekecil seorang anak yang bisa mengancing bajunya sendiri, atau berani ke kamar mandi sendiri pada tengah malam, atau bisa mencuci sepedanya sendiri.

 

Pada pelatihan Pengajar Muda angkatan empat Indonesia Mengajar, kami bahkan diajarkan tepuk apresiasi. Yeah, tepuk tangan adalah salah satu apresiasi yang berharga.

 

Pengalam pribadi, dulu di kampung saya yang terpencil, saya tetap ke sekolah walau tidak diberi uang jajan, sedangkan anak yang lain tak berangkat tanpa uang. Ketika teman-teman saya suka terlambat, saya datang pagi-pagi ke sekolah, kadang panjat pohon cengkeh, lalu makan bekal sambil menunggu anak-anak yang lain datang. Alasan lain yang kadang muncul mengapa teman-teman malas ke sekolah yaitu tidak ada sendal dan tidak ada air untuk mandi. Saya berangkat tanpa sendal, hanya cuci muka dan rambut hingga kulit kayak bersisik. Asyik…

 

Tidak ada yang special tentang ini. Sebab salah satu mengapa saya rajin ke sekolah, karena saya tidak mau disuruh ke kebun. Baru jalannya saja sudah berkilo-kilo meter dengan tanjakannya yang super, apalagi kerjanya. Namun para kerabat saat itu menganggapnya spesial karena beda dengan anak yang lain, sehingga mereka sering bilang ke saya, “kamu adalah harapan daerah kita.” Saya SD saat itu dan masih mengingatnya sampai sekarang.

 

Analisis saya saat ini, paling yang mereka maksud adalah adanya perwakilan dari mereka untuk jadi PNS, menjadi guru SD menggantikan ayah saya jika pensiun. Mereka memang kadang mengatakan ini. Untungnya saat itu, saya memahaminya sebagai harapan tentang kontribusi bagi perbaikan mereka. Kalimat mereka memotivasi saya, sangat powerful, dan memberikan saya kepercayaan diri.

 

Dan hari ini, baru saya temukan teorinya. Menurut Humanism Theory, learning is creating empowerment and emancipation. The students today will be agents of change in their society tomorrow, but they will do that if they have quality and capacity. However, educators can’t internalize empowerment and emancipation when their pupils have no confidence, self-belief, trust, and emotional activities. So, what they have to do is making their students feel confident.

 

Feedback dan apresiasi kecil yang kita berikan kepada anak bisa saja biasa, namun dampaknya bisa menghadirkan kepercayaan diri yang luar biasa, mengakar hingga mereka dewasa.

 


Adelaide, 29 Oktober 2015

Post a Comment