Saturday, 9 April 2016

Berita di Sosmed (#reflective writing)



Ahaaaaa, break semester terhitung Senin besok telah tiba. Tentu asyiklah dapat libur selama dua minggu. Namun jangan sangka ini break for holiday, karena kenyataannya ini adalah break for study. Jadi dua minggu itu bukan untuk jalan-jalan ke Kangaroo Island atau ke Uluru di jantung gurun merahnya Northern Territory yang dipercaya telah berumur 700 juta tahun. Bagaimana tidak, tugas menulis dari tiga mata kuliah due date-nya dalam waktu tiga minggu ke depan. Sebenarnya, tantangannya bukan karena harus menulis ribuan kata untuk satu tulisan, tetapi bagaimana tulisan itu menggunakan referensi yang berkualitas. Harus dari buku dan jurnal-lah, yang terbarukanlah, dan dengan kriteria “layak kutip” lainnya. Kalau hanya nulis bebas, yah satu draft buku mungkin bisa jadi dalam satu bulan ini.

Tetapi namanya Mahasiswa, menulis adalah sesuatu yang biasa. Salah satu kegiatan produksi untuk akademisi adalah menulis. Namun yang saya pikir menarik dan kemudian menuliskannya disini adalah bagaimana harus mengutip sesuatu yang layak tulis. Si-dosennya selalu memperingatkan, katanya mahasiswa itu harus punya critical thinking, misalnya lihat dengan seksama literature suatu berita, apa telah di-review dengan baik atau tidak.  

Nah, menariknya adalah untuk urusan sekuler seperti ini saja, tentang hidrologi, biologi, gedung, perminyakan, behaviourism, dll, kita harus pakai critical thinking. Nah bagaimana dengan persoalan agama. Ini sengaja larinya ke agama, maklum-lah akhir-akhir ini sering ikut kajian mingguan KIA. Awalnya karena motif ingin makan, tapi akhirnya sadar juga bahwa belajar agama itu penting :).  Dan katanya menyampaikan nasehat keagamaan itu adalah misi kenabian.

Nah kebetulan pertemuan tadi pak ustad-nya bacakan surat Al Hujurat (49:6). Artinya di tafsir saya “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”. Dari ayat ini, ternyata apa yang disyaratkan dalam kegiatan penalaran dalam dunia akademisi juga diperintahkan untuk umat muslim, yaitu “critical thinking”. Jadi kalau ada berita harus dilihat baik-baik dulu baru diterima, apalagi disebarluaskan. Hal itu bisa dilakukan dengan double check, tanya langsung ke orang yang diberitakan, dengan mengkritik sumber berita, dll. Kata pak ustad, itulah alasan mengapa sanad dalam ilmu per-hadist-an sangat penting. 

Beberapa hari yang lalu, dalam kuliah tentang Online Learning saya bilang bahwa salah satu aspek negative-nya social media adalah banyaknya berseliweran hoax and hate speech. Nah tak sedikit itu bicara tentang agama. Terus, parahnya adalah beberapa users hobinya share saja berita sejenis itu tanpa yakin berita itu benar, yang mungkin karena senang saja denga isi beritanya. Padahal kadang berita itu dari “blogspot” yang bicara tentang agama, yang tak jarang meng-salah-kan salah satu orang atau golongan tertentu. Nah kalau sumber dari situs-situs blogspot itu saya gunakan untuk referensi untuk thesis saya nanti, yang notabene-nya tentang sekuler (maksud saya duniawi), mungkin si Mr/Mrs supervisor saya akan melempar tulisan saya itu. 

Lalu bagaimana dengan bidang lain, politik misalnya. Lebih parah kayaknya! 

Sebagai refleksi mingguan saya, jangan-jangan saya telah menyebarkan sebuah berita yang saya pikir benar padahal tidak benar, dan itu telah membuat orang lain dirugikan. Akhirnya hal itu membuat saya menyesal gara-gara tidak memeriksa dengan teliti seperti yang disuruh-kan dalam ayat tadi. 

Terima kasih untuk kajian dari H. Sukendar, MA (Phd Candidate Flinders Uni).

Post a Comment