Tuesday, 12 July 2016

Kepekaan saat Bersosialisasi Online

Pada hari yang sama, di dua group yang berbeda, terdapat salah satu member group tersebut yang mengirimkan postingan yang mungkin bersifat dakwah keagamaan. Saya sebut mungkin karena kebenarannya masih bisa diragukan. Keduanya memang telah melakukan pola ini terus menerus dan konsisten pada konten serupa. Saya pribadi sama sekali tidak meragukan niat mereka untuk mengingatkan dalam hal kebaikan untuk sesama di group.

Respon member yang lain bisa ditebak. Ada yang berkomentar bagus, ada yang keberatan secara halus, dan ada yang tersinggung dan menjadikannya sebagai kasus. Namun ada pula yg mendiamkan tapi di group lain mempermasalahkan. Dan tidak sedikit yang tidak ambil pusing dengan hal ini sebab mereka mungkin tidak membacanya sama sekali.

Berkenaan dengan konten, saya kadang suka dengan postingan mereka, informasinya sangat membantu untuk refleksi diri. Beberapa diantaranya saya starred agar mudah dibaca kembali. Namun kemudian menjadi masalah ketika hal tersebut bisa menyinggung pemeluk agama lain. Hal itu wajar karena setiap orang juga akan tidak merasa nyaman jika ada member beragama lain, berpartai politik lain atau bersuku lain, lalu memposting sesuatu yang mengatakan bahwa agama, suku, atau partainyalah yang paling baik. Tentu saja setiap orang boleh atau bahkan mestinya mengakui miliknya itulah yang terbaik, bukan milik orang lain.

Maka standarnya tidak terlalu sulit, yaitu jangan melakukan sesuatu kepada orang lain yang kita sendiri tidak suka diperlakukan demikian. 100 persen agama saya yang paling diridhai Tuhan; yang lain pun mungkin mengatakan demikian. Tapi rasanya tidak layak mengatakan itu dalam sebuah komunitas heterogen dimana komunitas tersebut awalnya dibentuk untuk tujuan yang lain, bukan untuk membahas isu keagamaan. Di beberapa group yang punya konsensus membolehkan, maka beda lagi situasinya.

Tentang niat baik untuk saling mengingatkan dan berdiskusi adalah sebuah hal terpuji. Tapi sayangnya tidak selamanya yg kita anggap baik adalah baik dan yang kita anggap benar adalah benar. Kadang BC, link, video atau ads yang kita anggap seru, penting dan bermanfaat, tidaklah demikian menurut orang lain. Dan dalam konteks komunitas online, orang-orang lain tersebut kadang merasa niat mereka untuk bergabung ke group tidak diapresiasi karena seringnya menemukan postingan yang sangat jauh dari identitas komunitas. Akibatnya mereka hanya buka group untuk menghapus notifikasi atau akhirnya left group jika sudah gak tahan.

Group yang efektif tentunya harus memiliki komunikasi yg efektif pula, termasuk dalam merespon hal-hal yg dianggap tidak sesuai disimpan di group. Aturan formal tidak harus dibuat kecuali jika itu betul-betul dibutuhkan. Tapi sayangnya, aturan dan peringatan tidak selalu hadir untuk dipatuhi. Jika demikian kondisinya, apalah guna berdakwah jika ada saudara kita yang tersakiti hatinya. Pada hari penghakiman nanti, kita akan bertanggungjawab apakah kita adalah alasan orang lain semakin dekat dengan kebenaran atau malah menjauh dari Tuhan.

Tentang kejadian ini pula, saya semakin yakin betapa pentingnya kecerdasan emosional untuk kita miliki. Kecerdasan itulah yang membuat kita mampu membaca ketidaknyamanan orang lain atas apa yang kita lakukan, termasuk saat berinteraksi dalam komunitas online. Kecerdasan itu pula yang membuat kita bisa menelaah respon dan masukan dari orang lain. Karena apalah artinya giat memperingatkan, tapi ketika giliran diingatkan, malah tidak mengindahkan.

Salam,
WMY

"Tulisan ini dibuat sebagai refleksi berdasarkan pengalaman yang dikaitkan dengan mata kuliah yang baru saja selesai, online learning (pembahasannya termasuk online community/community of practice). Syukur awal semester lalu memutuskan mengambil mata kuliah yang seru ini. Pandangan lain dibolehkan di kolom komentar, siapa tau dari sana saya dapat inspirasi untuk tulisan teaching and learning festival UoA bulan ini :D"
Post a Comment