Friday, 2 September 2016

Berikan Pesan Positif di Negara Orang

Ketika mengajar di sekolah dasar di pulau Gili beberapa tahun yang lalu, salah satu pulau yang sangat kecil nan terpencil di kabupaten Gresik, saya selalu berupaya untuk mengajak murid-murid saya ke luar pulau, khususnya ke Jawa. Tujuannya adalah untuk membuat mereka sadar bahwa Indonesia ini jauh lebih besar dari pulaunya, kemudian berinteraksi dengan siswa baru yang berlatar belakang berbeda dengan mereka; agama yang berbeda, suku yang berbeda, bahasa daerah yang berbeda, dan sebagainya. Belajar meradaptasi dan berdamai dengan perbedaan jauh lebih penting ketimbang belajar mata pelajaran formal di sekolah. Alasannya, mata pelajaran tersebut tidak selamanya terpakai ketika kelas selesai, apalagi pada masa depan ketika anak-anak telah dewasa. Misalnya, bukan hal aneh jika seseorang ketika kanak-kanak jago biologi, tapi ketika besar suksesnya menjadi musisi; atau anak yang nampaknya akan menjadi musisi, tetapi nyatanya menjadi politisi.

 

Lain halnya dengan perbedaan antar individu. Ketidaksamaan antara diri sendiri dengan orang lain akan selalu dialami oleh siapa pun selama dia masih bernafas dan tinggalnya tidak menyendiri di hutan belantara. Sayangnya, jika anak-anak yang tidak pernah diajarkan tentang aplikasi toleransi di sekolah dan di rumah, lalu suatu ketika hidup dan berinteraksi di lingkungan yang super heterogen, maka mereka akan merasa yang paling baik dan hebat dari yang lain; atau sebaliknya.

 

Pelajaran tentang menerima perbedaan sangat penting untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Memang benar bangsa ini telah hidup selama berabad-abad dengan semangat hormat-menghormati, bahkan sebelum kemerdekaan diproklamasikan, kita telah memiliki bahasa pemersatu untuk menyatukan banyak suku. Bangsa ini telah lama menerapkan management of differences atau mengelola perbedaan, jauh sebelum demokrasi dikumandangkan dalam sistem kenegaraan. Tapi juga perlu diingat, tak sulit kita jumpai orang yang mulutnya menerima perbedaan dan katanya menjunjung tinggi bhineka tunggal ika, tapi aksinya mematikan semangat toleransi.

 

Pesan Positif


Kembali ke persoalan mengajak anak-anak ke luar daerah, guru sebagai pembimbing dan memimpin rombongan harus memastikan bahwa siswa-siswa yang mereka ajak telah mengenal baik kampung halamannya sendiri sebelum mereka pergi. Dia harus yakin bahwa anak-anak memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang bisa dibanggakan dari daerahnya, yang akan mereka ceritakan dengan antusias kepada orang-orang yang mereka temui dalam perjalanannya. Jangan sampai mereka menjadi perantau yang tak kenal tanah asalnya, sehingga mereka hanya menganga mendengar kehebatan cerita orang, sedangkan mereka tak mampu bercerita tentang daerah asalnya sendiri.

 

Prinsip di atas bukan hanya terbatas kepada anak-anak SD yang melakukan study tour ke daerah lain, tetapi juga sangat relevan untuk mahasiswa-mahasiswa yang sedang menimba ilmu di luar negeri. Sebagaimana kita ketahui bahwa ribuan anak muda kita sedang dan akan belajar di universitas terkemuka di belahan dunia yang lain. Hal ini sebuah harapan, dimana kita punya kesempatan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Di lain sisi, mereka adalah duta bangsa yang akan mengabarkan kepada bangsa lain tentang bagaimana Indonesia sesungguhnya. Dengan demikian, mereka harus memiliki kualitas sebagai juru bicara yang baik, yaitu mampu menyampaikan informasi yang benar dengan cara yang tepat.

 

Karena mereka adalah pelajar, pesan ke-Indonesia-an akan mereka sampaikan lebih banyak dalam suasana akademis. Mereka akan dibawah pada situasi untuk menjelaskan masalah dan tantangan di Indonesia dalam bentuk diskusi, presentasi, maupun essai. Disaat itulah, mau tidak mau mereka harus berbicara tentang fakta masalah di Indonesia, misalnya tentang kualitas literasi dan enumerasi dibawah rata-rata, politisasi pendidikan, rendahnya kualitas guru, kurangnya partisipasi orang tua, korupsi yang merajalela, mirisnya sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.

 

Berbicara tentang buruknya Indonesia bukanlah sebuah hal yang terlarang, sebab tidak mungkin mereka berbicara mengenai negara lain yang mereka tidak kenal. Selain itu, mereka bisa mendapatkan feedback tentang solusi yang bisa diambil untuk mengatasi persoalan yang mereka kemukakan. Namun hal yang perlu diingat adalah selalu berhati-hati dengan generalization, yakni seolah-olah sebuah persoalan sebagai representasi Indonesia secara keseluruhan. Kenyataanya, Indonesia telah mencapai banyak perubahan yang sangat besar dan pesat, misalnya telah memiliki universitas yang berkualitas, tokoh yang berintegritas dan murid yang berprestasi, meski di beberapa daerah kondisinya berkata sebaliknya.

 

Pesan positif perlu disisipkan jika tidak ingin membuat mereka yang sebelumnya hanya tahu sedikit tentang Indonesia, menjadi tahu lebih banyak tapi hanya yang buruk-buruknya saja. Itulah mengapa sangat kurang adil ketika ada yang berbicara di forum internasional dengan bahasa asing yang fasih, tapi hanya tentang kondisi buruknya Indonesia. Mungkin itu benar, mungkin itu hasil riset. Fakta tersebut bukan untuk ditutupi, bahkan sebaliknya, sangat bagus untuk diungkapkan untuk membuka ruang berdiskusi. Namun jika lupa mengingatkan audiensi bahwa informasi itu hanyalah kasuistik, dan bukan representasi atas Indonesia secara keseluruhan, kebenaran kecil itu bisa mengaburkan kebenaran yang lain, bahwa Indonesia nyatanya telah mengalami banyak perubahan positif sejauh ini.
Post a Comment