Sunday, 18 September 2016

Pengalaman Pertama Sebagai MC


Entah apa yang dipikirkan Raissa sehingga dia meminta saya menjadi MC dengannya di acara Language and Cultural Engagement Night, Adelaide University, yang akan dihadiri oleh sekitar seratusan mahasiswa. Padahal perawakan saya sangat berbeda dengan Afgan, meski saya akui suara saya ada kemiripan dengannya kalau dia menyanyi sambal kejepit pintu. Pembenaran Raissa adalah bahwa saya dan dia akan menjadi MC yang hebat karena sama-sama murid “kesayangan” Julia di kelas Qualitative Research, sehingga asumsinya, kami akan sukses.

Tapi masalahnya, bagaimana saya harus nge-MC di event berbahasa Inggris, sedangkan MC dalam acara berbahasa Indonesia saja belum pernah. Jika ini di dunia Naruto, MC adalah misi para ninja jounin, sebab bukan hanya harus berpenampilan menarik, tetapi juga harus berkelakuan “mengigit”. Ini layaknya saya disuruh berenang dengan dicelupkan langsung ke laut, tanpa didahului pengalaman berenang di kolam ikan, apalagi di kolam susu. Dan parahnya, jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia saya saja masih sering dikoreksi oleh teman-teman; contohnya jika saya bersyair “ember merah yang selalu memabukkan diri kuanggap, beelum sebeerapa…”.


Karena terus diyakinkan, akhirnya saya iya-kan juga. Meski kenyataannya ketika tidur saya harus bermimpi jadi MC, ketika makan, nasi di piring saya bentuk menjadi tulisan MC, dan bahkan harus nonton youtube hanya untuk belajar cara anggun memegang mic. Untungnya, nama saya tidak dirubah menjadi Wahyuddin MC. “Tapi ini bukan tentang persolan menarik mengambil perhatian, ini adalah tentang berani mengambil resiko”. Saat mengucapkan kalimat ini, saya lagi nyudut di kamar mandi dengan guyuran air dari shower.

“Harus berani-lah” dalam hati saya. Lagi pula, siapa juga yang sangat peduli dengan fasih berbahasa. Pak Yusuf Kalla juga tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia, misalnya saat ber-semboyang “lebi cepa’ lebi bae’”. Apalagi Pak Jokowi, dia pun tidak terlalu hebat berbahasa Inggris, kecuali kalimat “I’m happy today” tentunya. Tapi terbukti, keduanya merupakan speaker yang sangat efektif.

Yang jelas, yang dengar mengerti apa yang dikatakan. Dan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah apa yang kita bilang tidak menyakiti hati orang lain. Jangan salah, banyak orang yang fasih berbicara, tapi tidak bisa memilih kata-kata terbaik untuk bersepakat dengan orang lain, bahkan, mungkin kata-katanya menyayat hati pendengarnya.

Selain itu, yang membuat saya mau menerima tugas ini karena katanya, pesertanya adalah international students. Dalam pikiran saya, kalau international students, pasti banyakan dari China, Vietnam, Myanmar dan India. Kalau nge-MC di depan mereka bebannya tidak terlalu berat, sebab, pengalaman di kelas mereka juga tidak terlalu hebat English-nya. Misalnya, student diucap stadent. Lah, nyatanya beberapa menit sebelum acara dimulai, yang hadir nampaknya mayoritas local students. Toeng... Tapi tenang, saya sudah siap mental dengan ini - always predicting unpredictable thing.



Singkat cerita, acara berjalan dengan lancar. Meski MC laki-lakinya biasa-biasa saja, MC perempuannya luar biasa mantap. Heboh deh pokoknya. Peserta dari awal hingga akhir bisa dibilang engaged. Berdasarkan feedback dari mereka, hampir semua memberikan nilai maksimal (10), hanya beberapa orang yang memberi nilai hampir 10. Untuk indikator kualitatif, ada peserta yang mengatakan ini acara LCE terbagus yang pernah dia ikuti.

Semua orang malam itu penuh ceria. Penampilan Saman, Rebana dan Angklung benar-benar menarik. Terkhusus untuk Adelindo Angklung, penampilannya yang ini yang paling saya nikmati setelah menontonnya berkali-kali di banyak acara di Adelaide. Dan para peserta juga banyak yang memuji. Bagaimana tidak, kita semua diajak main angklung.

Bagi saya pribadi, saya sangat senang karena target saya sebagai MC sudah tercapai: tidak pinsang, tidak gemetaran dan lidah tidak kaku. Meski belum bisa dikategorikan sebagai MC kondang(an), paling tidak, peserta bisa joket Sisigore, layaknya siswa saya di pulau Gili.

Kepercayaan adalah kata kunci yang saya pelajari hari itu. Kepercayaan yang diberikan kepada seseorang bisa membuatnya yakin akan dirinya. Meski ini tidaklah cukup, sebab dia juga harus diyakinkan bahwa semua siap menerima konsekuensi atas kepercayaan itu; konsekuensi sukses sekaligus gagal.

Di awal, Raissa Mataniari menggambarkan bahwa kami akan mendapatkan applause yang meriah dari penonton, tapi kalau tidak, we will collapse together, and at this moment, Ajong will be ready to drag us to the backstage. Selain itu, saya belajar banyak dari bagaimana orang-orang di PPIA Adelaide Uni kompak bekerja sama, termasuk doa dan kehadiran. Menurut Anies Baswedan, kehadiran adalah salah satu bentuk iuaran partisipasi yang berharga. Ketika saya pulang nanti, pelajaran ini pastilah sangat berguna.

-Thank to PPIA UoA for giving me this memorable experience-
Post a Comment