Monday, 26 June 2017

MENTERI PENDIDIKAN BARU: PERTANYAAN & HARAPAN

Diterbitkan di Harian Tribun Timur, 2 Agustus 2016
Oleh: Wahyuddin MY 
Alumnus UNM, Master of Education Candidate, The University of Adelaide

Teka-teki reshuffle kabinet dalam beberapa hari belakangan telah terjawab melalui pengumuman daftar menteri baru oleh Presiden RI Joko Widodo untuk meneruskan kabinet kerja selama kurang lebih tiga tahun ke depan. Banyak kalangan merasa puas akan pengumuan ini, dimana beberapa nama yang dianggap kredible ditarik masuk ke dalam kabinet. Namun tidak sedikit pula yang meragukan keputusan tersebut, sebab beberapa nama yang sebelumnya dikira dipertahankan malah digantikan, dan beberapa nama yang diperkirakan dikeluarkan ternyata tidak tersentuh sama sekali.

Salah satunya adalah Anies Baswedan yang sebelumnya menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan digantikan oleh Muhadjir Effendy. Hal ini mungkin aneh sebab Anies ketika menjabat sedang memperlihatkan performa yang sangat baik, bahkan para aktor pendidikan menganggap kehadirannya sebagai menteri adalah cahaya baru untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
Biasanya, pejabat dicopot karena tidak berprestasi. Nah, apakah Anies benar tidak berprestasi sebagai menteri pendidikan? Jawabannya bisa dilihat dari kebijakan-kebijakan
yang beliau ambil, yang bisa dianggap sebagai rintisan dan terobosan dalam dunia pendidikan kita. Sebagai contoh, beliau berani mencabut Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan sehingga mengurangi beban dan kecemasan belajar siswa, mengevaluasi kurikulum 2013 untuk dilaksanakan ketika sudah siap, menekan kekerasan dan perpoloncoan saat perekrutan siswa baru, dan masih banyak lagi.

Namun prestasi Anies yang tidak kalah penting adalah beliau mampu menerapkan konsep engagement, yakni melibatkan banyak pihak untuk sadar dan bekerja untuk pendidikan secara kolektif. Sebagai contoh, beliau mengajak para orang tua untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pendidikan, sehingga kita sadar bahwa pendidikan bukan hanya tugas para guru di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah, dan belajar bukan hanya tentang masalah kognitif saja, tetapi juga memperbaiki budi pekerti. Proses engagement ini kemudian membuatnya semakin “mesra” dengan siswa, guru dan para education stakeholders.

Dari sudut pandang yang lain, muncul sebuah pertanyaan bahwa apakah Anies dicopot karena bisa mengancam kepentingan kelompok politik yang lain? Hal ini mungkin saja sekedar teori, tapi bisa jadi ada benarnya. Anies adalah seorang yang jenius, punya track record yang gemilang, menyelesaikan master dan PhD-nya di USA, sejauh ini tanpa cacat politik, diakui sebagai tokoh berpengaruh dunia, dan yang lebih penting lagi adalah beliau mampu "menghipnotis" banyak orang melalui pidato dan tulisan-tulisannya. Kita bisa lihat bagaimana dia diidolakan oleh banyak anak muda. Jika sebelumnya dia hanya banyak dikenal di kalangan akademisi, dia perlahan dikenal oleh masyarakat kelompok awam. Nah, menahan Anies di kabinet berarti memberikannya kesempatan untuk terus tebar pesona. Dengan asumsi dia tak melakukan kesalahan yang fatal, dia bisa menjadi ancaman bagi pihak tertentu untuk pemilihan presiden periode-periode yang akan datang.

Pelajaran

Di atas hanyalah asumsi sebab yang tahu pasti mengapa Anies diganti adalah Presiden Jokowi. Yang jelasnya, Jokowi telah mengatakan bahwa dia mengharapkan reshuffle ini dapat memperkuat kinerja pemerintah untuk mempercepat program pembangunan. Jokowi pastinya telah mempertimbangkan dengan matang pilihan mengganti Anies Baswedan, meskipun bagi sebagian orang nampak kontroversial.

Mereka yang kenal betul Anies Baswedan tidak akan kecewa dengan pergantian ini. Malahan, Anies kembali mengajarkan akan pentingnya integritas, yakni kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Dalam bukunya "Melunasi Janji Kemerdekaan", beliau menyebutkan bahwa followership adalah faktor penting yang harus kita miliki dalam bernegara, dimana kita tidak hanya harus siap menjadi pemimpin (leadership factors), tetapi juga dipimpin. Pada momen ini, dia perlihatkan bahwa dia telah menjadi memimpin dan pengikut yang baik, dengan menghormati keputusan Presiden dan terus mengajak kita memberikan dukungan untuk pemerintah dalam memajukan pendidikan.

Penggantinya, Muhadjir Effendy, juga bukanlah orang sembarangan. Beliau memiliki pengalaman yang panjang di bidang ini; menjabat rektor Universitas Muhammadiyah Malang dari tahun 2000 sampai 2016 adalah hal yang luar biasa, dia pun mempunyai banyak publikasi dan prestasi. Beliau juga telah ditempa di banyak organisasi, termasuk sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015 sampai 2020. Beliau adalah penerima penghargaan Satayalencana Karya Satya XX pada 2010 silam. Dari profil beliau, kita optimis bahwa beliau pasti bisa melakukan hal terbaik untuk peningkatan mutu pendidikan.

Pergantian ini bukan soal siapa menterinya, tetapi bagaimana program pendidikan tetap berjalan dengan baik. Kita sadari bahwa kesuksesan pendidikan sangat dipengaruhi oleh bagaimana sang policy maker mempunya visi dan kebijakan jangka panjang yang efektif; dan efektif atau tidaknya kebijakan tersebut tidak dilihat dalam masa yang sangat singkat. Harapannya, penggantian menteri ini tidak menghapus, menambah atau merubah secara ekstrim beberapa program yang baru saja di-launching sebelum dilakukan evaluasi.

Terima kasih kepada Anies Baswedan atas pengabdiannya sebagai menteri pendidikan. Kiprah dan terobosannya untuk bangsa dan negara terus dinantikan. Juga, selamat dan sukses kepada Muhadjir Effendy sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Semoga diberikan kekuatan mengembang amanah tersebut.
Post a Comment