Sunday, 16 July 2017

Alasan Saya Butuh Mobil di Adelaide

Mobil ini akhirnya sedang dijual. Bukan karena mesinnya tak kuat, umurnya yang tua, atau kondisinya yang tak karuan. Tapi ini semata-mata karena selesainya waktu kuliah sehingga saya siap kembali ke Indonesia. Harapannya, saya bisa ikut menambal persatuan.

Mobil ini bandel dan lincah. Alhamdulillah tak pernah mogok selama dipelihara, meski pernah tak bisa di-start karena lampunya berjam-jam menyala akibat sopirnya yang tergesa-gesa. Tergesa-gesa memang sering membuat kita lupa. Tapi setelah di-charge semuanya normal seperti sedia kala.


Seandainya mobil ini satwa, maka ia adalah kuda. Seandainya ia bersayap, pastilah bisa terbang. Dan saya akan rubah nama saya menjadi James Bond.
Ah tidak, tapi James Bond MY.

Saya menggambarkannya sebagai mobil petualang. Menemani saya berjuang dan mengantar istri di waktu luang. Menembus malam dan siang, di kampung orang berambut pirang. Meski sempat dua kali ditilang gara-gara aturan parkir yang tak sengaja dilarang.

Saya dulu memang carinya mobil kuat, agar bisa dikendarai di jalan menanjak, dan melaju di jalan tol di sepanjang Woodcroof dan Adelaide Hills dengan cepat. Belajar dari mobil pertama, saya harus berada di lajur kiri karena dia lambat dan tak kuat mendaki.

Ya, ini adalah mobil kedua. Sepintas saya bagaikan orang kaya. Kalau teman bertanya bagaimana mobil itu saya punya, maka saya akan tertawa. Mereka tak tahu kalau disini mobil harganya murah. Dengan tiga ratus lima puluh dolar, seseorang bisa dapat Ford Festiva. Di kampungku, uang segitu masih belum bisa dapat motor supra.

Bahkan secara teori, saya punya mobil ketiga yang juga Ford Festiva. Seorang teman memberikan mobilnya ke saya karena akan pulang ke Papua. Padahal hanya baterainya yang katanya perlu diperiksa. Sayang, saya tidak menerimanya karena satu mobil sudah cukup untuk kemana-mana. Begitulah di Adelaide, mahasiswa biasa bisa punya mobil sampai tiga. Tapi meskipun tiga mobil itu dikumpul, tetap saja lebih mahal satu motor bebek di Mamuju.

Kemudahan mendapat mobil disini sebanding dengan kebutuhan akan mobil itu sendiri. Soalnya kemana-mana harus mandiri, tak ada istilah jemput-menjemput karena semua punya kesibukan. Beda lagi jika punya urusan bersama dan masih ada kursi yang kosong.


Padahal banyak tempat yang harus didatangi. Memang benar bus dan kereta terfasilitasi tapi tetap saja tak semudah kalau memakai kendaraan sendiri. Apalagi pada Sabtu, Minggu, libur dan malam hari, waktu berlangsungnya kegiatan komunitas dan organisasi. Saat itu bus tidak seintens biasanya dalam beroperasi. Bahkan menunggu bus sejaman sudah saya rasakan beberapa kali. Kemudian jalur transportasi juga terbagi-bagi sehingga kita harus menyambung bus lebih dari sekali kalau lokasi tujuan jauh atau bervariasi. Kalau begini lama-lama saya bisa bikin puisi.

Gambarannya, lihatlah Makassar yang punya angkutan kota. Kalau Anda kuliah di Parangtambung dan mau berkegiatan di Unhas, maka Anda bisa habiskan dua jam bersama sopir angkot
. Durasinya bisa bertambah kalau mahasiswa sedang berdemo. Dan akan terasa lebih lama lagi kalau Anda emosi gara-gara kebetulan ketemu sopir yang minum sambil merokok di bulan puasa. Itulah mengapa banyak pelajar membeli motor supaya gampang kemana-mana, minimal jetcold yang bisa dipakai ke warung coto.

Murahnya mobil bekas didukung oleh gampangnya persuratan. Transaksi jual beli lima menit bisa diselesaikan. Tinggal isi form dua per tiga halaman, lalu mobil bisa dibawah pulang. Lalu bawa surat itu ke service SA, dalam sepuluh menit selesai balik nama, sekaligus durasi pajak jadi bertambah.

SIM juga tidak terlalu ketat. Alhamdulillah, dua tahun bermukim tak pernah menjumpa polisi yang mengadakan sweeping. Kita hanya perlu pakai SIM international yang dikeluarkan di Indonesia, karena kalau mau buat disini,mungkin bisa tes berkali-kali karena tak langsung lulus. Mau beli tanpa diuji juga tidak mungkin.

Kebanyakan orang termasuk saya hanya pakai translated SIM di kertas A4. Bahkan kalau yang translate dan international pun tak punya, cukup perlihatkan SIM yang ada, SIM C ataupun A. Kalau polisi bertanya, cukup bilang, C artinya "car" dan A maksudnya "all". Itulah yang disampaikan ke saya ketika baru tiba.

Orang membeli mobil untuk hanya keperluan kuliah biasanya jarang. Soalnya parkiran di kampus dan di kota lumayan mahal, bisa sekitar lima dollar dalam satu jam. Terlambat beberapa menit saja bisa kena tilang, seperti saya yang pernah dapat dua kali denda. Parkir gratis ada di jalan tertentu, tapi harus jalan kaki lagi dengan jarak yang cukup jauh. Biasanya saya parkir di Peacok Road, terus naik kereta listrik, lalu berjalan sepanjang Rundle Mall untuk sampai di kampus North Terrace.

Jadi, punya mobil sangat penting untuk jalan-jalan, apalagi kalau punya kerjaan sampingan. Misalnya setiap Sabtu ke pengajian, setiap minggu main bola bersama teman-teman, antar anak ke taman, atau buka puasa di kampus pada bulan Ramadhan. Kalau hanya untuk kuliah, bus Adelaide insyaallah selalu tersedia.
 

Terakhir, bagi yang memutuskan membeli mobil untuk pertama kali, mereka harus waspada dan berhati-hati. Aturan lalu-lintas harus selalu dipatuhi karena melanggar bisa dikirimi surat cinta dari polisi. Denda pelanggaran tidak tanggung-tanggung. Contohnya, tak pakai seat belt didenda $355, melewati batas maksimum kecepatan paling murah $450, nelpon dan chating saat menyetir dihargai $327, gagal berhenti ketika lampu merah bisa membayar $454. Jadi, kalau sudah lampu kuning, mending turunkan kecepatan, bukan ditancap ugal-ugalan.

Yang paling murah itu hanya denda parkir, sekitar $99. Kalau mau tau berapa banyaknya, kalikan saja dengan sepuluh ribu rupiah. Nabrak tiang lampu merah bisa sampai $2.000. Meskipun gak percaya, harap jangan coba-coba. Jangankan pelanggaran kayak tadi, pesepeda dan pejalan kaki saja bisa kena tilang. Serius, kejadian pejalan kaki ditilang polisi sudah saya temukan sebanyak dua kali. Ngeri.

Aturan-aturan ini bukan berarti mempersulit para pelalu-lintas. Sebaliknya, kebijakan menjadikan jalanan lebih tertib. Maka jangan bayangkan peseda motor merampas hak pejalan kaki.

Tapi tak perlu risau karena takut tak tahu aturan. Anda akan mudah beradaptasi selama Anda percaya diri. Karena kalau Anda lincah berkendara di Indonesia, berarti Anda lebih lincah berkendara di Adelaide. Apalagi kalau Anda sudah menaklukkan lalu-lintas di pasar Central kota Makassar.

Tapi meskipun percara diri, sangat penting berlangganan asuransi. Kalau tidak mau pakai road service, cukuplah third party property. Hal ini penting, karena bikin lecet mobil orang saja biayanya bisa ratusan sampai ribuan dollar. Asuransi jenis tadi akan men-cover kerusakan properti orang lain sebagai akibat dari mobil kita saat berkendara.

Lalu ada yang bertanya, kok mereka bisa tahu kalau kita melanggar?
Tentu saja bisa. Mereka berani membuat aturan ketat karena disertai dengan komitmen, fasilitas dan kualitas aparat. Jadi jangan senang kalau ada yang memotret di lampu merah, karena itu berarti surat cinta polisi akan tiba sebentar lagi. Jangan sangka bunyi klakson sebagai tanda persahabatan, karena itu berarti mobil Anda sedang melakukan pelanggaran. Maka jangan heran jika dalam sebulan di Adelaide, Anda mungkin hanya akan mendengar dua tiga kali suara klakson. 

Dari pengalaman ini saya belajar, jika kita ingin membuat aturan berjalan, maka sediakan fasilitas dengan petugas yang berkualitas dan berintegritas. Selebihnya, masyarakat harus diedukasi sehingga mereka tahu, sadar dan bangga akan pentingnya taat aturan. Jika ada orang bisa bangga ketika melanggar, kenapa tidak lebih bangga ketika taat.
Post a Comment