Sunday, 9 July 2017

Essay Calon Pengajar Muda Indonesia Mengajar


Salah satu topik yang paling sering ditanyakan kepada saya oleh mereka yang ingin mendaftar Pengajar Muda adalah tentang essay. Bagaimana menulis essay yang bagus, minimal sesuai kriteria Indonesia Mengajar? Tentang ini saya telah membuat sebuah artikel singkat berjudul Tips Lolos Seleksi Pengajar Muda, Indonesia Mengajar. Di dalam tulisan ini saya membahas tentang seleksi essay, wawancara dan praktek mengajar. Tidak panjang lebar, tetapi prinsip dari seleksi tersebut saya bahas disana. Alhamdulillah banyak yang membacanya dan memberikan komentar.

Nah, dari beberapa pengunjung tulisan tersebut, ada beberapa yang minta diberikan contoh essay saya. Permintaan ini juga sering dilakukan oleh beberapa teman calon PM, baik yang saya kenal sebelumnya ataupun yang belum. Alhamdulillah lagi, kalau tidak salah, sudah ada empat teman yang pernah berdiskusi tentang seleksi dengan saya lulus menjadi PM. Tentu saja bukan karena diskusi ini yang membuatnya lolos, tapi karena kualitas dirinya dan cara dia melalui seleksi dengan baik. Dan saya senang orang yang saya kenal diterima sebagai PM.

Setelah menggalinya di kumpulan folder-folder lama, akhirnya ketemu juga essay yang dimaksud dan saya share di halaman ini. Perlu dicatat, essay saya ini dibuat untuk seleksi Pengajar Muda IV tahun 2011. Sekarang sudah tahun 2017 dan berlangsung penerimaan PM angkatan XV. Dengan demikian, essay yang disyaratkan pada seleksi saat ini bisa saja masih mirip atau relevan dengan essay saya ini, tapi bisa jadi juga berbeda. Tapi saya yakin, terlepas dari relevansi dan kesempurnaan penulisan essay ini, prinsipnya akan selalu applicable untuk essay pendaftaran PM, bahkan dalam melamar pekerjaan.

All right, berikut adalah pertanyanyaan di aplikasi pendaftaran PM IV beserta jawaban saya.

1. Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?

Menjelang selesainya akademik saya di Universitas Negeri Makassar, beberapa pilihan hidup harus saya ambil. Beberapa anggota keluarga menyarankan untuk mendaftar pegawai negeri sipil atau mencari kerja pada perusahaan, serta beberapa keluarga yang lainnya menyarankan terjun ke dunia politik untuk persiapan pemilihan anggota DPRD tahun 2014 nanti. Namun cita-cita saya adalah ingin aktif dalam dunia akademik yakni sebagai pengajar dan peneliti, apakah itu di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Dengan mengikuti Pengajar Muda IM maka saya memiliki kesempatan belajar menjadi pengajar yang seharusnya. Dengan kesempatan tersebut, saya berharap mendapatkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pengajar yang berkualitas; tidak hanya mampu menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, tetapi lebih kepada bagaimana mendidik dengan sebaiknya.

Selain itu, saya ingin berkonstribusi dalam pembangunan pendidikan di daerah terpencil di Indonesia dimana guru-guru berkualitas sangat dibutuhkan. Saya telah melihat semangat perjuangan ayah saya yang mengajar di SD Terpencil Salupalli, sebuah sekolah dengan kualitas pengajaran yang rendah karena fasilitas dan tenaga pengajar yang minim. Padahal sebenarnya mereka juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagaimana anak-anak lainnya pada sekolah dasar di daerah perkotaan.

Saya berharap bisa menjalankan tugas dengan baik dan mengispirasi guru-guru yang lain di tempat saya ditugaskan, bahkan jika perlu orang tua/masyarakat dan pemerintahnya. Saya yakin tujuan tersebut dapat saya capai dengan melihat manajemen yang baik dilakukan oleh IM dan beberapa teman-teman yang telah menjadi pengajar muda selama ini. Pada akhirnya, saya akan kembali ke kampung halaman untuk melakukan pembangunan di bidang pendidikan, serta menjadi inspirasi.

2. Ceritakan satu pengalaman nyata dalam organisasi/pekerjaan dimana ada hambatan/masalah/tantangan yang pernah dihadapi. Bagaimana Anda mengatasinya dan bagaimana hasilnya?

Saat menjabat sebagai Ketua Panitia Karya Bakti Ilmiah (KBI) IV LPM Penalaran UNM tahun 2009, saya mengalami tantangan yang sangat berat. Saat pra kegiatan, tidak cukup 10 orang yang aktif dari 35 orang panitia pelaksana. Hal ini disebabkan karena saat itu adalah waktu libur dimana sebagian besar anggota Penalaran/panitia pulang ke kampung masing-masing; sebagian lainnya mengikuti program KKN, dan alasan-alasan lainnya. KBI itu sendiri merupakan kegiatan besar berupa multi even melalui konsep bakti sosial dalam skala kabupaten.

Merasakan betapa pentingnya kegiatan tersebut membuat saya berpikir tidak mungkin berhenti atau mundur. Apalagi pengurus lembaga yang mengangkat saya sebagai panitia memiliki harapan yang besar terhadap saya. Dengan dasar tersebut saya mempertahankan semangat yang telah ada.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, saya melakukan beberapa tindakan. Setiap hari saya tidak bosan memanggil panitia untuk ikut rapat dan berpartisipasi dalam kegiatan, memberikan motivasi, dan memberikan penyadaran bahwa lembaga sangat membutuhkan mereka. Hal itu saya lakukan melalui media SMS, telepon, dan bertemu langsung di jurusan mereka. Saya juga meningkatkan kinerja dan mengambil alih beberapa pekerjaan yang terabaikan karena penanggung jawabnya tidak ada misalnya mengantarkan surat, audiensi, dan cek lokasi. Ternyata semua yang saya lakukan tersebut menjadi contoh serta mampu memotivasi dan mengispirasi anggota lembaga dan panitia yang lain sehingga sedikit demi sedikit panitia datang dan menunjukkan kinerja yang baik khususnya pada saat hari H kegiatan. Bahkan ada yang sengaja datang dari kampung walaupun masih libur dan meninggalkan lokasi KKN untuk beberapa hari hanya untuk mengikuti kegiatan ini.

Partisipasi panitia dan anggota lembaga yang lain berdampak pada suksesnya KBI ini. Saya sangat puas dan bersyukur akan hasil yang kami capai tersebut. Apalagi karena beberapa senior mengatakan bahwa sepanjang sejarah KBI, KBI inilah yang paling sukses. Hal ini memang benar jika indikatornya adalah banyaknya agenda kegiatan/event, kemanfaatan, masyarakat sasaran, dan jumlah pelaksana yang hadir.


3. Jika ada, ceritakan pengalaman Anda dalam merintis suatu kegiatan/membuat perubahan. Apa dampak dari tindakan tersebut?

Saya telah beberapa kali ikut dalam merintis kegiatan khususnya sejak mengenyam pendidikan di UNM. Pengalaman yang sangat berkesan adalah pembentukan Ikatan Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Indonesia (ILP2MI). Inisiator sekaligus tuan rumah pembentukan ILP2MI adalah LPM Penalaran UNM. Saya sebagai salah satu pengurus LPM Penalaran sangat aktif pada masa perintisan asosiasi lembaga nasional tersebut dimana pada saat itu saya menjabat sebagai Sekretaris Umum. Banyak tantangan yang kami hadapi, diantaranya dana yang dibutuhkan hingga Rp. 100.000.000, harus menghadirkan pemateri dari Kementerian RI, DIKTI dan LIPI, perwakilan lembaga penelitian mahasiswa se-Indonesia, perwakilan siswa SLTA se-Sulselbar, dan masyarakat umum sebagai peserta seminar.

Kami mengejar beberapa target seperti pemateri nasional, peserta, dana, tempat pelaksanaan, dll. Padahal dana awal yang kami miliki tidak lebih dari Rp. 500.000. Untuk mendapatkan dana yang besar maka kami bekerja lebih keras, saya aktif dalam pencarian sponsor di Makassar dan kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan, meminta dukungan dari pemerintah dan kampus, dan meningkatkan publikasi. Saya mengunjungi kampus-kampus, sekolah-sekolah, dan angkutan umum pada siang dan malam untuk mendapatkan peserta seminar. Aktivitas ini kami lakukan kurang lebih selama enam bulan.

Hasil yang memuaskan karena acara ini berlangsung sukses. Suksesnya acara kami berdampak terhadap pencitraan UNM dan lembaga kami di mata masyarakat, UNM mendapat bantuan dana dari DIKTI, dan terbentuknya ILP2MI. Terbentuknya ILP2MI ini merupakan goal utama yang ingin kami capai. Pada saat itu, LPM Penalaran dipercaya sebagai Sekjen Pertama ILP2MI (setingkat ketua), dan LPM Penalaran mengutus saya untuk mengisi jabatan tersebut. Sekarang ini, ILP2MI telah memasuki tahun kedua; sangat banyak manfaat yang dihasilkan dengan adanya asosiasi lembaga ini. Lembaga penelitian pada perguruan tinggi yang tergabung dalam anggota dapat tukar informasi tentang penelitian dan lomba-lomba, serta bekerja sama dalam pelaksanaan penelitian, publikasi, dan aplikasinya. Dampak lain yang secara pribadi saya rasakan adalah saya dapat mengembangkan diri di ILP2MI.

4. Tindakan apa yang pernah Anda lakukan yang memberikan manfaat bagi orang lain dan paling berkesan bagi Anda? Mengapa Anda melakukan itu?

Saya beberapa kali menjenguk orang sakit, khususnya yang dirujuk dari kampung saya ke Makassar. Tindakan ini memang sangat kecil tetapi tak semua orang dapat melakukannya. Hal ini cukup berarti bagi yang sakit dan keluarganya. Saya pikir demikian karena saya merasakannya ketika saya sakit, yang memiliki semangat untuk sembuh atas jengukan teman-teman. Saya dapat membawakan makanan, menjaganya, mengurus administrasi, dan sebagainya yang saya mampu.

Selain itu, saya juga suka mendonorkan darah secara sukarela di PMI. Saya semakin bersemangat mendonorkan darah setelah tahu dari Pak JK (Ketua Umum PMI) bahwa kita masih kekurangan stok darah. Ini cukup berkesan sebab saya selalu menutup mata di hadapan petugas yang ingin menusuk kulit saya dengan jarum donor yang berdiameter besar. Saya takut untuk disuntik, tapi saya harus melakukannya karena ini tentang memberi manfaat. Saya meyakini bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat buat orang lain dan lingkungannya.

5. Ceritakan satu pengalaman tersulit yang pernah Anda hadapi dan bagaimana Anda melaluinya?

Ketika menjabat sebagai ketua panitia KBI IV, saya diberikan beberapa pilihan yang dilematis. Saat itu, saya dipercayakan menjabat sebagai ketua panitia oleh Pengurus LPM Penalaran, padahal saya saat itu lagi aktif dalam perkuliahan. Beberapa hari dari pengangkatan tersebut, saya dipanggil oleh dosen untuk melanjutkan tugas dari semester sebelumnya sebagai asisten di laboratorium, dipanggil untuk menjadi Presiden Mahasiswa BEM Jurusan oleh banyak senior dan pemilih aktif, dan diundang pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXII di Universitas Brawijaya Malang. Lebih miris lagi, kabar buruk dari kampung bahwa ayah saya sementara sakit dan dirujuk ke rumah sakit di Polewali untuk dioperasi.

Tentunya pilihan yang sangat berat, ketua panitia telah saya terima dengan permasalahan internal yang kacau sebagaimana yang telah saya ceritakan sebelumnya pada pertanyaan nomor dua, sehingga tidak mungkin saya tinggalkan jika ingin kegiatan ini terlaksana. Demikian pula dengan perkuliahan, saya mesti tetap fokus karena itu adalah tujuan utama kuliah. Menjadi asisten adalah hal yang diinginkan oleh sebagian mahasiswa karena diperhatikan lebih oleh pihak kampus, memiliki kesempatan belajar lebih, dan mendapatkan gaji. Demikian pula menjadi presiden BEMJ, merupakan peran yang membuat kita mengembangkan diri lebih baik. Tentu saja saya wajib hadir menemani ayah saya yang sedang sakit jika ingin menjadi anak yang berbakti.

Semuanya pilihan tersebut sangat berat karena terjadi pada waktu yang sama dan semuanya sangat penting dimana selalu ada orang yang memiliki harapan terhadap saya akan pilihan tersebut. Hal ini diperparah karena saya dalam kondisi sakit-sakitan.

Hal yang saya lakukan untuk keluar dari masalah ini adalah berpikir tentang dampak dari pilihan yang saya ambil. Saya shalat istikharah untuk menentukan pilihan dan berdoa agar diberikan bilihan yang baik. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden BEMJ, memberikan kesempatan kepada teman lain menjadi asisten, menolak hadir di PIMNAS, dan tidak menjenguk ayah saya karena setiap saya telepon keluarga, mereka mengatakan saya tak mesti hadir karena semuanya baik-baik saja.

Selain itu, konsekuensi yang saya lakukan karena tetap memilih beberpa pilihan yang lain yaitu saya bekerja lebih keras, menambah waktu kerja dan mengurangi waktu tidur yaitu pukul 03.00-06.00, shalat, berdoa, dan sabar. Begitu saya lakukan terus menerus dengan keyakinan akan ada pertolongan Tuhan. Walaupun beberapa peran saya tolak, saya akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan yakni suksesnya KBI IV, dapat nilai kuliah yang baik, tugas dari dosen selesai, dan ayah saya sembuh dari sakitnya.

Pengalaman lain dalam organisasi yang tak ingin saya lupakan adalah ketika bernegosiasi dengan beberapa UKM penalaran/penelitian pada Kongres II ILP2MI Mei tahun 2011 lalu di Yogyakarta. Mereka adalah UKM yang belum tergabung sebagai anggota ILP2MI, namun mereka diundang sebagai peserta peninjau. Masalahnya ialah sekitar 20-an UKM tersebut menuntut mendapatkan hak bicara dan hak suara sebagaimana anggota ILP2MI yang telah terdaftar sehingga mereka dapat ikut memilih/dipilih sebagai Sekjen II ILP2MI. Saya sebagai Sekjen saat itu dan beberapa pengurus besar lainnya menolak tuntutan tersebut dengan landasan pedoman organisasi.

Pengalaman ini saya anggap sangat sulit karena saya harus berhadapan seorang diri dengan 20-an orang perwakilan lembaga pada suatu loby. Karena mereka dari Unit Kegiatan Mahasiswa bidang penalaran/penelitian sehingga diskusi atau perdebatan cukup alot dan sehat. Saya melaluinya dengan berdiskusi dengan tenang, berusaha mengeluarkan pendapat secara logis, berdasarkan pedoman organisasi, dan menjaga perasaan mereka; sebab bagaimanapun juga kami memang berharap mereka bergabung sebagai anggota. Loby dilakukan hingga tiga kali, satu lembaga walk out, dan dua lembaga belum bersedia menjadi anggota.


6. Sebutkan hal-hal yang mungkin menghalangi Anda untuk menjadi Pengajar Muda dan bagaimana mengatasinya!

  • Lanjut S2! Saya memiliki keinginan untuk mendaftar S2 pada perguruan tinggi di luar negeri atau pada perguruan tinggi ternama di dalam negeri. Hal itu saya upayakan melalui jalur beasiswa. Jika saya mendapatkannya, ini mungkin saja akan menghalangi saya menjadi pengajar muda. 
  • Sakit! Saya biasa sakit ketika kecapaian khususnya pada daerah yang ekstrim seperti daerah yang sangat dingin. Untuk mengatasinya saya akan menyiapkan obat-obatan dan vitamin. Saya juga tidak akan memaksakan untuk bekerja fisik dengan keras. Namun selama ini hal seperti itu saya selalu dengan semangat mengalahkan rasa sakit.
7. Dukungan apa yang Anda harapkan dari IM selama masa penugasan menjadi Pengajar Muda?

Pertama, saya berharap mendapat dukungan penuh dari IM berupa peralatan penunjang pembelajaran khususnya buku-buku pelajaran dan alat dokumentasi walaupun sangat sederhana. Jika memungkinkan koneksi internet dan saya tidak bisa menyediakannya sendiri, maka saya berharap IM dapat membantu melakukan pengadaannya. Hal ini disebabkan karena saya pikir saya akan butuh menulis pada blog pribadi dan mendapatkan informasi dari luar. Hal itu tentunya akan saya dapatkan melalui media internet. Kedua, saya harap IM dapat membantu saya bersosialisasi kepada masyarakat berupa pengurusan administrasi kepada pihak-pihak yang berwenang di daerah penugasan.


8. Jika Anda menjadi Pengajar Muda, apa rencana Anda setelah 1 tahun penugasan?

Melanjutkan studi pada jenjang S2 perguruan tinggi di luar negeri seperti Australia, Jerman, atau USA atau perguruan tinggi ternama di Indonesia adalah cita-cita saya. Saya sangat berharap dapat mewujudkannya setelah satu tahun penugasan sebagai pengajar muda. Hal ini akan membantu saya untuk menjadi tenaga pengajar nantinya. Bahkan saya akan sangat bahagia jika IM dapat membantu saya mewujudkan impian saya itu. Namun jika itu tidak terjadi, saya akan memilih opsi mencari kerja atau berwirausaha yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan buat orang lain.

9. Jelaskan 3 hal yang menjadi kekuatan karakter diri Anda.

  • Bertanggung jawab dimana jika saya memiliki tugas/kewajiban, maka saya akan selalu berusaha untuk menyelesaikannya sesuai kemampuan saya. Saya meyakini bahwa kewajiban ada yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, manusia, dan lingkungan; di dunia dan diakhirat. 
  • Komitmen dimana saya akan berusaha menepati sesuatu yang telah saya terima. Salah satu alasannya ialah karena tak ingin mengecewakan orang lain.  
  • Semangat dimana jika suatu pekerjaan saya tahu dan yakini benar, memberikan manfaat, dan memang saya rasa saya harus mengerjakannya, maka semangat saya akan menjadi tinggi. Bahkan semangat itu mampu membuat berpikir kreatif, bekerja lebih keras, dan mengalahkan kondisi sakit. 

10. Jelaskan 3 hal yang menjadi kelemahan karakter diri Anda.
  • Respon stress yang kadang-kadang negatif. Kadang-kadang ketika saya menemukan masalah yang sangat besar maka saya memberikan respon dengan mimik wajah yang murung dan suka menyendiri. Walaupun saya tetap berusaha menyelesaikan masalah tersebut, hal ini saya sadari sebagai kelemahan karena ini berdampak pada tidak dapatnya saya berinteraksi dengan baik dengan orang sekitar, misalnya saya tak terlalu melayani pembicaraan dengan baik, bahkan bagi yang belum mengenal dengan baik akan dapat menganggap saya orang yang sombong. Akan tetapi kondisi ini tidak berlangsung lama dan saya biasanya menjelaskan kepada orang-orang sekitar. 
  • Pengelolaan beban pikiran yang buruk. Beban pikiran yang dimaksud yaitu beban pikiran tentang kabar buruk yang menimpa keluarga seperti sakit. Kabar buruk tersebut akan menjadi beban pikiran dan kadang-kadang membuat saya tidak dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan yang lain.
  • -
11. Jelaskan mengapa kami harus memilih Anda menjadi Pengajar Muda?

Saya bercita-cita menjadi tenaga pengajar entah itu sebagai dosen ataupun guru. Saya ingin menjadi tenaga pengajar yang baik yakni mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Dengan menjadi tenaga pengajar yang berkualitas, selain dapat mengajar anak didik, saya akan lebih mudah menginspirasi guru-guru di kampung atau daerah saya. Sebab saya mengamati bahwa guru-guru di kampung saya khususnya guru-guru SD masih jauh dari yang diharapkan. Bahkan untuk membuat RPP saja mereka tidak tahu. Faktor pendukung saya sebagai pengajar muda yaitu saya berasal dari kampung sehingga akan mampu beradaptasi dengan kehidupan masyarakat daerah terpencil tempat saya ditugaskan.

12. Ceritakan kepada kami hal lain yang Anda ingin sampaikan tentang diri Anda.

Saya berasal dari Dusun Pasada Desa Botteng Utara Kecamatan Simkep Kab. Mamuju, Sulbar. Saya berasal dari Suku Botteng yaitu suku yang mendiami sebagian daerah pegunungan Mamuju yang terdiri dari ratusan dusun/desa. Masyarakat Botteng masih banyak yang tidak sekolah, karena pola pikir yang primitif. Barulah sekitar 10 tahun lalu masyarakat menyadari pentingnya pendidikan formal sehingga masyarakat berlomba-lomba menyekolahkan anaknya. Khusus di desa saya yaitu Botteng Utara hanya saya dan adik saya yang kuliah dengan “benar” di Makassar. Sekitar lima tahun terakhir sudah banyak orang yang mendapatkan ijasah S1, namun itu didapatkan dari sekolah tinggi di Mamuju dengan membayar biaya ujian, tanpa mengikuti proses kuliah. Ijasah itu digunakan untuk kepentingan pendaftaran pegawai.

Terdapat paragdigma negatif diantara mereka bahwa mereka tak mampu kuliah dengan “benar” karena alasan biaya dan IQ. Mereka sangat menghargai saya sebagai anak daerah yang kuliah di Makassar. Jadi bukan hanya keluarga yang menjadikan saya sebagai harapan, namun juga masyarakat Botteng. Hal ini menjadi salah satu motivasi saya untuk mendapatkan jenjang pendidikan lebih tinggi, ilmu pengetahuan yang dalam, wawasan yang luas, dan pengalaman yang banyak. Saya ingin menjadi inspirasi bagi mereka dan suatu saat saya akan kembali membangun daerah saya. Hal ini juga sering diulang oleh ibu saya bahwa saya harus membangun daerah saya.


13. Jika ada, Anda dipersilahkan untuk meng-upload video diri Anda di youtube dan mohon cantumkan link. 
Post a Comment