Saturday, 8 July 2017

Kejadian tak Terduga Bulan Pertama Kuliah di Adelaide

Dua bulan awal, saya banyak beradaptasi dengan suasana kelas dan sistem perkuliahan; bahkan kayaknya saya agak stress karena kadang tak yakin bisa dapat nilai bagus. ketidak yakinan ini desebabkan oleh kendala bahasa. Padahal IELTS saya sebelum kesini sudah 6.5. Entahlah penguji dulu mungkin salah periksa. Tapi terlepas dari itu, disinilah saya berpikir, wajar beasiswa dan universitas mensyarakatkan IELTS minimal 6.5 untuk sekolah di luar negeri, sebab kurang dari itu bisa-bisa muntaber karena tak ngerti orang bilang apa.

Suasana luar negeri mulai terasa sejak di pesawat, orang-orang sudah mulai berbahasa Inggris, bahkan saya diapit oleh dua orang bule. Tapi bagi saya, "pertanggungjawaban" nilai IELTS ini baru benar-benar mulai saat landing di Adelaide. Saya masuklah di bagian imigrasi, antrilah saya dengan yang lain, dan hal yang tak saya inginkan adalah diwawancarai. Si petugas ngomong lah dia, bla bla bla bla pasport. Dari sekian kata yang dia bilang, hanya ujungnya yang saya dapat, yaitu pasport. Saya kasilah dia pasportku. Ternyata dia terima. Betullah istilah the power of guessing.

Suatu ketika dosen menjelaskan sesuatu di depan kelas. PARAHNYA, saya gak tahu si dosennya bilang apa. Setelah kelas selesai, baru saya tanya teman kelas, “itu dosennya jelasin apa sih tadi?” Jawabnya, jelasin “homework kita”. Toeng, bayangkan, masalah saya bukan hanya pada “apa tugas yang akan saya buat bagus atau tidak”, tapi “apakah saya punya tugas atau tidak”. Kalau saya gak tanya-tanya, bisa jadi orang ngumpul tugas dan saya tidak ngumpulkan apa-apa. Oh iya, disini terlambat ngumpul tugas satu detik aja gak ditolerir.
Belum lagi harus banyak reading. Kalau hyperbol-nya, saya sampai mabok karena reading. Sudah banyak, pakai bahasa asing pula. Terus tugas presentasi juga sering, bahkan kadang si dosen ngundang mahasiswa PhD untuk nonton dan tanya-tanya. Nah, untungnya, paling besar porsi tugas disini adalah writing; dan saya suka menulis.

Jadi, saya realistis aja saat itu. Ketika yang lain ngincar HD (A+), saya ngincar Pass aja, alias lulus. Kalau di Indonesia, P itu kayak C, nilai bagus paling bawah. Di bawahnya C berarti gak lulus. P sudah cukuplah, paling tidak gak gagal, karena kalau gagal, beasiswa terancam.

Pernah dalam hati saya bertanya, siapa suruh kuliah di LN? Tapi kemudian saya jawab sendiri, bukankah kesulitan-kesulitan ini yang dulu saya cari sehingga saya putuskan kuliah di LN. Jika mau lebih mudah, yah gak usah jauh-jauh kesini. Pernyataan-pernyataan memotivasi diri sendiri ini yang membuat saya tak menyerah. Dan lagi pula, pikir saya, saya sudah pernah menjumpai yang lebih sulit dari ini, dan saya melewatinya dengan baik. Bagi saya, kehidupan kuliah S1 saya di Teknik Sipil, dan aktvitas berorganisasi saya di S1 jauh lebih sulit dari kehidupan S2 ini; KECUALI kendala bahasa tentunya.

Tapi benarlah kata teman mahasiswa spikologi, stress itu penting. Karena saya stress, saya belajar giat lagi. Saya rekam suara dosen di kelas, pulang ke unit, saya dengar lagi berulang-ulang. Saya beranikan diri kerja kelompok dengan teman-teman, sampai beberapa kali booking ruangan di kampus hanya untuk diskusi. Bahkan saking niatnya, saya telpon teman di USA, Hillman, penerima beasiswa fullbright, minta tips nulis literature review. Saya latihan presentasi, meskipun di kamar mandi. Pokoknya, kayak banting tulang istilahnya, hingga bisa lebih percaya diri.

Nah dimana kejadian tak terduganya? Tak terduganya adalah alhamdulillah nilai saya sempurna, jauh di atas target Pass tadi.  

Kepercayaan diri adalah kunci utamanya. Nilai IELTS anda bisa 9.0 , tapi itu tak terlalu berguna kalau anda tidak percaya diri. Maka lakukan segalanya untuk memperbaiki diri anda, hingga anda percaya saya pantas percaya diri.
Post a Comment