Thursday, 13 July 2017

Komentator Awam untuk Pembicara Exper

Quraish Shihab* belajar Al-Quran selama 68 tahun, bergelar professor dan doktor dengan tulisannya yang dibaca banyak orang. Tentunya bukan gelar dan karya abal-abal. Beliau menghapal Alquran dan hadist; bisa bicara, menulis dan memahami bahasa Arab.

Hampir sama dengan banyak ustadz yang belajar di pesantren bertahun-tahun, ditambah S1 empat tahun, S2 dua tahun dan S3 empat tahun di bidang ilmu islam. Itu pun kalau tanpa extension. Berbeda, beberapa dari kita belajarnya cuma dua jam seminggu saat sekolah, dua SKS saat kuliah S1, tak pernah lagi saat S2 dan S3. Belajar sholat hanya dari Tuntunan Sholat yang ada bacaan latinnya, mendengar ceramah dari video yang terpotong di youTube, dan membaca tafsir di wordpress dan blogspot. Kalau bingung masalah Islam, andalannya mengetik kata kunci di google search engine. Baca Qurannya pun mungkin masih sering terpeleset padahal tidak ada yang tackle. Beberapa surah pendek dihapal tapi tak paham apa artinya sama sekali.

Tak ada yang salah dengan beberapa orang tersebut, karena pengetahuan bisa berasal dari mana saja. Belajar tidak selalu harus mondok. Mengaji tidak harus menunggu lancar. Dan sebagainya. Yang salah adalah jika hari berganti hari, tapi tak ada peningkatan dalam diri meskipun hanya sedikit.

Bahkan akan ada syukur dari seorang ibu yang anaknya punya hobby memindahtangankan barang orang lain atau yang tak tahan melihat gagang pintu yang bagus karena ingin merusaknya, ketika anaknya itu insaf dan rajin belajar agama meski hanya lewat internet.

Itulah sebabnya dalam kamus ada kata awam dan ulama, expert dan non-expert.

Namun yang sangat menyedihkan adalah jika kaum nonexpert ini jari-jarinya ringan mengetik, lidahnya lincah berucap, dan akunnya rajin men-share dan men-post sesuatu yang mensesatkan, meng-syiah-kan, meng-kafirkan mem-bid'ah-kan dan mem-bully golongan expert tadi. Padahal lebih dari separuh umur mereka telah digunakan untuk belajar agama.

Parahnya lagi mereka yang waktu dan tenaganya dicurahkan untuk aktivitas mem-bully ini. Memutar video berkali-kali hanya untuk mencari bagian yang salah, dipotongnya video itu lalu di-reupload dengan judul yang menggoda, termasuk mencari foto-foto untuk dibuatkan meme bully-an, dan sebagainya.

Buat apa mempublish jika menjadikan bertambah musuh? Buat apa menulis jika pasti membuat orang gusar dan murung? Buat apa melakukan sesuatu jika ragu menambah pahala?

Maka jika menurut kita yang awam ada yang salah dari kaum expert ini, abaikan, bukan disesatkan dan dihinakan. Karena berharap kebaikan dengan melakukan keburukan bagaikan menghidangkan masakan enak dengan piring dan sendok yang kotor.

Setiap orang meskipun ahli di bidangnya bukan berarti tak punya salah sama sekali dalam berpendapat. Tapi bukan pula berarti kesalahan satu dua kali menghapuskan kebaikannya berkali-kali.

Di sisi lain, jika ternyata kita yang salah menilai dan sudah terlanjur menyakiti hati dan menyebar berita salah ke ribuan orang, maka celakalah kita. Bagaimana kita menahan rampasan amal yang sudah sedikit ini di hari akhir nanti.

*Barusan nonton Shihab&Shihab ep.2
Post a Comment