Tuesday, 25 July 2017

Korelasi Sepak Bola dan Ambulance

Pernah saya katakan bahwa sehat sama dengan kaya, sebab ketika sakit, posisi kesehatan dalam list prioritas berada di atas harta kepunyaan, bahkan mungkin dari semua daftar keinginan. Itulah yang saya rasakan ketika sakit di Australia Selatan. Cukup parah dalam ukuran saya, sehingga saat itu saya harus di bawah ke rumah sakit menggunakan dua ambulance. Anehkan? Padahal kalau satu saja cukup, kenapa harus menduakan.

Ceritanya dimulai dari kecapean hingga sakit-sakit "talekang" (istilah di Makassar) dalam beberapa pekan. Misalnya hari ini demam, setelah minum obat dan pakai selimut tebal semalaman, maka besoknya kembali baikan. Dua hari kemudian kepala nyut-nyutan, tapi setelah minum obat penenang saya bisa ke kampus dan ke pengajian lagi, dari subuh hingga petang. Begitu seterusnya hingga akhirnya saya tumbang pada suatu sore di kelas "kepemimpinan dalam pendidikan" sehingga harus pulang sebelum berakhirnya jam pelajaran.

Satu-satunya yang saya tuduh sebagai penyebab habisnya stamina tubuh adalah tingginya intensitas main sepak bola dalam beberapa minggu. Bahkan saya ikut kompetisi resmi Sport on the Green yang diadakan oleh Adelaide University. Kompetisi ini menyadarkan saya bahwa bermain dari siang sampai petang saat summer itu bisa bikin tepar. Meskipun tepar saya juga mungkin karena andil deadline tugas yang yang tak mau menunggu.
 

Saya memang gila kalau tentang sepak bola. Saya akan tetap pergi ke lapangan saat winter meski harus pakai sweater. Kalau bus tak kunjung datang, saya bisa lari ke lapangan. Jika tim Adelaide University tak adakan, saya gabung ke Flinders University sebagai pemain pendatang. Saat tak ada jadwal bermain komunitas Indonesia, saya bisa bermain di tim Australia dan Afrika. Awalnya saya hanya datang menonton mereka, cepat atau lambat saya akan dipanggil karena mereka merasa iba, apalagi jika tak ada yang bersedia menjadi penjaga gawang. Mungkin mereka pikir, ini kok ada orang Asia dengan seragam lengkap berdiri dan pemanasan sendiri, meski diabaikan dia tak peduli.

Itulah mengapa, ketika saya masih mengurus klub sepak bola PPIA Adelaide University, banyak tim yang saya tantang, tapi hanya Malaysia, Vietnam, Oman, China dan Arab Saudi yang datang bertandang. Pernah pula kami ikut kompetisi meski pesertanya cuma empat tim – lumayan karena sudah pasti masuk empat besar. Begitulah semangat tim kami tak pernah surut. Kami lakukan ini berkali-kali meski kami sudah biasa dibantai. Ini menandakan bahwa kami punya kemiripan dengan prestasi timnas belakangan ini. 

Rekam jejakku memang penuh dengan sejarah si kulit bundar. Ketika di kampung, saya dirikan klub Bintang ABG. Saat kuliah, saya menulis di koran "mencetak Lionel Messi Indonesia". Saat di Pulau Gili, saya dikenal di kampung teman di pulau Bawean sebagai pemain bayaran. Kalau saya ketua PSSI atau menteri pemuda dan olahraga, sudah pasti menjayakan sepak bola Indonesia menjadi yang utama.

Nah, saat meninggalkan kelas tadi, saya harus berjalan sekitar 700 meter sepanjang Rundle Mall untuk tiba di tram stop. Pertunjukan artis sepanjang jalan tak lagi saya nikmati. Kemudian saya menunggu dan menumpang kereta listrik itu sekitar 30 menit untuk sampai di Peacok Road, tempat saya memarkir mobil Festiva Trio. Jalan ini adalah salah satu lokasi rahasia parkir gratis, meskipun masih lumayan jauh dari kampus. Daripada parkir di city, dekat tapi harganya bisa lebih 30 Australian dollar sehari. Tapi untuk mendapatkan space di jalan ini, saya biasanya berangkat pukul enam dini hari. Lewat dari waktu itu, maka tak akan ada lagi parkiran gratis.

Sepanjang perjalanan pulang, suhu badan rasanya semakin tinggi. Diperparah jalanan macet dan panas sinar matahari memanggang seisi mobil. Dari cermin, mataku berwarna merah. Saat itu saya berimajinasi bahwa kalau saja ini bulan purnama mungkin saya telah berubah menjadi serigala
biasanya itu yang terjadi di film-film. Tapi satu hal yang saya upayakan, yaitu berusaha agar tidak pingsan sebelum sampai unit, karena kalau tidak, drama sakitnya akan semakin rumit dan panjang.

Setelah lebih sejam perjalanan pulang, akhirnya sampai juga di depan rumah. Mobil pun saya parkir di pinggir jalan karena tak sanggup lagi memarkir di garasi. Saya bergegas menuju lantai dua, mengetuk pintu dengan kerasnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan saya pun bergegas menuju tempat tidur. Saya bilang ke istri "selimuti aku!" – ini terinspirasi dari kisah Nabi Muhammad saw saat menerima wahyu pertama. Kata istri saya "ini sudah pakai selimut dari tadi." Ini benar-benar sudah parah karena saya lupa selimut yang saya sedang pakai. Setelah minum sebutir paracetamol, saya pun membungkus diri berharap segera berkeringat. Biasanya, langkah ini mujarab pada beberapa kali demam selama kuliah di Adelaide. 

Tapi kenyataannya, saya semakin parah sehingga ambulance harus dipanggil dengan bantuan tetangga. Dua ambulance dengan empat crew pun datang dalam beberapa menit. Detik-detik ini penuh drama karena pikiran dan perasaan saya berkaitan dengan kondisi terburuk. Tapi moment ini pun penuh pelajaran, dan insyaallah akan saya tuliskan di lain kesempatan.
Post a Comment