Saturday, 8 July 2017

Cara Mendapatkan LoA (Letter of Acceptance)

Downloaded from The University of Adelaide's Facebook
Berikut adalah delapan pertanyaan penting yang anda harus pikirkan jika ingin kuliah di luar negeri, khususnya di Australia dan Adelaide. Jawaban ini adalah hasil wawancara dengan Ahmadi Usman, Master of Applied Innovation and Entrepreneurship The University of Adelaide 2015-2017, yang juga merupakan Awardee Beasiswa LPDP. Wawancara ini dilakukan dalam rangka seminar online PPIA UoA, 4 Juli 2016.

1. Silahkan perkenalkan diri Anda
Perkenalkan saya Ahmadi. Saya merupakan awardee LPDP PK-33 yang berasal dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Saya sedang mengambil Master of Applied Innovation and Entrepreneurship di the University of Adelaide. Program master saya tidak linear dengan konsentrasi jurusan yang saya ambil yaitu managemen keuangan ketika S1, namun masih erat kaitannya dengan bisnis/managemen studi. Output dari studi master adalah dapat menjadi analis bisnis, konsultan bisnis, manager perusahaan, pengusaha, penasehat pemeritah atau perusahaan, dan akademisi.Awalnya tidak ada pikiran yang terlintas di benak saya untuk berkuliah di luar negeri ketika menginjakkan kaki di bangku universitas. Seiring berjalannya waktu dan saya sudah berada di semester 3, saya bertemu dengan paman yang sudah menempuh S2 di Belanda yang mana beliau merupakan seorang dosen perguruan tinggi negeri di Kota Makassar. Sejak pertemuan itu, saya tertantang dan berniat untuk melanjutkan studi di luar negeri setelah menempuh S1. Harapannya adalah setelah menyelesaikan studi S2 saya di luar negeri, saya dapat menjadi seorang dosen diperguruan tinggi ternama yang ada di Kota Makassar.

Ada beberapa alasan yang memotivasi saya untuk kuliah di luar negeri. Pertama, saya ingin menimba pengetahuan yang lebih mendalam dalam bidang entrepreneurship dan innovation. Kedua, saya inigin membandingkan kualitas pendidikan di negera maju seperti Australia dengan Indonesia. Ketiga, saya ingin melihat budaya kehidupan yang ada di luar negeri.

2. Apa yang anda lakukan untuk bisa studi di luar negeri?
Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk bisa studi di luar negeri diantaranya sebagai berikut:
  • Bergaulah dan ikutilah english meeting club yang ada di kampus anda. Harapannya adalah anda akan terus termotivasi untuk tetap mencapai mimpi anda ketika melihat beberapa teman English meeting club yang berhasil menempuh S2 nya di luar negeri. Dalam kasus saya, saya bergabung dengan English meeting club sejak semester 3. Intinya adalah lebih cepat bergaung dengan English meeting club akan jauh lebih baik. Anda akan memiliki waktu yang panjang untuk mengasah kemampuan bahasa inggris anda.
  • Persiapkan dokumen bahasa inggris anda secepat mungkin. Jika anda sudah paham bahwa persyaratan untuk diterima di kampus menggunakan IELTS/TOEFL IBT, belajarlah IELTS sesegera mungkin. Berdasarkan pengalaman beberapa teman saya, mereka ada yang mengambil IELTS dua atau tiga kali barulah mendapatkan score yang diinginkan. Seperti yang kita pahami bersama bahwa mengambil test ielts tentu menghabiskan dana sebanyak 3 juta rupiah. Olehnya itu, di perlukan persiapan matang untuk mengurangi potensi kegagalan. Dalam kasus saya, saya hanya mengambil test IELTS sekali dan scorenya sesuai yang diharapkan. Namun, saya membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun untuk mencapai score ini.
  • Hadirilah pameran pendidikan yang ada di kota anda untuk mendapatkan informasi yang selengkapnya melalui perwakilan dari setiap universitas.
3. Bagaimana pengalaman anda mendapatkan LoA?
Berdasarkan pengalaman pribadi saya, yang pertama-tama saya lakukan untuk mendapatka LOA adalah mengecek persyaratan bahasa inggris untuk International Students sebagaimana yang ditetapkan pihak universitas. Kampus-kampus di Australia termaksud The University of Adelaide pada umumnya menerima IELTS, namun beberapa dari meraka ada juga yang meminta TOEFL IBT. Pada waktu masih S1, saya berprinsip bahwa tes IELTS terlebih dahulu untuk mendapatkan overall band score 6.5 dimana tidak ada band dibawah 5 dan kemudian memulai mencari LoA unconditional. Dengan bantuan Agen IDP, hanya dalam waktu dua minggu LoA unconditional saya sudah keluar dari pihak kampus. Saya menyarankan tidak mengurus LoA dengan mendaftar sendiri di website kampus karena biasanya proses adminsitrasi berlangsung lama dan dikenakan sejumlah biaya. Hal ini pernah terjadi kepada saya ketika saya mengurus LoA di salah satu universitas di Inggris. Tetapi teman-teman sekalian boleh mencoba mendaftar sendiri jika tidak ingin mengurus LoA melalui jasa agen pendidikan. Semua ada untungnya kok.

4. Mengapa harus studi di Australia?
Teman-teman harus menempu S2 di Australia karena beberapa alasan sebagaimana dikutip dari The Australian Trade Commision sebagai berikut:
  • Ada delapan perguruan tinggi Australia yang digolongkan kedalam 100 universitas terbaik yang ada di dunia ini. 
  • Australia merupakan negara populer tujuan ketiga bagi mahasiswa yang berasal dari berbagai belahan dunia untuk belajar degan total 23 juta mahasiswa.  
  • Jumlah total universitas yang ada di Australia sebanyak 1,100 institusi dengan total program 22,000.  
  • Penduduk lokal Australia sangat terbuka dengan keberagaman sehingga mahasiswa internasional mudah berinteraksi dengan penduduk lokal dan mempelajari kebudayaan mereka.  
  • Lulusan universitas Australia dikenal memiliki kualitas yag baik dibandingkan negara-negara lainnya yang ada di regional Asia Pasifik. Sebagai contoh : Najwa Shihab (Wartawan popular Metro TV), Prof. Dr. Pratikno (Menteri Sekretariat Negara RI 2014-2019) dan Prof. Dr. Boediono (Mantan Wakil Presiden RI 2009-2014).
5. Mengapa harus study di Adelaide dan bukan di kampus lain?
Ada beberapa alasan mengapa harus belajar di the University of Adelaide sebagai berikut:
  • The University of Adelaide adalah anggota dari group of Eight. Group of Eight merupakan kumpulan beberapa universitas di Australia yang memiliki reputasi terkenal dan aktif melakukan sejumlah penelitian bersama dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. 
  • Kota yang paling murah dan nyaman dibandingkan kota-kota lainnya di Australia. Dikutip dari koran lokal “The Advertiser”, Adelaide menempati urutan ke lima sebagai kota yang ternyaman untuk ditinggali. Hal ini berarti sebagai kota ternyaman fasilitas yang ada dikota ini tidak diragukan lagi dari segi mode transportasi dan ketersediaan public space. Selain itu, ditinjau dari segi biaya hidup, harga akomodasi di Adelaid masih terbilang murah dibandingkan kota-kota lainnya di Australia. Untuk kategori single, harga satu ruangan itu berkisar $110-$165 per week. Sementara untuk kategori keluarga, harga satu ruangan berkisar $230-280 per week.  
  • Dikaitkan dengan 5 pemenang hadiah nobel yang diraih pada tahun 1915 (Sir Willliam Henry Bragg), 1945 (Sir Howard Walter Florey), 2003(John M Coetzee), 2005 (Dr. J Robin Warren). 
  • Negara bagian Adelaide dikenal sebagai negara bagian yang memiliki banyak jenis-jenis macam festival setiap bulannya. Dengan keberagaman festival, mahasiswa internasional dapat memelajari keberagaman budaya lokal dan internasional.  
  • The University of Adelaide masuk dalam 1% dari top ranking universitas yang ada di seluruh dunia. Menurut laporan The 2015 QS World University Australian Rankings, peringkat the University of Adelaide adalah 113.
6. Selama anda belajar di The University of Adelaide, apa suka dan tantangan yang ada rasakan? Apa pelajaran berharga yang didapatkan selama studi di The University of Adelaide?
Menjadi student di the University of Adelaide yang tergolong kedalam Group of eight member tentu memiliki suka dan duka tersendiri. Sukanya adalah sebagai group of 8, kualitas dari dosen pengajar tidak diragukan lagi tingkat profesionalisme mereka dalam mengajar. Saya selalu mendapati beberapa dosen yang merupakan praktisi dalam bidang ilmu kepakaran mereka sehingga teori dan praktek dapat mudah dipahami. Para dosen juga memiliki variasi dalam melakukan pengajaran dimana ada yang melakukan pembelajaran audio visual, forum discussion, dan lain-lain. Selain itu, saya terkagum dengan pelayanan staff akademik kampus. Saya pernah mendapatkan masalah mengenai matakuliah yang tidak pernah saya programkan, namun itu tertera dalam list matakuliah yang sedang saya programkan pada semester berjalan. Pada saat itu juga, saya langsung melaporkan masalah tersebut kepada pihak staff akademik kampus. Hanya dalam waktu setenga jam, masalah saya dapat diselesaikan dan mereka memohon maaf atas kesalahan dari pihak kampus. Saya menganggap kesigapan staff akademik kampus dalam melayani setiap persoalan yang dimiliki oleh student nya sangat patut diacumi jempol dibanding dengan pelayanan staff akademik ketika saya masih menempuh S1. Dampak positif lainnya erat kaitannya dengan networking. Kuliah di luar negeri memberikan keuntungan tersendiri kepada anda karena akan bertemu dengan orang Indonesia yang sedang mengambil master dan phd program yang berasal dari berbagai daerah Indonesia. Selain itu, anda juga akan memiliki beberapa kenalan yang berasal dari negara yang berbeda. Terakhir, sejak mulai perkuliahan di the University of Adelaide, saya merasa bahwa saya dilatih untuk berpikir kreatif dan kritis dalam mengerjakan assignment yang diberikan.

Ada sejumlah tantagan yang saya rasakan selama menempuh perkuliahan di the University of Adelaide. Pertama, sistem penilaian yang ditetapkan oleh dosen pegampuh matakuliah lumayan tinggi. Artinya bahwa, untuk mendapat nilai sangat memuaskan, anggaplah high distinction dengan range 85-100 itu sangatlah susah dan pastinya membutuhkan usaha yang ekstra. Umumnya, Indonesian students di the University of Adelaide hanya berlangganan nilai distinction dengan range 75-84, walaupun beberapa dari mereka ada juga yang mendapatkan nilai high distinction. Saya berkesimpulan bahwa persoalan mendapatkan nilai distinction atau high distinction tergantung pada kualitas assignment yang ditulis dan apakah student yang bersangkutan memahami rubrik pertanyaan yang akan dikerjakan. Kedua, tantangan bahasa. Sebagaimana kita ketahui bahwa English bukanlah bahasa ibu orang Indonesia, olehnya itu ada disparitas yang jelas dari kualitas kemampuan penulisan mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa lokal di Australia. Al hasil, apa yang saya lakukan untuk mensiasati kekurangan ini adalah dengan membawa tulisan saya ke writing centre. Cara ini terbilang effektif karena selain tulisan kita akan mendapatkan proofreading namun juga akan mendapatkan beberapa komentar dari si proofreader.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan semenjak studi di the University of Adelaide adalah bahwa orang Indonesia dimanapun asal universitasnya bisa bersaing dengan mahasiswa international lainnya. Dengan catatan bahwa ada motivasi untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik dalam proses perkuliahan. Pelajaran berharga lainnya adalah kerja keras diperlukan dalam menyelesaikan assignment. Hal ini dibuktikan ketika student harus menulis kalimat per kalimat tanpa melakukan plagiarisme dengan menggunakan jalan pintas copy and paste.

7. Apakah anda mengalami culture shock?
Iya. Saya mengalami culture shock ketika pertama kali tiba di Adelaide. Di Indonesia, saya tidak mendapat pengenalan budaya tentang Australia sehingga tidak familiar dengan situasi dan kondisi yang ada. Hal yang berbeda yang saya rasakan adalah tatacara berpakaian mahasiswa ke kampus. Tidak ada regulasi yang jelas bagi mahasiswa postgraduate untuk memakai busana tertentu ketika masuk dalam kelas. Tidak heran ketika teman-teman mendapati mahasiswa Internasional akan memakai sandal ke kampus dan mengenakan celana pendek ataupun baju yang kekurangan bahan pada saat summer. Hal lainnya adalah mahasiswa harus menggunakan bus kekampus jika tinggal cukup jauh dari kampus. Walaupun menggunakan bus ke kampus, jalan kaki merupakan rutinitas yang harus dilakukan setiap hari yang mana cukup berbeda dengan phenomena yang ada di Indonesia.

8. Apa yang perlu dipersiapkan sebelum berkuliah di the University of Adelaide?
Menurut hemat saya, berikut beberapa persiapan penting yang harus dilakukan sebelum memulai perkuliahan di the University of Adelaide.

Pastikan anda memiliki kemampuan penulisan akademik di atas rata-rata yang sudah diasah dari Indonesia. Menulis assignment merupakan rutinitas yang akan dilakukan oleh mahasiswa postgraduate setiap semesternya. Saya pernah mendengar statement dari seorang teman bahwa lebih baik tidak bisa speaking dalam mengikuti perkuliahan dari pada tidak bisa menulis assignment.

Sebelum memulai perkuliahan, mulailah mencari tahu matakuliah yang akan dipelajari ketika masih di Indonesia. Strategi ini akan membuat anda familiar dengan course yang akan diajarkan sehingga tidak kelabakan pada saat memulai perkuliahan dan dapat berinteraksi di dalam kelas. Di the University of Adelaide, course outline sangat membantu mahasiswa untuk memahami tujuan dari course yang diajarkan dan bagaimana setiap assignment akan dinilai oleh dosen pengampuh. Singkatnya, course outline berfungsi sebagai panduan untuk bisa lulus pada mata kuliah yang diprogramkan.

Berpikir kritis adalah sebuah keterampilan mutlak harus dimiliki calon mahasiswa postgraduate. Konsep ini harus dimunculkan dalam setiap assignment yang dikerjakan oleh mahasiswa postgraduate. Pada umumnya mahasiswa yang memunculkan konsep berpikir kritis akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Olehnya itu, teman-teman yang berniat mengambil master program sangat direkomendasikan untuk mendalami dan memahami penerapan konsep berpikir kritis sebelum memulai perkuliahan. Untuk memahami konsep berpikir kritis, silakan di buka link berikut ini: www.criticalthinking.org/pages/becoming-a-critic-of-your-thinking/478.

Saya merekomendasikan buku yang berjudul “Doing Essays & Assignments” yang mana ditulis oleh Pete Greasley. Buku ini memaparkan hal-hal yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan dalam menulis assignments. Menurut pengalaman saya, buku ini sangat membantu karena saya tidak mendapatkan informasi mengenai bagaimana mengerjakan sebuah assignment ketika masih di Indonesia.

9. Apa perbedaan master by coursework dan master by research?
Master by coursework dan master by research adalah dua jenis master yang berbeda. Master by coursework adalah master yang mana progranmya mewajibkan students mengambil courses tanpa ada komponen research didalamnya. Namun, dibeberapa kampus master by coursework ditawarkan dalam bentuk 75% perkuliahan dan 25% komponen research dimana harus menulis minor thesis. Olehnya itu sangat penting, mengecek apakah program yang ditawarkan memungkinkan penulisan research. Mengapa demikian, menulis thesis ketika S2 membuka peluang lebar untuk melanjutkan Phd kedepannya. Sementara itu, master by research didefiniskan sebagai master yang programnya berupa research tanpa ada kegiatan mengajar di kelas. Al hasil, selama kurang lebih 1-2 tahun program master by research hanya dipergunakan untuk penulisan research. Di the University of Adelaide, mahasiswa Indonesia diberikan pilihan: mau mengambil master by coursework 100% atau master by coursework combination dan semuanya tergantung passion individu yang bersangkutan.
Post a Comment