Thursday, 13 July 2017

Pergi Tarwih Dikasi Nasi

Seorang Arab, pengelola buka puasa-bersama di Flinders University sudah menawari nasi kepada banyak orang sejak selesai buka puasa, tapi tidak ada yang mau ambil. Akhirnya dia simpan saja di atas meja.

Pada saat selesai rakaat empat shalat tarwih, saya pindah tempat. Kebetulan ada shaf kosong disamping kiri orang Arab tadi. Tiba-tiba dia nepuk lutut saya, dan menawari nasi.

Saya bingung, ini nasi apa maksudnya. Ditengah-tengah tarwih harusnya fokus shalat dia malah cerita nasi. Saya memang tidak ngerti karena memang tadi tidak buka puasa di kampus.

Ternyata, dari tadi dia pusing lihat nasi yang banyak itu. Dia pusing karena katanya ini haram kalau dibuang. Makanya dari tadi kerjanya cuma nawari orang nasi.

Awalnya saya bilang saya sudah punya nasi di unit, jadi saya bilang tidak usah. Coba ada ayamnya, pasti saya langsung mau.

Namun karena dia terlihat begitu pusing dengan alasan tadi, sampai-sampai dahinya berkerut banyak, akhirnya saya terima tawarannya. Senangnya dia bukan kepalang. Selesai sudah beban hidupnya.

Beberapa orang yang telah dia tawari sebelumnya bahkan ikut senang.

Mereka nanya "mas yang ambil nasi ini?" 

Saya jawab "iya".

Terus respon mereka "mantaaaaaapppp👍"

Saya tanya balik "kamu mau?"

Jawabnya "nggak...nggaak"

Saya bilang "tapi ini kebanyakan. Lama-lama saya bikin pesantren karena punya banyak nasi."

Begitulah niat saya mau jadi pahlawan penyelamat nasi. Tapi kata istri saya saat selesai tarwih, beras kami sudah mau habis. Yah, ternyata saya memang butuh nasi ini. Tapi saya merenung lagi, ini bisa habis dalam dua minggu, atau bahkan sampai back for good. Untungnya musim dingin nasi tidak cepat basi, paling mengeras dan mengering.

Cerita ini mengingatkan kampung saya. Disana, masih ada orang yang untuk nasi saja mereka tidak punya, benar-benar tidak punya. Sedangkan disaat ini, saya dan banyak orang lainnya punya kelebihan nasi. Dan sebagian orang mungkin tidak menghabiskan nasi yang mereka miliki. Sungguh bikin pilu.

Ini juga membuat saya berpikir, bagusnya di Indonesia, banyak target untuk bersedekah. Tidak perlu resah jika kelebihan beras. Banyak orang yang butuh dikasihi, minimal dengan sesuap nasi...
Post a Comment