Wednesday, 12 July 2017

Supervisor dan Sujiwo Tejo


Pertama-tama, ini kisah nyata dimana beberapa hari yang lalu, saya menghadap dosen pembimbing disertasi-ku di the University of Adelaide. Saya ingin berdiskusi tentang hasil penelitian yang sedang saya kerjakan. Anehnya, kami tak berdiskusi secara spesifik tentang isi disertasi karena dia malahan bertanya tentang agama, diantaranya are you religious? how does it change your life? dan is your religion useful for you? 

Awalnya saya frustasi, ini ujian atau sekedar basa-basi. Dalam sepersekian detik saya berpikir, ini ngefek tidak sama nilai akhir. Saya kan kuliah cari nilai, bukan cari terasi. Loh, kok terasi? Sengaja, supaya berakhiran “i”. 

Parahnya, saya tidak bisa membaca pikirannya apalagi menghipnotisnya. Maka mau tidak mau, saya harus menjawab dan memberikan pendapat. Kalau perlu, saya akan pura-pura jadi ustad, minimal cara batuknya. Untungnya saya sedikit tahu karena pernah berguru. Saya kan juga mantan santri, dari pesantren kilat tingkat SD se-desa Salletto dan Desa Botteng, dulu. 

Saya pun menjawabnya begini “benar, saya beragama, yaitu Islam. Dan tentu saja Islam sangat bermanfaat dalam hidupku. Karena saya beragama maka saya berusaha untuk berbuat baik kepada orang lain dan lingkungan, minimal tidak berbuat kerusakan. Islam percaya orang yang paling bermanfaat kepada sesama itulah orang yang terbaik.”

Sempat dalam hati bertanya, apakah saya benar-benar telah berbuat baik? Mungkin. Ah tidak, sepertinya belum. Pertanyaan sang dosen kok jadi bikin introspeksi. Tapi meskipun belum, paling tidak saya tahu dan berusaha menerapkan prinsip ini. Demikianlah saya menasehati diri sendiri.

Karena sang dosen mengangguk, entah mengerti atau mengantuk, jawaban pun saya lanjut. Saya bilang: “kami percaya bahwa kita semua akan hidup setelah mati, dan kehidupan itu yang kekal abadi. Tapi penentu kita selamat dan bahagia di kehidupan itu adalah bagaimana di dunia ini berperilaku. Perbuatan baik dan buruk akan dicatat meski kecil, lalu dibalas dengan perhitungan yang adil. Perilaku baik bukan hanya ibadah seperti sholat dan mengaji, tapi juga yang nampak biasa seperti berinteraksi. Maka detik ini pun denganmu saya berdiskusi dan berkonsultasi tentang disertasi, saya berharap dan yakin dicatatnya sebagai prestasi, untuk bekal setelah mati.”

Setelah mendengar tanggapannya, sampailah saya pada jawaban manfaat dari agama. Saya sampaikan bahwa “saya akan putus asa tanpa agama, neraka dan surga. Kalaupun semua yang saya cita-citakan telah saya punya, terus selanjutnya apa jika saya tak percaya? Tak ada. Tanpa agama, semua itu jadi sia-sia jika saya tiada. Maka menurut saya, agama adalah satu-satunya yang membuat apa yang saya lakukan berguna.”

Belakangan saya tahu, sang dosen juga sedang membimbing mahasiswa PhD yang membahas pengaruh agama terhadap pendidikan seseorang. Mungkin saat itu dia ingin mendengar pendapat saya tentang topik ini. Dosen-dosen disini memang punya respek yang tinggi kepada mahasiswa, meskipun yang berceloteh ilmu dan umurnya masih muda. Pendapat asli akan selalu mereka hargai. Mudah-mudahan saja yang saya jelaskan kepadanya memang begitu kebenarannya, soalnya saya juga bukan ahlinya, hanya saja ditodong untuk berkomentar.

Secara pribadi, pertemuan ini membuat saya berpendapat bahwa agama mungkin tidak menjadikan manusia sempurna tanpa dosa, tapi semestinya dapat membuat kita menjadi lebih baik dan menebar kebaikan, sebagai bekal di hari kemudian.

---

Pada cerita yang lain, dalam sebuah forum besar di tahun 2015 saya pernah ditanya oleh Sujiwo Tejo, sang dalang kondang yang sering tampil di televisi. Ini juga kisah nyata, kalaupun ada bumbunya, itu tak seberapa dan tidak akan merubah rasa.

Dengan suara keras dari podium beliau bertanya sambil menunjuk saya “kamu NU atau Muhammadiyah?”

“Saya Islam, pak” jawab saya spontan.

Seratusan lebih orang saat itu tertawa karena Pak Sujiwo Tejo berekspresi terhina. Tapi semua tahu kalau itu hanyalah akting belaka. Lalu tawa kembali pecah saat beliau menanggapi jawaban saya dengan nada tegas “kamu kira saya bukan Islam?”

“Kan bercanda, pak” kata saya. Jawaban ini malah membuat peserta kembali tertawa, kali ini termasuk Pak Sujiwo Tejo.

Saya memang tak bermaksud bercanda. Adapun alasan orang-orang tertawa mungkin karena sebelumnya pak Sujiwo Tejo “mempermainkan” salah seorang teman kami dalam sesi tanya jawab. Kalau tidak salah ingat, dia dari bagian timur Indonesia seperti saya. Saat sang teman protes ke pak Sujiwo Tejo, dia malah mendapat jawaban singkat “kan bercanda”, membuat kami semua tertawa. Jawaban saya tadi pun bagaikan "menyerangnya" dengan jurus ciptaannya sendiri. Tapi Anda bisa bayangkan, betapa hangatnya pertemuan itu.

Bukan keinginan untuk melawak meski senang mendengar awardee LPDP tertawa terbahak. Saya serius berdasarkan keterbatasan pengetahuan saya saat itu bahwa saya bukan anggota organisasi Muhammadiyah ataupun NU. Tapi saya punya banyak teman dari keduanya, termasuk belajar dari ustad-ustad Muhammadiyah dan NU di Adelaide, serta dari organisasi lainnya. Kedepan mungkin saya akan bergabung salah satunya, atau keduanya kalau boleh.

Saya berpikir, Pak Sujiwo Tejo mungkin bertanya seperti itu karena ada sebagian orang yang pergaulannya diikat oleh organisasi. Jangankan dalam konteks yang umum, organisasi dalam satu agama pun masih dijadikan batasan. Tak mau belajar disana karena gurunya berasal dari organisasi seberang; tak mau ikut forum itu karena berbeda dengan forum kami; dan sebagainya. Yang lebih miris, kakak-adik bisa saling memaki hanya karena beda partai.


Saya pribadi berpendapat bahwa jika kita bisa belajar darimana pun dan dengan siapa pun, mengapa harus mempersempit dunia dan sumber pengetahuan. Hal ini bukan berarti bebas sebebas-bebasnya karena bisa belajar dimana dan dengan siapa saja bukan berarti otomatis menerima segalanya. Jika seseorang atau komunitas nampaknya baik-baik saja, tak bermasalah dan tak ada kegilaan disana, maka silahkan belajar bersama, meskipun kita berbeda. 

Tapi jika sebaliknya, apa boleh buat, mungkin menjauh lebih bagus, tanpa harus berdoa agar mereka mampus. Karena besok bisa jadi mereka berakhir lebih baik dengan dosa yang terhapus. Tindakan ini mungkin akan membuat badan tak menjadi kurus dan menandakan hati tak tandus. Organisasi itu kecil, maka kenapa harus diikat oleh lingkungan yang kecil. Kita itu lebih besar dari sebuah organisasi, kata Ustad Sukendar pada sebuah pengajian di hari Sabtu. 

Saya berterima kasih kepada Sujiwo Tejo yang dulu melibatkanku dalam sebuah percakapan singkat, yang membuatku memikirkannya hingga sekarang. Walaupun saya tahu, pemikiran saya mungkin masih mengambang.  



Post a Comment