Thursday, 27 July 2017

Teruslah Berdoa (Sebuah Refleksi Diri)

Saya percaya bahwa ada waktu-waktu mustajab untuk meminta kepada Allah. Tapi secara personal, ada dua waktu yang membuat saya sangat khusu’ dalam berdoa, yaitu pada detik-detik menjelang berbuka puasa dan pada detik-detik setelah men-submit tugas kuliah.

Pada saat ingin berbuka puasa, saya sangat kelaparan dan kehausan. Ini wajar karena puasa adalah menahan lapar dan haus – kalau tidak lapar dan tidak haus, apanya yang mau ditahan.


Lapar dan haus yang tak tertahankan secara otomatis membuat saya loyo, lemah, lesu, lunglai dan merasa tak berdaya di hadapan Tuhan. Kelemahan ini membuat saya semakin meresapi kekuasaanNya atas ketakberdayaanku. Bawaannya terasa dianiya, padahal tak ada yang menganiaya. Apalagi kalau berdiri paling belakang di antrian panjang nan berkelok-kelok buka puasa bersama di kampus. Doanya semakin khusu’ tuh, was-was dan berharap tak kehabisan nasi biriyani dan paha ayam.

Emang adakah waktu kita tak meresapi kekuasaan Tuhan dalam berdoa? Kalau saya iya. Saya bandingkan berdoa setelah sholat di kampus menjelang perkuliahan, atau berdoa di masjid yang disinggahi dalam perjalanan – sekalian buang air kecil tentunya. Rasanya lebih buru-buru karena takut ketinggalan bus.

Nah dalam penghayatan ketidakberdayaan diri dan pengakuan akan kebesaran Tuhan ini, saya meminta apa yang saya mau sambil dikombinasikan dengan doa berbuka puasa. Setelah doanya selesai, saya tak langsung makan sebelum adanya azan magrib.

Nah, waktu yang kedua adalah setelah submit assignment. Pada waktu ini, tingkat kepasrahan saya berkali-kali lipat meningkat, apalagi kalau yang saya submit tugas akhir yang porsinya lima puluh persen. Sebelum submit, usaha saya dibilang cukup keras, misalnya mengkombinasikan desktop dan laptop, satu screen menampilkan tiga layar (office word, journal pdf, internet browser), kerja kelompok, konsultasi dosen, baca jurnal, mabuk di bus, tak sempat main bola, minum paracetamol, dan konsumsi vitamin D gara-gara lama tak kena sinar matahari.

Tapi setelah tugas dikumpul, tak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Perasaan berkata semoga assignment yang saya kirim itu bagus. Kalau tidak bagus, siapa tau dosennya khilaf dan salah kasi nilai. Pernah terjadi saya mendapatkan nilai 24 dari 20 (nilai maksimal). Setelah melapor ke dosen, akhirnya dirubah menjadi 19.

Saya berpikir, saat pasrah, disitulah kita sadar betul bahwa pada akhirnya yang menentukan segalanya adalah Tuhan. Usaha kita yang begitu besar hanya akan berhasil dan bernilai oleh Allah yang maha besar. Tapi ajaibnya, saat hati merasa diri tak berdaya dimana egosentrisme diri berada pada titik terendah, pada saat bersamaan saya yakin bahwa Tuhan melihat saya, mendengar apa yang saya katakan, tahu yang terbaik buat saya, dan akan memberikan pertolonganNya, cepat atau lambat.

Hal ini penting sebab meskipun Tuhan senantiasa mengamati, mendengar dan menolong kita, tak selamanya kita sadar akan campur tangan Tuhan atas diri kita.

Maka berdoalah ketika Anda merasa dalam keadaan tak berdaya, apalagi dalam perasaan teraniaya. Meski pada hakekatnya, kita mesti terus berdoa dalam kondisi apapun, dan pada waktu kapanpun. Sebab kita adalah mahluk yang butuh doa sebagaimana kita butuh udara untuk bernafas. 

Sekaligus yakinlah bahwa doa Anda akan dikabulkan; bagaikan yakinnya seorang anak yang ikut jamaah sholat istisqo sambil membawa payung, seorang pelajar yang telah membuat paspor saat nilai IELTS nya belum mencapai enam, seorang pemuda yang melamar calon istri meski belum punya kerjaan, atau pasangan yang menyiapkan nama untuk anak mereka yang belum lahir. Toh, yakin juga tidak dipungut biaya sama sekali.


***
 
Alhamdulillah, berdasarkan tiga alat test di atas, satu lagi munajat saya dan istri dijabah oleh Allah SWT. 

Dan meski perjalanan janin ini masih panjang, saya putuskan mem-publish tulisan singkat ini dengan niat memberikan manfaat meski sedikit. Paling tidak, bisa mengingatkan kita semua untuk tidak berhenti berdoa. Mungkin dengan ini pula doaku diaminkan melalui lidah dan hati para pembaca, "semoga kesehatan dan kebaikan senantiasa menyertai calon bayi kami dan ibunya."

Terima kasih kepada keluarga yang ikut meminta dalam diam, serta teman-teman yang bertanya sekaligus mendoakan.

“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.”

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. al-Furqon: 74).
Post a Comment