Sunday, 20 August 2017

Perbandingan untuk Perubahan


Postingan ini adalah yang pertama di wahyuddinmy.com sejak selesai studi di Adelaide, dimana saya akan mengutarakan sebuah perbandingan kecil antara Adelaide dan kampung saya, yang mungkin saja juga terjadi di kampung lain di Indonesia. Nggak durian to durian dong? Yah lihat dulu lah.

Eits, jangan salah paham dengan perbandingan. Perbandingan memang bukan hal yang positif, tetapi sangat positif. Makanya ada namanya studi banding, pakai biaya yang sangat mahal pula. Dan dalam dunia pedagogy, comparing and contrast bahkan ditempatkan pada top level dari kemampuan critical thinking siswa. Saya bilang ini sebelum ada yang berkata, ini baru juga pulang kuliah sudah sok-sok membanding-bandingkan. Yang salah adalah kalau ada orang yang membandingkan hanya untuk mengeluh dan menjelek-jelekkan.

Membandingkan adalah bagian dari belajar dan usaha menuju peningkatan. Mereka yang tidak pandai membandingkan akan galau dan tak pandai mengambil keputusan. Kepala daerah yang sukses di Indonesia misalnya adalah mereka yang cerdas dalam ilmu perbandingan, berdasarkan dalamnya pengetahuan, luasnya pengalaman dan kepekaan perasaan mereka.

Maka dari itu, jangan alergi perbandingan, termasuk perbandingan antara keadaan yang dulu dengan yang sekarang. Hal ini juga berarti “jangan terima apa adanya”. Sedikit dikaitkan dengan dunia asmara, buat para mblo, kalau ada calon istri bilang terima aku apa adanya, maka tinggalkan saja dia. Masa kalau dia tak tahu masak harus diterima apa adanya? Tak bisa ngaji harus diterima apa adanya? NO…

Tapi bukan berarti anda harus mencari yang sempurna, sebab yang sempurna hanya ada di surga. Menunggu yang sempurna berarti siap menjadi mblo sejati nan abadi. Lagi pula kitanya juga tak sempurna inginnya yang sempurna.

Tapi saran saya, jika boleh, carilah calon yang track record nya baik. Contohnya awardee LPDP yang track record-nya tak perlu dipertanyakan. Kalau dalam skala Makassar, cobalah survei anak-anak LPM Penalaran UNM, mereka 50-an yang diseleksi dari 700-an peserta setiap tahun, yang tes masuknya lebih sulit dari tes SBMPTN. Saya saja lulus setelah mendaftar dua kali. Niat banget, kan?

Kalau pembaca punya rekomendasi tempat para kandidat pasangat hidup yang baik, silahkan direkomendasikan, kali aja berguna bagi para teman-teman mblo.

Menemukan calon dengan track record mumpuni mungkin tak terlalu mudah. Nah, kalau begitu, indicator lain adalah carilah calon yang suka belajar. Karena pernikahan adalah belajar bersama sepanjang hayat untuk hidup sempurna di surga kelak – kalau masuk surga. Misalnya begini, dia mungkin saja tidak biasa sedekah, tapi dia mau belajar berbagi. Dia mungkin tak bisa masak, tapi dia mau belajar memasak. Dan sebagainya. Tapi supaya adil, anda pun harus siap belajar.

Kemudian carilah calon yang mau sama Anda. Karena penyebab utama terjadinya mblo adalah Anda menyukai orang yang tak menyukai Anda. Dan disaat yang lain, Anda tidak menyukai orang yang tulus menyukai Anda. Dan yang parah adalah Anda menyimpulkan bahwa si-dia tak menyukaimu sebelum Anda menanyainya. Separah Anda tak peka bahwa ada seseorang yang dekat diam-diam mencintai Anda.

Lah tulisan ini malah bicara tentang cinta. Mohon maaf saudara-saudara, ini karena selama dua minggu di Makassar pergaulan saya banyakan bersama junior-junior mblo di Penalaran dan mereka kadang bicara tips mendapatkan pasangan, khususnya cara disukai oleh orang yang tidak menyukai kita padahal kita menyukainya. Entahlah, apa karena mereka mengetahui saya dulu sebagai seorang playboy religious, atau karena sukses menjalani hidup sebagai mblo idealis dan biologis. Saya tak mau menjelaskan yang mana yang benar, keduanya benar atau salah, karena terlalu panjang untuk dikisahkan. Tapi serius, mengenai tips itu, mungkin akan saya jelaskan di tulisan atau video saya yang lain.

Dan mengenai perbandingan yang tadinya ingin saya tuliskan, akan saya post di lain kesempatan.



Post a Comment